Sudah setengah jalan setiap regu melewati jalur penjelahahan. Ada yang telah mendapatkan lebih dari 5 bendera, ada juga yang baru hanya mendapatkan 1 bahkan tidak sama sekali. Tergantung pada kecepatan dan ketelitian setiap anggota regu yang mengamati. Seperti halnya regu 2, setelah menempuh setengah perjalanan yang dijelahahi, mereka pun kini sudah berhasil mengumpulkan sekitar 4 bendera yang dipegang langsung oleh ketua regunya. Romeo yang kebetulan ditunjuk sebagai ketua oleh pemandu regu pun hanya memiliki tugas untuk memegang dan menjaga benderanya saja agar tidak hilang apalagi sampai rusak. Mengingat benderanya terbuat dari bahan yang mudah robek, maka para ketua pun bertugas untuk mengamankan benderanya dari apa-apa saja yang berpotensi membuat benderanya sampai robek.
Sementara itu, para anggota lainnya diharuskan bersikeras mencari sisa bendera yang masih harus mereka kumpulkan demi memperbanyak jumlah totalnya nanti. Hingga pada saat Tria menemukan satu bendera baru tersempil di dahan pohon, ia pun sigap berupaya untuk mengambil bendera tersebut meskipun harus melompat-lompat terlebih dahulu demi agar ia bisa menjangkau benderanya guna menambah jumlah yang sudah ada.
"Ya ampun, kenapa panitia naro benderanya harus di tempat setinggi ini sih. Masa iya gue mesti manjat dulu biar bisa keraih. Lagian, gak mungkin juga gue tinggal. Nanti dibawa sama regu lain bisa rugi regu gue," gerutunya melenguh. Kemudian, ia pun menghentikan aksi loncat-loncatnya sembari mencari sejenis tongkat agar ia bisa meraih bendera tersebut dari atas dahan sana.
"Duh, gak ada kayu atau apa gitu? Kan lumayan biar bisa gue pake buat ngejangkau benderanya."
Sampai tak lama kemudian, seseorang datang menghampirinya. "Cari apa?" tanya orang itu yang seketika membuat Tria spontan menoleh.
Lalu, ketika Tria menemukan wajah ganteng tapi menyebalkan milik si ketua senat yang reseknya minta ditabok, dalam sekejap Tria pun mengembuskan napas kasar. Setelah mengetahui siapa yang menegurnya barusan, kini Tria pun sedang memutar bola matanya sembari tak menunjukkan minat untuk sekadar menyahuti pertanyaan yang dilontarkannya sesaat lalu.
Mengabaikan keberadaan si kakak tingkat menyebalkan, Tria lantas melanjutkan aksi meloncat-loncatnya dengan satu tangan yang berusaha untuk menggapai-gapai demi meraih bendera di atas dahan tersebut. Hingga ketika Mahesa melihat ke arah dahan, barulah dia sadar jika ternyata, gadis itu sedang berusaha keras untuk mengambil bendera yang tersemat di dahan pohon sana.
"Perlu bantuan?" tanya Mahesa kembali.
Sigap, Tria pun menoleh sejenak seraya berkata, "Gak perlu. Gue bisa sendiri kok tanpa lo kasih bantuan juga!" tandasnya menolak. Kemudian, Mahesa pun manggut-manggut seakan mempercayai kalimat sang gadis yang dirasanya begitu tak memungkinkan.
Lantas, selagi melihat kegigihan Tria yang terus mencoba meraih bendera di atas sana. Mahesa pun terus mengamatinya saja dengan kedua tangan terlipat di d**a. Akan tetapi, tiba-tiba saja Tria pun harus terjatuh ketika sedang melompat-lompat di dekat pohon tersebut.
"Aduh!" seru Tria memekik. Meraba pergelangan kakinya yang terasa begitu ngilu akibat barusan tersentak tanah dan jatuh terkilir dalam posisi duduk dengan kedua kaki terlipat tak nyaman.
Secepat kilat, Mahesa pun berjongkok di sebelah Tria. Memeriksa bagian pergelangan kakinya yang masih diraba erat oleh sang gadis di tengah mulutnya yang meringis-ringis kesakitan.
"Sakit?" tanya Mahesa kali ini. Memperhatikan ekspresi wajah Tria yang begitu kentara di tengah rasa ngilunya.
Belum sempat Tria menjawab, Mahesa pun lantas beranjak dari posisinya. Meninggalkan sang gadis yang saat ini masih setia dalam pose jatuhnya dan mencoba untuk berdiri meski ia tahu rasanya begitu sulit dan menyakitkan.
"Aw!" pekiknya lagi ketika memaksakan berdiri. Lalu di detik itu juga, Mahesa tampak kembali dan menyentuh lengan Tria yang seketika membuat si pemilik lengan menoleh cepat sekaligus mendapati lagi wajah Mahesa yang berekspresi datar.
Ketika Tria melihat gerakan Mahesa seolah hendak menggendongnya, dengan cepat Tria pun berseru, "Eeh, mau ngapain lo?"
Sejenak, Mahesa pun menatap Tria lagi di tengah desahan pelannya. "Bawa lo balik ke tenda lah, emangnya apa lagi?" sahutnya memutar bola mata.
"Ke tenda? Mana bisa! Gue kan harus lanjut cari bendera sama anak-anak yang lain."
"Dalam kondisi kaki terkilir? Lo pikir itu bakal mudah?" lontar Mahesa tak habis pikir. Dalam hatinya, Mahesa pun sempat merutuk dan tidak mengerti tentang kenapa gadis di hadapannya sangat keras kepala sekali. Ketika kakinya sedang terkilir, dia justru malah mau melanjutkan penjelajahannya.
"Gue usahain! Lagian, gue gak bisa kembali ke tenda gitu aja. Apa jadinya sama regu ini kalo anggotanya kurang satu. Nanti bisa-bisa, regu kita kalah lagi karena kurang personel buat kumpulin benderanya. Enggak, enggak! Gue gak mau bikin kecewa anak-anak lainnya. Untuk itu, gue harus tetap lanjut biarpun kaki gue abis terkilir," cetus Tria mengotot. Membuat Mahesa merasa gemas bercampur geram karena sang gadis tidak mau mendengarkannya sama sekali.
"Emang lo bisa jalan?" tanya Mahesa kemudian.
Untuk sesaat, membuat Tria hanya terdiam sembari mengerjap-kerjapkan matanya. Jujur saja, pergelangan kaki Tria sangatlah sakit meski tidak digunakan untuk berjalan. Lalu, apa yang akan terjadi jika dia memaksakan diri untuk tetap berjalan. Tapi jika tidak melanjutkan perjalanannya, Tria pun tidak mau kalau sampai regunya mengalami kekalahan hanya karena ketidakhadirannya. Lagipula, Tria bisa mengusahakan diri untuk jalan pelan-pelan. Tria yakin, dengan semangatnya yang tinggi dan keinginannya yang besar, Tria pasti bisa berjalan lagi seiring dengan bergulirnya waktu.
"Kenapa diem?" lontar Mahesa lagi menatap.
Kali ini, Tria pun mengangkat wajahnya dan bertekad memberikan jawabannya dengan mantap, "Bisa kok! Lo belum tau aja kalo gue masih bisa jalan meski kaki abis terkilir. Nih, liat ya!"
Tria sudah siap melangkahkan kakinya, tapi belum sempat ia menggerakkannya lebih lanjut, gadis itu bahkan sudah menjerit kesakitan tatkala rasa ngilu semakin menjalar. Sontak, membuat Mahesa menatap kaget dan dengan cepat ia pun meraih tubuh Tria yang nyaris limbung seandainya tak segera ditangkapnya di waktu yang tepat.
"Udah gue duga, gak seharusnya gue percaya sama ucapan lo! Udah, gak usah banyak ngebantah lagi. Sekali gue bilang kita balik ke tenda, ya pokoknya lo harus balik ke tenda bareng sama gue. Paham?" tutur Mahesa final. Kemudian dengan sigap ia pun melanjutkan niatannya tadi yang sempat terhenti.
Sementara itu, Tria yang tak bisa berkutik lagi pun hanya mampu membungkam mulutnya saja di tengah si kakak tingkat yang mulai menggendong tubuhnya ala bridal. Seakan takut terjatuh dari gendongan kakak tingkatnya, Tria pun sampai harus mengalungkan kedua tangannya di batang leher Mahesa. Lalu, cowok itu pun mulai mengayunkan kedua kakinya dengan mengambil jalan pintas yang sudah ia ketahui jalurnya. Meninggalkan rute penjelajahan setelah sebelumnya ia sempat berunding terlebih dahulu bersama dengan Regivo selaku pemandu regu 2 yang satunya lagi.
Namun berhubung Regivo akan selalu mematuhi perkataan si ketua senat, maka dengan mudah Mahesa pun mendapat persetujuan dari rekan penanggungjawabnya tersebut. Dengan begitu, kini Mahesa pun sudah mengarahkan langkah kakinya menelusuri jalan yang mudah ditempuh dengan tubuh ramping Tria di dalam gendongannya.