bc

I Love You, Mr. Copet

book_age16+
5
IKUTI
1K
BACA
stalker
arrogant
badboy
boss
comedy
campus
first love
friendship
crime
like
intro-logo
Uraian

"Aku memang seorang pencopet. Tapi, apa aku salah kalau aku mencintaimu, Aruna?"

• Gray •

Bagaimana cara mengatakan kejujuran tanpa meninggalkan duka?

Adalah Gray, seorang lelaki mantan narapidana, yang memiliki hobi aneh, yaitu mencopet. Hidupnya yang sebelumnya berjalan dengan benar, tetapi kini hancur lebur setelah bertemu dengan Aruna, hingga sampai Gray jatuh cinta kepada gadis itu.

Lalu bagaimana dengan Aruna? Mungkinkah ia akan menerima cinta Gray setelah tahu jika lelaki itu adalah seorang pencopet? Apalagi, sejak ia tahu jika selama ini Gray telah membohonginya.

Akankah rasa kecewa Aruna terhadap Gray akan berubah menjadi cinta?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1 - Copet Berkelas
“Pemirsa. Tercatat sepekan terakhir di kota Jakarta, rentetan kasus kriminalitas cukup meningkat. Mulai dari kasus pencurian, p*********n hingga sampai pembunuhan. Dengan rentetan peristiwa itu, Kombespol Satya selaku Bareskrimum Polda Metro Jaya Jakarta mengimbau warga untuk tetap waspada.” TV News, 2019 ****** Sebuah mobil angkutan kota berwarna biru terparkir di depan gerbang Lembaga Pemasyarakatan Kota Jakarta—tepat di bawah trotoar. Biru duduk di kursi kemudi, menunggu dengan sabar seraya mengganti siaran berita menjadi siaran musik kesukaan pada radio mobil. Di sekitar, masih ramai oleh orang berlalu-lalang, juga hiruk pikuk kendaraan yang mengular sudah menjadi santapan di pagi hari bagi semua orang. Tidak jarang, tawa dan canda dalam barisan orang-orang juga memenuhi trotoar. Hari ini merupakan hari kebebasan untuk orang yang sedang Biru tunggu sekarang. Seseorang yang akan keluar dari gerbang hitam itu, gerbang yang layaknya seperti portal menuju ke dunia lain. Sebuah gedung Lapas yang sangat besar dan megah, yang mungkin bisa menampung ribuan para penjahat. Biru bergedik ngeri, tidak bisa membayangkan tinggal di dalam sana selama dua tahun bersama para penjahat itu. Bisa gila, pikirnya. Tampak seorang lelaki yang ditaksir usianya 22 tahun keluar dari pintu Lapas menuju gerbang. Lelaki itu digiring oleh salah satu petugas layaknya anjing liar. Dibentak saat jalannya lambat, dicegah ketika jalannya terlalu cepat. Namun, lelaki itu tidak peduli. Manik matanya sudah girang saat melihat gerbang hitam yang sebentar lagi akan dilaluinya. “Cepat pergi!” Petugas Lapas mendorongnya keluar gerbang dan melemparkan ransel ke trotoar. Kemudian, kembali menutup pintu gerbang rapat-rapat. Lelaki itu tercenung di depan pintu dengan raut wajah yang penuh dengan suka cita. Ia menoleh ke belakang. Entah kenapa berat rasanya menatap ke depan. Ia pun mengambil ranselnya yang lusuh, kemudian memejamkan mata. “Aku bebas,” gumamnya sambil tersenyum riang. Setelah itu, menarik napas, lalu membuka kembali mata bersamaan dengan embusan yang panjang. “Woy!” tegur Biru, “kalau kelamaan berdiri di sana, bisa-bisa kamu dimasukin lagi ke dalam!” Lelaki itu menoleh. Senyumnya kian lebar saat menemukan orang yang sangat dikenali sedang berdiri di samping sebuah angkot. Ia tahu betul siapa pemilik mobil berwarna biru itu, yang tidak lain adalah kakak ipar Biru. Ia langsung menghampiri sahabatnya itu dan menghambur memeluk lelaki yang mengenakan jaket berwarna biru. Mereka pun berpelukan. Layaknya Teletubbies, erat sekali. “Dua tahun?” tanya Biru seraya melepas pelukan. “Dua tahun, lima bulan,” jawab lelaki itu. “Pantas saja kamu jadi tampak lebih tua, Gray! Lihat saja rambutmu sudah nggak berwarna abu-abu lagi!” “Sialan! Mana bisa aku mengecat rambut keceku ini selama di lapas. Kamu lihat saja! Sesampainya di rumah nanti, aku akan langsung mengecat rambutku ini jadi abu-abu seperti biasanya.” Biru terbahak. “Dua tahun, lima bulan, kamu jadi lebih pintar ngomong sekarang.” “Asal kamu tahu, ya? Aku belajar banyak dari preman, perampok, p*******a. Aish … kosa kata mereka benar-benar kotor dan menjijikan sekali. Nanti aku akan mengajarimu, Monyet!” “Jaga mulutmu, Gray!” Biru menepuk punggung Gray. “Semoga nggak butuh waktu dua tahun untuk membiasakan diri dengan lingkungan yang baru. Ayo!” Biru membukakan pintu mobil.  “Abangmu nggak narik?” tanya Gray. “Demi menjemput kamu, dia rela nggak narik seharian katanya.” Biru terkekeh.  Gray mendesah ringan. “Ah … pasti dia ada maunya, makannya bersikap seperti itu.” Ia sudah duduk di kursi depan sambil memangku ranselnya. Biru tergelak. “Tapi, asal kamu tahu? Si gendut itu sekarang menjadi kurus, karena terus memikirkanmu selama berada di lapas.” “Oh, ya? Bagus kalau dia sekarang sudah menjadi kurus.” Gray terkekeh. Pintu mobil ditutup. Kanan dan kiri bergantian. Mesin mobil dinyalakan. Angkutan kota itu meninggalkan Lapas, menyemburkan asap hitam halus yang kemudian menyatu dengan udara kota Jakarta. Gray memejamkan mata, menikmati udara kebebasan.  ***** Jakarta kota yang padat, hingga membuat laju mobil mereka saat ini tersendat-sendat. Tidak lama kemudian, terdengar suara klakson yang saling bersahut-sahutan. Macet menjebak keduanya di depan, dan menghadang jalan mereka di belakang. Gray tidak peduli, sebab kondisi seperti ini sudah dilalui sebelum ia masuk penjara.  “COPEEETT! TOLOOONG!” Gray menoleh saat terdengar suara pekikan dari seorang ibu-ibu bertubuh gembul di pinggir jalan. Wanita itu tampak begitu glamour dengan berbagai aksesoris berlapis emas yang dikenakan, serta wajah yang tampak begitu panik. Tidak heran jika wanita itu kecopetan. Hei, jangan salahkan para pencopetnya! Salahkan saja wanita itu, yang berpenampilan terlalu berlebihan. Yang tentu saja akan mengundang para pencopet itu datang menghampirinya. Gray pun tidak peduli itu. Sebab, jalan ini bukan wilayah kekuasaannya. Akan menjadi berbeda jika jalan ini adalah wilayah kekuasaannya. “Apa setelah keluar dari penjara, hobi mencopetmu sudah hilang, Gray?” tanya Biru yang juga melihat situasi di luar sana. Ia juga tidak memedulikan wanita bertubuh gembul itu. Gray membalikkan tubuh, menatap Biru. Ia menggeleng. “Mencopet adalah hobiku. Dua tahun ini aku nggak bisa nyopet, karena nggak ada yang bisa dicopet di Lapas. Para penjahat itu semuanya kere-kere. Jadi, besok kamu harus membantuku buat mencopet. Oke?”  “Astaga! Aku kira kamu akan kapok dan tobat setelah masuk penjara karena mencopet.” Gray kembali menggeleng. “Copet berkelas sepertiku nggak mungkin kapok, Ru. Aku anggap yang kemarin itu sebagai kegagalanku yang tertunda,” tuturnya. Biru tergelak. “Dasar orang gila!” ledeknya. “Woy! Kamu juga pencopet sama kayak aku. Waktu itu, aku lagi apes, makannya cuma aku yang ditangkap polisi. Jadi, kamu juga orang gila. Dasar, Monyet!” Biru berdehem, “Monyet?” Gray menyenggih. “Eh, maaf. Udah jadi kebiasaan.” Ia menggaruk kepala, merasa tidak enak sendiri dengan omongannya. “Wah … parah. Cara bicaramu jadi aneh gitu gara-gara bergaul sama penjahat di penjara. Aku harap kamu nggak ngomong kayak gitu di depan nenekmu nanti.” Mobil mereka mulai melaju sedang setelah beberapa saat tadi berjalan merangkak. Sekilas, Gray melihat sebuah truk besar yang terguling di sampingnya. Kini, ia baru menyadari jika kecelakaan itulah yang menjadi penyebab dari kemacetan yang menggila ini.  “Ru, tolong berhenti di mini market sana. Aku haus. Sepertinya, aku juga harus berhutang dulu. Dua tahun di penjara, aku sudah lupa baunya uang,” ucap Gray dengan segala kepahitan di wajahnya. “Makannya, cari kerja, dong! Jangan kerjaannya nyopet melulu,” kata Biru yang tidak sadar jika ucapannya itu merupakan cerminan dirinya sendiri. Membuat Gray mencibir. ****** Triiinggg …. Suara lonceng mini market berbunyi saat Gray melangkah ke luar. Tangannya membuka botol yang dibawa, lalu menenggak air mineral dingin yang telah dibeli dari hasil hutangnya kepada Biru. Rasa segar yang menjalar di kerongkongan, membuat Gray terus meneguk hingga berhasil menghabiskan setengah dari air di dalam botol tersebut. Ia menutup kembali botol. Kemudian, menoleh ke belakang. Melalui pintu kaca yang transparan, ia menemukan Biru yang masih betah mencari sesuatu di dalam mini market tersebut. Gray melangkah ke samping. Lalu, menyandarkan punggung pada dinding kaca mini market yang juga transparan. Netranya mulai menjelajah ke arah sekitar jalan yang masih ramai sambil menunggu Biru yang entah kapan akan keluar.  “Ya, sebentar lagi aku sampai. Aku lagi di mini market.” Pandangan Gray menoleh ke arah pintu dan menemukan seorang gadis yang baru saja keluar dari mini market. Gadis itu tampak menenteng sebuah tas berwarna kuning dan juga telepon genggam yang ditempel di telinga. Matanya terus memperhatikan punggung gadis itu yang terus berjalan menuju ke sebuah mobil sedan yang terparkir tepat di depan mobil angkotnya yang tampak menyedihkan. Hingga sampai ia melihat gadis itu bertabrakan dengan seorang lelaki berpakaian serba hitam—yang sialnya—sangat mencurigakan. "AARRGGHH …COPEEET! TOLOOONG …." "b******k!" Gray mengumpat saat lelaki yang menabrak gadis itu ternyata adalah seorang pencopet. Lelaki itu berhasil merampas tas dan berlari kencang. Meninggalkan gadis itu yang saat ini berjongkok dengan tubuh bergetar ketakutan. Kali ini, Gray tidak bisa hanya tinggal diam saja. Sebab, jalan ini merupakan wilayah kekuasaannya. Di mana rumahnya hanya berjarak beberapa meter saja di depan. Baginya, tidak boleh ada pencopet lain selain dirinya maupun Biru di wilayah jalan ini. Gray langsung mengambil langkah seribu untuk bisa mengejar pencopet itu. Ia terus mengutuk karena jalan trotoar ini begitu sepi. Padahal, biasanya banyak sekali orang-orang yang melintasi. Matanya terus fokus menatap punggung di hadapannya yang saat ini melompati sebuah pagar pembatas. Gray pun dengan gesit melompati pagar pembatas di samping tubuhnya, di balik pagar itu adalah sebuah taman kompleks yang sepi. Kaki Gray berhasil mendarat, menjejaki sebuah halaman berumput. Kemudian, kembali berlari dengan kecepatan maksimal untuk mengejar orang itu. “WOY! BERHENTI!" Tangan Gray terkepal ketika orang di depannya terus saja berlari tanpa menghiraukan perkataannya. Ia kian mempercepat laju lari dengan tangan yang terulur ke arah baju orang itu saat jarak mereka sudah cukup dekat. Dan …. Bruuukkk  Gray berhasil menarik tengkuk kerah baju, hingga membuat lelaki kurus itu tersungkur di atas tanah. Namun, orang berkulit sawo matang itu bergegas bangkit dengan menggenggam erat tas hasil copetannya. “Kembalikan tas itu!” pinta Gray ketus. Lelaki itu menatap Gray sinis. “Langkahi dulu mayatku!” ucapnya yang terdengar mengejek. “Berhenti bermain-main, Anjing! Cepat, berikan tas itu!”. “Tidak semudah kamu membalikkan telapak tanganmu!" Gray menegang. Seperti rantai tak kasat mata yang membelenggunga. Dadanya mendadak terasa panas oleh kobaran api kemarahannya. Ia mengepalkan kedua tangannya. Sementara lelaki itu perlahan mendekat ke arah Gray dengan terus menyeringai. Dan …. Buuugghhhh Sebuah pukulan keras menghantam wajah Gray tiba-tiba. Membuatnya tersungkur ke tanah. Denyut sakit yang menjalar ngilu di sekitar wajah tidak dihiraukan olehnya. Ia berdecih ketika lelaki berambut cepak itu menghampiri dan meremas kerah bajunya.  “Ternyata kamu nggak sehebat yang aku bayangkan!” sungut lelaki itu. Gray menggeram. Dengan cepat Gray membenturkan kepalanya ke arah kepala lelaki itu dengan cukup keras hingga mundur beberapa langkah dan merintih kesakitan. Tanpa buang waktu, Gray mengarahkan sebuah pukulan ke arah wajah orang itu ketika lengah. Bertubi-tubi dan tanpa ampun. Kini, bibir Gray pun terangkat ke atas ketika melihat si kurus itu merintih kesakitan dan tidak berkutik. “Sekarang, kamu sudah tahu kehebatan pukulanku, kan?” Gray tersenyum mengejek. Setelah puas, Gray berjalan ke samping tubuh lelaki itu dan memungut tas yang cukup bermerk di atas tanah. "Jangan pernah nyopet di wilayah ini lagi! Karena wilayah ini punyaku. Mengerti?" peringat Gray untuk terakhir kali di depan wajah lelaki itu sebelum pergi meninggalkannya. "Lain kali hati-hati. Di sini banyak copet berkeliaran. Termasuk aku." Gray memberikan tas kepada gadis itu yang masih berada di depan mini market. Sementara gadis itu tersenyum senang. Gray seperti bisa melihat seluruh tubuh gadis itu yang ikut tersenyum. Mata gadis itu berbinar dan melonjak kegirangan hingga sampai ingin memeluknya. Namun, entah kenapa ia merasa kecewa saat gadis berambut panjang, wajah putih bersih, bibir tipis dan hidung mancung itu urung melakukannya. “Terima kasih banyak, ya. Tapi, kening kamu berdarah. Kamu nggak apa-apa, kan? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?” pinta gadis itu yang terdengar begitu khawatir. Tiba-tiba saja, ia beranjak maju seraya mengusap kening Gray. Membuat kedua wajah mereka berdekatan. Seperti sumbu yang tersulut, Gray langsung gelagapan. Bagi Gray yang baru merasakan hentakan luar biasa di dadanya ini, ia langsung kesulitan mengatur napas. Sungguh, Gray tidak tahu kenapa tubuhnya seketika membeku serta debaran jantungnya yang menggila hanya karena mendapat tatapan intens yang melumpuhkannya itu. “Eh, a-aku nggak apa-apa, kok,” ungkap Gray kikuk. Ia memilih untuk mundur beberapa langkah ke belakang untuk menghindari tatapan itu. Bisa-bisa, Gray mati berdiri nanti, pikirnya. “Kamu yakin nggak apa-apa?” Gray mengangguk. Sekilas, ia menoleh ke samping dan menemukan Biru yang sedang berdiri di depan mini market. Lelaki itu tampak tertawa mengejeknya. Gray menggerutu kesal. Lihat saja, kamu akan mati di tanganku nanti, Biru! “Ini aku kasih kartu namaku saja, ya. Kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku.” Gadis itu merogoh tas dan memberikan kartu namanya kepada Gray. “Oh, ya. Namaku Aruna. Nama kamu siapa?” tanyanya. Gray menerima kartu nama itu. Lalu menggenggamnya erat demi mengontrol degup jantungnya yang menggila. “G-Gray,” beritahunya kemudian.  “Gray? Abu-abu?”  Gray mengangguk kikuk. Sementara Aruna tersenyum lebar. “Kenapa nama kita sama-sama berasal dari warna? Aku Aruna yang berarti kuning keemasan,” terangnya merasa takjub sendiri. “Kenapa senyumnya bisa semanis itu, sih?” Gray tidak tahu apakah dirinya yang berubah menjadi pemalu. Hanya karena melihat senyum itu, kenapa jantungnya terus saja berdetak tidak keruan seperti ini? Hingga Gray tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk membalas ucapan gadis itu. Aruna menilik arloji di pergelangan tangannya. Kemudian, menatap Gray yang berdiri kaku di hadapannya. “Aku harus pergi sekarang, Gray. Hubungi aku kalau kamu harus pergi ke rumah sakit, ya?” pamitnya. Yang hanya dianggukan oleh Gray. Sepanjang langkah Aruna menuju ke mobil, Gray tersenyum. Ia mengaku dalam hatinya. Jika Gray menyukai Aruna. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Ya, Gray mengerti benar hal itu. Bagaimana kewalahannya menenangkan diri tadi. Itu sudah lebih cukup untuk menjadi bukti.  Sekuat itulah sebuah perasaan tercipta. Tanpa harus diupayakan ada. Juga tanpa  memandang harta dan tahta. Karena cinta itu buta. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Revenge

read
35.5K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Beautiful Pain

read
13.6K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
33.9K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook