BAB 3 — Detik yang Hilang

517 Kata
Andra menatap gadis itu dalam diam. Matanya masih sama seperti kemarin — Tenang. Dalam. Tapi menyimpan badai yang tak terlihat. Gadis itu berdiri di antara jam-jam tua yang bisu. Namun anehnya... suara detik tetap terdengar, seolah datang dari udara itu sendiri. Tapi Andra tak peduli pada keanehan itu. Yang membuatnya tak bisa berpaling... > ...adalah namanya. > “Nara…” Ia menyebutnya tanpa sadar. Tanpa ragu. Seolah nama itu tertulis di urat nadinya — Terpatri di detik-detik hidup yang tak ia ingat. Gadis itu tersenyum. Tipis. Bukan karena bahagia. Tapi karena lega. > “Jadi kau masih ingat,” bisiknya. “Setidaknya, sebagian.” --- Andra melangkah perlahan. Langkah demi langkah, ruangan itu terasa menyempit. Padahal tadi—ia merasa seperti berjalan dalam kekosongan tak berbatas. > “Siapa kamu...?” “Dan kenapa... aku merasa pernah kehilanganmu?” Pertanyaan itu keluar lirih. Tapi denting waktu justru terhenti. Seolah dunia ikut menunggu jawabannya. Nara menatapnya — dengan tatapan seseorang yang pernah menangis terlalu lama. > “Karena kau memang pernah kehilanganku...” “Sama seperti aku kehilanganmu.” “Berkali-kali.” --- Kilasan itu datang lagi. Tajam. Menusuk. > Jam pasir yang meneteskan darah. Cermin yang pecah, memantulkan bayangan yang bukan miliknya. Tangannya — menggenggam serpihan waktu. Dan Nara... berdiri di tengah jam-jam rusak, memohon padanya untuk tinggal. Tapi ia... > Pergi. Lagi. --- Andra terhuyung. Kepalanya berdengung. Nafasnya kacau. > “Kenapa aku gak ingat semuanya...?” “Kenapa terasa nyata... tapi samar seperti mimpi yang dicuri?” Nara menoleh ke arah rak kayu. Di sana—sebuah jam tua berdiri sendirian. Jarumnya bergerak mundur. Dan di balik kacanya... bukan angka. Tapi simbol yang berdenyut. Hidup. > “Karena waktumu belum utuh,” ucap Nara. “Ingatanmu tersebar di antara detik yang hilang.” “Dunia ini... bukan yang pertama. Kau pernah mengulangnya.” “Bukan sekali. Tapi... berkali-kali.” --- Andra terdiam. Bumi di bawahnya seperti goyah. Udara menipis. Seolah gravitasi... tak tahu lagi harus menarik ke mana. > “Aku... mengulang waktu?” Nara mengangguk perlahan. Nafasnya berat, tapi nadanya tetap tenang. > “Kau adalah Detik Terakhir, Andra.” “Penjaga batas antara waktu dan kehancuran.” “Tapi kau sendiri... sudah mulai retak.” --- Cermin di dinding tiba-tiba bergetar. Andra menoleh... dan tubuhnya membeku. Dalam pantulan itu—ia melihat dirinya sendiri. Tapi bukan sepenuhnya dirinya. > Matanya berwarna perak. Kulitnya retak seperti porselen yang terabaikan. Dan di belakangnya... Nara berdarah. Terluka. Tapi tersenyum. Andra mundur. Tapi bayangannya tetap menatap lurus. Seolah menyimpan sesuatu yang ia tak berani tahu. > “Aku bukan manusia biasa…” Itu bukan pertanyaan. Itu kesadaran yang menampar. --- Nara mengangguk pelan. > “Tapi kau juga belum sepenuhnya bangun.” “Saat waktumu benar-benar habis…” “Segalanya akan kembali ke awal.” “Atau... tidak pernah ada sama sekali.” Andra menelan ludah. Jantungnya berdetak—tapi bukan karena cemas. > Tapi karena takut. Takut pada jawaban. Takut pada kenyataan. > Takut... bahwa dirinya sendiri adalah bencana yang sedang ditahan. “Jika aku benar-benar penjaga waktu…” “Kenapa aku... malah ingin berhenti?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN