Langit di luar kelabu—bukan kelabu biasa. Awan-awan tampak menggumpal seperti tinta hitam yang tumpah di atas kanvas langit. Cahaya matahari tertahan. Dunia seperti ditolak oleh terang.
Jendela kantor Andra berembun, padahal belum tengah hari. Udara dingin. Sunyi. Hampir tak ada suara—kecuali satu.
> Bip... bip...
Jam digital di dinding berkedip pelan.
10:47.
Tapi detiknya... tersendat.
Seolah waktu sedang ragu melangkah.
Andra duduk terpaku di depan komputer. Tangannya bergerak mengetik laporan magang. Tapi pikirannya?
Jauh. Tersesat.
Bayangan itu kembali.
Mata gadis itu.
Gadis dari toko jam tua di lantai dasar.
Matanya tak sekadar indah—mereka mengenalnya.
Bukan seperti orang asing. Tapi seperti seseorang yang pernah melihat Andra menangis. Tertawa.
Hancur.
> "Kau adalah detik terakhir..."
Bisikan itu lagi. Suara yang ia dengar di mimpinya.
Lembut... tapi menghantam seperti petir sunyi.
Andra memejamkan mata. Tapi justru muncul kilasan baru:
Jam pasir raksasa. Meneteskan darah merah tua.
Bayangan tangan-tangan panjang menarik tubuhnya ke ruang gelap.
Dan cermin.
Cermin tanpa pantulan.
Tanpa masa lalu.
---
Andra berdiri mendadak. Napas memburu.
Ia tak peduli lagi soal bos, laporan, atau jam kerja.
Ada dorongan dalam dirinya—keras, mendesak, dan tak bisa ditolak.
Ia harus kembali ke toko itu.
Sekarang.
Tangannya mendorong pintu tangga darurat. Lorong itu gelap dan sepi. Lampunya berkedip pelan—seolah menyembunyikan sesuatu di balik tiap langkah.
Hingga akhirnya…
Ia sampai.
Toko jam itu masih ada.
Tapi kini—
> Tirainya tertutup setengah.
Etalasenya berdebu.
Dan pintunya… terbuka sedikit.
Andra terdiam.
Ada yang menarik dari dalam.
Bukan rasa penasaran. Tapi seperti... kehilangan.
Seolah ada bagian dirinya tertinggal di sana.
Dengan hati-hati, ia dorong pintu kayu itu.
> Ting!
Lonceng kecil berdenting.
Udara dingin menyambut—tapi ini dingin yang asing.
Dingin yang terasa... tua.
---
Di dalam, puluhan jam tua tergantung di dinding.
Jam kayu. Jam logam. Arloji antik.
Tapi semuanya...
Diam.
Hening yang terlalu hidup.
Seolah waktu... sedang menunggu.
> "Kau datang lebih cepat dari yang kuduga."
Andra tersentak. Suara itu datang dari balik rak kayu tinggi.
Dan di sanalah dia—gadis itu.
Tapi kini, tak lagi berseragam toko.
Ia mengenakan gaun panjang hitam. Rambutnya dikepang longgar.
Dan matanya...
> Masih sama.
Tenang. Dalam.
Penuh rahasia dan kehilangan.
> "Kau... tidak mengingatku, ya?"
Andra ingin bilang “tidak.” Tapi lidahnya kelu.
Dadanya berat. Jantungnya berdetak seperti terbalik.
Ada yang bangkit dalam dirinya.
Rindu yang tak tahu dari mana datangnya.
> "Siapa... kamu?" bisiknya lirih.
Gadis itu menatapnya dalam. Senyumnya tipis. Tapi getir.
> "Kau pernah berjanji padaku, Andra."
"Saat dunia mulai retak… kau akan kembali."
"Dan sekarang... lihatlah. Waktu sudah mulai pecah."
---
Tiba-tiba—
> TIK... TAK... TIK... TAK...
Semua jam di ruangan itu berdetak serempak.
Suaranya membentur udara, seperti dentang perang waktu.
Andra menunduk. Kepalanya berat.
Ada sesuatu... yang mulai pecah dalam dirinya.
Kenangan yang tak pernah ia miliki. Tapi sangat ia rindukan.
Ia mundur. Tapi tak bisa pergi.
Langkahnya berat. Napasnya berat.
Di matanya, gadis itu bukan lagi asing.
Di dadanya... detik-detik lama mulai berdetak lagi.
> "Kalau waktu benar-benar mulai retak…"
"Apa artinya aku tak punya cukup waktu... untuk mengingatmu?"
---
Jam-jam berdetak semakin cepat.
TIKTAK—TIKTAK—TIKTAK—
Dan lalu...
Diam.
Sekaligus.
Seolah dunia menahan napas.
> Sunyi.
Lalu...
> “Satu gerakan lagi... dan waktu akan runtuh.”