Tiga hari telah berlalu di dunia baru. Tiga hari tanpa waktu, tanpa tekanan, tanpa suara detik yang menakutkan. Andra dan Nara hidup sederhana. Mereka berkebun, membangun rumah kecil dari kayu cahaya, dan duduk tiap sore di bawah pohon besar yang mereka namai "Penjaga Detik." Semuanya nyaris sempurna. Terlalu sempurna.
Dan seperti semua hal yang terlalu sempurna, sesuatu mulai berubah.
Pagi itu, ketika Andra berjalan ke sungai untuk mengambil air, ia melihatnya. Jejak kaki. Bukan jejak dirinya. Bukan jejak Nara.
Jejak itu basah, dalam, dan mengarah ke timur—ke bagian dunia yang belum mereka bentuk.
Andra diam cukup lama sebelum menyusuri arah jejak itu. Setiap langkah membawanya ke daerah yang lebih asing. Rumput belum tumbuh sempurna. Udara terasa dingin. Dan jauh di ujung tanah kosong... ada sesuatu berdiri.
Bukan manusia. Bukan makhluk. Tapi semacam... lubang. Retakan kecil di udara, menganga seperti luka.
"Andra!" suara Nara memanggil dari belakang. Ia menyusul dengan napas terengah. "Kamu lihat juga, kan?"
Andra menunjuk lubang itu. "Itu... bukan bagian dari kita."
Retakan itu bersinar merah samar. Warna yang tidak pernah mereka gunakan sejak dunia baru ini terbentuk. Warna yang berasal dari masa lalu.
> [Fragmen Null terdeteksi. Pemulihan otomatis aktif. Prioritas: Keseimbangan Dimensi.]
Suara sistem muncul—padahal seharusnya sistem telah mati. Tidak ada protokol. Tidak ada aturan. Tapi kenyataannya… tidak semua telah lenyap.
"Ini artinya… sisa dari dunia lama masih tertinggal," bisik Nara. "Dan mereka... mencari jalan kembali."
---
Hari itu, mereka duduk di bawah pohon Penjaga Detik. Langit tetap cerah, tapi udara tidak lagi terasa damai.
Andra membuka percakapan. "Kalau lubang itu adalah sisa Null… mungkin bukan hanya dia yang tersisa."
Nara memeluk lututnya. "Maksudmu...?"
"Kita bukan satu-satunya yang hidup di dunia lama. Ada orang-orang. Jiwa-jiwa. Fragmen yang mungkin tidak sempat menyatu."
"Mereka bisa masuk ke sini?"
"Kalau Null bisa, mereka juga bisa."
Diam. Dunia baru ini terlalu muda untuk konflik. Tapi terlalu rapuh untuk menolaknya.
---
Malam hari, Andra bermimpi. Ia berdiri di depan jam pasir besar—bukan yang dulu, tapi versi rusak. Butir pasirnya tidak jatuh. Tapi di dalamnya... ada wajah-wajah. Wajah-wajah yang ia kenal: temannya, ibunya, bahkan musuh-musuhnya.
Mereka tidak bicara. Hanya menatap. Dengan ekspresi yang sama:
> "Kenapa kamu meninggalkan kami?"
Andra terbangun dengan keringat dingin. Dan ketika ia menoleh ke jendela, retakan merah itu... lebih besar dari kemarin.
---
"Kita harus bicara dengan mereka," kata Nara esok paginya.
Andra ragu. "Bagaimana kalau mereka ingin mengulang waktu lagi?"
"Maka kita harus tunjukkan bahwa dunia baru ini... bukan tentang pengulangan. Tapi tentang memulai."
Andra mengangguk pelan. Ia tahu risiko itu ada. Tapi ia juga tahu: menciptakan dunia tanpa menerima yang lama, hanya akan membuat dunia itu kosong.
---
Mereka mendekati retakan. Cahaya merahnya berdenyut. Lalu, seperti tirai ditarik, sebuah celah terbuka. Bukan lubang, tapi pintu.
Dan dari balik pintu itu... muncul seseorang.
Perempuan. Rambut pendek. Mata kelam.
"...Ira?" suara Andra tercekat.
Ira, sahabatnya di dunia lama. Yang pernah berjuang bersamanya. Yang ia kira sudah lenyap.
Ira menatapnya lama. "Jadi ini tempatmu lari, ya? Dunia buatan. Dunia tanpa kami."
"Ini bukan pelarian," jawab Andra pelan. "Ini... kesempatan kedua."
"Tanpa kami? Tanpa yang lain?"
Nara maju. "Kita tidak menolak siapa pun. Tapi kalian harus datang bukan sebagai fragmen. Bukan sebagai pengulangan. Tapi sebagai... awal baru."
Ira tertawa kecil. Pahit. "Mudah untuk kalian bicara. Kalian punya cinta. Kalian punya harapan. Kami? Kami hanya punya sisa."
Andra menatap mata Ira. "Kalau begitu... biar aku bantu kalian masuk. Biar kita mulai dari nol, bersama."
Retakan itu membesar. Dan dari sana, satu per satu, muncul wajah-wajah lain. Mereka yang tertinggal. Mereka yang terlupakan.
Dunia baru ini tidak akan lagi milik dua orang. Tapi milik semua yang siap melepaskan masa lalu.
Langit bergemuruh.
Tapi kali ini bukan karena kehancuran. Melainkan... penyambutan.
> [Dunia Baru Diperluas. Protokol Pilihan Diri Aktif. Semua entitas yang memilih, akan membentuk realitasnya sendiri.]
Dan Andra tahu.
Dunia ini baru benar-benar dimulai.