Dunia baru meluas. Rumput tumbuh hingga ke ujung cakrawala, langit berubah warna mengikuti emosi kolektif penghuninya, dan rumah-rumah sederhana mulai muncul dari kehendak mereka yang tinggal.
Tapi di antara semua itu, ada satu ruang kosong yang tidak bisa diisi. Sebuah tanah datar di tengah hamparan hijau, yang menolak semua bentuk. Tak bisa ditanami, tak bisa disinari, tak bisa disentuh.
"Apa itu?" tanya Ira suatu pagi, saat ia dan Andra berdiri di tepi tanah kosong itu.
Andra menggeleng. "Aku tidak tahu. Sejak kalian masuk, tempat ini muncul. Tapi aku merasa... sesuatu dikunci di sana."
Nara mendekat. "Mungkin bukan tempat. Mungkin waktu."
Andra menoleh. "Maksudmu?"
Nara menatap tanah kosong itu. "Saat dunia ini terbentuk, ada satu momen yang kamu hindari. Satu pilihan yang kamu tolak untuk lihat kembali. Mungkin... ini bukan ruang kosong. Tapi tiga detik yang hilang."
Tiga detik.
Andra terdiam. Ia tahu apa yang dimaksud Nara. Ada tiga detik terakhir sebelum ia memeluk Null. Tiga detik di mana pikirannya kosong, tak terekam, tak tersentuh. Seolah... ada sesuatu yang mengisi waktu itu, tapi kemudian menghapus dirinya sendiri dari eksistensi.
"Bagaimana kita membuka ini?" tanya Ira.
Nara menjawab pelan. "Kita tidak membuka. Kita menunggu. Waktu yang tersembunyi tidak akan datang kalau dipaksa."
---
Malamnya, Andra bermimpi. Tapi ini bukan mimpi biasa.
Ia berada di tengah danau yang tidak pernah ada. Di bawah air, jam-jam melayang pelan, rusak dan membisu. Di kejauhan, seseorang berdiri membelakanginya. Sosok tinggi, berjubah hitam, dengan rambut panjang menutupi sebagian wajah.
"Siapa kamu?" tanya Andra.
Sosok itu menoleh. Tapi wajahnya kabur, seolah ditutupi kabut waktu.
"Aku... bagian dari tiga detik itu. Aku adalah kemungkinan yang kamu tolak."
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Karena kamu menyisakanku. Dan sekarang, waktumu tidak lengkap."
Andra tersentak bangun. Di luar, langit tidak berubah. Tapi tanah kosong itu... kini memancarkan suara. Bukan bunyi. Tapi denyut. Seperti jantung.
---
Esok harinya, seluruh penghuni dunia berkumpul di tepi ruang kosong itu. Mereka bisa merasakannya juga. Denyut itu makin kuat, seolah ada sesuatu yang ingin keluar. Tapi bukan untuk disambut—melainkan untuk diperingatkan.
"Kalau itu adalah detik yang hilang," ujar Ira, "apa yang akan terjadi kalau ia kembali?"
Nara menjawab pelan. "Kita tidak tahu siapa atau apa yang ada di sana. Tapi satu hal pasti: ia bukan bagian dari dunia baru ini."
Andra maju. Ia berdiri di tepi batas itu. Angin berhenti. Langit mendung untuk pertama kalinya.
"Aku harus masuk," katanya.
"Sendirian?" tanya Nara.
"Ini bagian dari keputusanku. Dunia ini muncul dari pilihanku. Maka sisa waktu ini pun... adalah tanggung jawabku."
Ia melangkah. Tanah di bawahnya berubah menjadi kaca hitam. Langkah-langkahnya tak bersuara. Semuanya membisu.
Dan ketika ia mencapai tengah...
> [Mengakses Detik Hilang…]
Cahaya menyilaukan menyelimutinya. Dan ketika ia membuka mata, ia tidak lagi di dunia.
---
Ia berdiri di ruangan putih. Sama seperti tempat Null muncul dulu. Tapi ini lebih sempit. Lebih... sunyi.
Di depannya, ada kursi. Dan di kursi itu... duduk dirinya sendiri.
Tapi bukan dirinya yang sekarang. Bukan yang membuat pilihan. Bukan yang melompat ke dunia baru.
Ini adalah Andra yang takut. Yang ragu. Yang tidak jadi melangkah.
"Kamu... aku?"
Sosok itu mengangguk. "Aku adalah kamu yang tidak pernah memilih. Kamu yang membeku di detik terakhir."
"Kenapa kamu masih ada?"
"Karena waktu tidak pernah sempurna. Karena tidak ada pilihan yang tanpa sisa. Karena setiap keputusan menyisakan kemungkinan lain. Dan aku... adalah sisa itu."
Andra mendekat. "Apa yang kamu mau?"
Sosok itu berdiri. Wajahnya mirip, tapi matanya kosong. Tanpa arah. Tanpa cahaya.
"Aku tidak ingin dilupakan. Aku tidak ingin dibuang. Kamu mendapat segalanya. Dunia. Cinta. Cahaya. Aku... cuma detik yang ditinggalkan."
Andra menggenggam tangannya. "Kalau begitu, ikut aku. Kita bisa menyatu. Dunia ini akan menerima kamu juga."
Tapi sosok itu menarik tangannya.
"Tidak. Aku tidak mau masuk ke duniamu. Aku ingin membentuk waktuku sendiri. Dunia... tanpa pilihan."
Andra mundur. "Apa maksudmu?"
"Aku akan mengambil bagian dari yang tersisa. Dari fragmen, dari kemungkinan. Aku akan buat dunia yang tak perlu memilih. Yang tak butuh kehendak. Yang hanya... mengalir."
Retakan terbuka di belakangnya. Tapi bukan ke dunia Andra.
Ke tempat lain.
> [Protokol Fragmentasi Aktif. Pembentukan Realitas Alternatif Dimulai.]
Andra menjerit. "Tunggu! Itu akan menciptakan dunia baru yang kosong! Dunia yang... tanpa arah!"
Sosok itu tersenyum tipis. "Lebih baik tanpa arah, daripada terpaksa memilih."
Dan ia melompat ke dalam retakan.
---
Andra kembali ke dunia nyata. Tapi tanah kosong itu telah berubah menjadi lubang hitam kecil, mengisap cahaya.
Nara menangkapnya sebelum ia jatuh. "Apa yang terjadi?"
Andra menatap langit. "Satu versi diriku... pergi. Membuat dunia baru. Tapi bukan dunia kita."
Ira bertanya, "Berarti kita punya dua dunia sekarang?"
Andra menggeleng. "Tidak. Kita punya satu dunia...
...dan satu ancaman."
---
Langit mulai bergelombang.
Di tempat lain — jauh dari sana — sebuah dunia tanpa arah terbentuk. Tanpa warna, tanpa kehendak, tanpa detik. Dan di tengahnya, berdiri sosok yang mirip Andra, dengan mata kosong.
> "Selamat datang di Dunia yang Tidak Memilih."
Lalu semuanya membeku.
---