Retakan pusat mulai berdenyut, memancarkan cahaya perak ke seisi ruangan. Simbol-simbol di jam raksasa terus berputar, melesat seperti bintang jatuh yang tersesat dari orbitnya. Andra berdiri di depan Bayangan, tubuhnya kaku namun matanya menyala. Jam kecil di tangannya berdetak… dan setiap dentaknya terasa seperti palu yang memukul ujung dunia.
Bayangan melangkah maju. Setiap langkahnya menyebabkan lantai kaca di bawah mereka retak lebih lebar. "Sudah waktunya, Andra. Biar dunia ini pecah untuk terakhir kalinya."
Andra tak menjawab. Ia menggenggam jam kecilnya, dan sinar samar keluar dari sela-sela jari. Cahaya itu menjalar ke lengannya, membentuk jalur bercahaya seperti urat waktu yang hidup.
Nara mundur beberapa langkah, berdiri di sisi ruangan. "Hati-hati. Dia bukan cuma versi masa lalumu. Dia adalah semua kegagalanmu yang menolak dilupakan."
Bayangan mengangkat tangan. Udara di sekitarnya bergetar, dan puluhan pecahan waktu muncul — melayang seperti bilah kaca transparan. Ia mengayunkannya ke arah Andra tanpa peringatan.
Andra menunduk, dan dunia sekitarnya melambat. Detik berjalan pelan, seolah ia menyentuh tombol pause. Ia menendang lantai, melompat ke samping, dan pecahan waktu melewati tempatnya berdiri barusan, mengiris udara.
Ia menggulirkan jam kecilnya ke udara. Jam itu berputar cepat, dan dentangnya membelah ruangan.
Bayangan tertawa. "Kau mulai mengerti. Tapi itu belum cukup."
Ia menghentakkan kakinya ke lantai.
Waktu terpecah.
Seketika, dunia menjadi tiga versi:
1. Di sebelah kanan Andra, lantai runtuh dan Nara jatuh ke dalam kegelapan.
2. Di sebelah kiri, Bayangan menusuk jantung Andra dengan pecahan waktu.
3. Di tengah, semuanya beku.
Andra menahan napas. Ia tahu ini bukan ilusi. Ini kemungkinan. Bayangan telah membuka cabang waktu.
"Pilih salah satu. Tapi ingat, dalam waktu… satu keputusan bisa mengakhiri segalanya."
Andra menutup mata. Ia menarik seluruh kekuatan dalam dirinya, dan untuk pertama kalinya… ia tidak melawan waktu—ia memeluknya.
Jam kecilnya meledak menjadi ribuan detik bersinar. Detik itu melayang seperti serpihan salju, membungkus tubuhnya. Dalam sekejap, ia muncul di ketiga versi dunia itu sekaligus.
Di kanan, ia menangkap Nara sebelum jatuh. Di kiri, ia menghindar dan menghancurkan pecahan waktu. Di tengah, ia melompat ke atas jam raksasa.
Semuanya menyatu kembali dalam satu ledakan cahaya.
Bayangan terhuyung. "Kau… sudah bisa mengatur kemungkinan…"
Andra menatapnya. "Dan aku belum selesai."
Ia mengangkat tangannya, dan waktu di seluruh ruangan berhenti total.
Lalu ia berjalan pelan, menembus jeda waktu, mendekati Bayangan. Dengan lembut, ia menyentuhkan jam hancur itu ke d**a musuhnya.
Bayangan membuka mata. Dunia kembali bergerak.
"Kenapa… kau tidak membunuhku?"
"Karena kau bukan musuhku," jawab Andra. "Kau adalah aku yang dulu takut. Tapi sekarang aku tidak."
Bayangan memudar. Perlahan, tubuhnya berubah menjadi kabut perak dan menyatu ke dalam jam raksasa.
Simbol-simbol di jam itu berhenti berputar. Detik terakhir… belum selesai. Tapi kini, ia menunggu.
Andra menoleh ke Nara. Ia masih berdiri dengan tangan gemetar.
"Aku pikir kau akan… menghancurkannya."
Andra menggeleng. "Kalau aku menghancurkan masa laluku, aku tidak akan bisa menciptakan masa depan."
Nara tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya, tidak ada kesedihan di matanya. Hanya keyakinan.
Tapi dunia di bawah mereka masih retak. Dan dari balik lantai kaca… cahaya merah mulai menyala.
Andra dan Nara saling menatap.
"Ini belum akhir, kan?" bisik Nara.
Andra mengepalkan tangannya. "Belum. Ini… baru detik berikutnya."
Dan di kejauhan, terdengar dentang baru—yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Dentang dari sesuatu yang lebih tua dari waktu.
Dentang dari… asal mula.