Cahaya merah dari bawah lantai kaca makin terang. Rasanya bukan cahaya biasa—melainkan sesuatu yang hidup, bernapas, dan… lapar. Andra berdiri bersama Nara di atas permukaan kaca yang mulai bergetar. Dentang aneh tadi masih terngiang, membelah kesunyian seperti gema dari sesuatu yang tak seharusnya bangkit.
Nara menatapnya. “Kau merasakannya, bukan?”
Andra mengangguk pelan. “Itu bukan bagian dari waktu. Itu… sesuatu sebelum waktu.”
Retakan di lantai perlahan membentuk pola spiral, mengarah ke titik tengah. Simbol-simbol pada jam raksasa menyala merah, dan mulai berputar tanpa perintah.
Tiba-tiba, permukaan kaca pecah total.
Andra dan Nara terjatuh ke dalam pusaran cahaya merah. Dunia di sekeliling mereka berubah menjadi arus kenangan, emosi, dan gema-gema dunia yang pernah ada dan tidak jadi ada. Suara tangis, tawa, perang, cinta, dan kehancuran berputar bersama mereka.
Tapi di tengah kekacauan itu, Andra melihatnya—sebuah ruang kosong, sebesar alam semesta, namun hanya diisi oleh satu hal:
Sebuah jam pasir raksasa, menggantung di langit hampa.
Jam pasir itu tidak berdetak. Tidak mengalir. Tapi semua partikel cahaya di sekitarnya tunduk pada keberadaannya. Dan di dasar jam itu… ada sosok yang duduk diam.
Andra dan Nara mendarat perlahan di atas lantai tak terlihat.
Sosok itu berdiri. Wujudnya seperti anak kecil, dengan mata merah menyala dan rambut putih menggantung panjang. Suaranya keluar seperti gema yang sudah mati ribuan tahun lalu.
> “Waktu sudah terlalu banyak mengulang. Sekarang, aku akan mengakhirinya.”
Andra menatap sosok itu dengan hati berat. “Siapa kamu?”
> “Aku adalah awal dari detik pertama. Aku bukan Dewa Waktu. Aku… sebelum waktu. Aku adalah Null.”
Cahaya merah makin kuat. Seluruh dunia di sekitar mereka mulai larut menjadi kabut. Nara terjatuh, menahan nyeri di dadanya.
> “Selama ini, kalian pikir waktu adalah siklus. Tapi sebenarnya… waktu hanya bertahan karena aku membiarkannya.”
Andra mengepalkan tangan. “Kalau begitu… aku akan menghentikanmu.”
Null tersenyum tipis. “Coba saja.”
---
Pertarungan dimulai.
Andra melompat ke depan, waktu menyelimuti tubuhnya seperti api tak terlihat. Ia meninju ke arah Null, tapi ruang itu sendiri menolak gerakannya. Tinju Andra terbelok ke samping, seolah hukum fisika tak lagi berlaku.
Null mengangkat tangannya, dan seisi ruang terbelah menjadi dua dimensi: satu sisi masa lalu Andra, satu sisi masa depan. Dari sisi masa lalu, muncul semua kesalahannya. Dari sisi masa depan, muncul bayangan kehancuran yang belum terjadi.
Andra terseret masuk ke keduanya sekaligus.
Di masa lalu, ia melihat dirinya membiarkan dunia hancur karena takut.
Di masa depan, ia melihat dirinya sendirian di dunia yang tak berwaktu.
> “Kau bukan siapa-siapa tanpa aku,” ujar Null. “Kau hanya penutup. Sementara aku adalah kunci dari ketiadaan.”
Nara bangkit, menatap mereka dengan air mata. “Andra! Kau bukan detik terakhir. Kau adalah detik yang memilih untuk bertahan!”
Suara itu menusuk kesadaran Andra.
Ia menjerit, dan tubuhnya mulai bersinar lebih terang dari sebelumnya. Detik demi detik keluar dari tubuhnya, membentuk sayap-sayap cahaya. Jam kecil yang dulu hancur kini bersatu lagi, melayang di dadanya.
Ia melangkah ke arah Null.
> “Aku sudah gagal, aku sudah menyerah, aku sudah takut. Tapi sekarang… aku memilih. Aku memilih untuk membuat waktu baru. Bukan mengulang. Bukan mengakhiri. Tapi… menciptakan.”
Null berteriak, seluruh tubuhnya merekah jadi puluhan cahaya merah yang menusuk langit kosong. Tapi Andra tetap melangkah. Setiap langkahnya menghapus kemungkinan kehancuran. Ia bukan lagi hanya manusia, bukan hanya Dewa Waktu.
Ia adalah titik temu antara awal dan akhir.
Andra melompat.
Dan memeluk Null.
Cahaya merah meledak. Bukan karena perang, tapi karena penerimaan.
Detik terakhir… berhenti.
---
Andra terbangun.
Ia berbaring di padang rumput yang lembut, di bawah langit penuh bintang yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Angin mengalun tenang. Di kejauhan, suara sungai mengalir pelan.
Nara duduk di sampingnya.
> “Sudah selesai?”
Andra menatap tangannya. Tidak ada lagi jam. Tidak ada lagi simbol. Tapi ia merasa utuh. Untuk pertama kalinya… ia hanya manusia.
> “Sudah. Tapi ini bukan dunia yang dulu.”
> “Bukan. Ini dunia baru. Dunia yang kau bentuk dari retakan.”
Andra duduk.
Langit menyambutnya.
Ia tersenyum.
> “Aku bukan detik terakhir lagi.”
Nara tersenyum balik.
> “Kau adalah… detik pertama dari dunia yang belum ditulis.”
Dan mereka berdua duduk dalam diam, di dunia yang terlahir dari waktu yang patah—tapi kini tak lagi berjalan karena paksaan… melainkan karena pilihan.
---