Rafa menatap Rafi yang saat ini berada dihadapannya setelah mengirim pesan demikian, Rafi menatap tajam Rafa yang membuatnya hanya bisa menghembuskan nafas pelan tidak berani menatap secara langsung. Mereka berdua berada di cafe tempat Naila dimana mengambil tempat tidak jauh dari jalanan, setidaknya dengan melihat kondisi jalan mampu membuat pikiran tenang. “Ada masalah apa diantara kalian?” Rafa terdiam tidak menjawab pertanyaan Rafi “Naila tidak cerita apa – apa tapi aku bisa merasakannya, sejak kapan kamu menjadi pria baji.ngan seperti ini?” Rafa masih terdiam “ada masalah apa dirimu dan apa terapi berjalan lancar?” “Aku melakukan kesalahan yang sama makanya meminta kalian melamarnya.” Rafi menghembuskan nafas pelan “ada lagi?” Rafa terdiam mendengar pertanyaan Rafi “rumah yang aku

