KALAU ada kata lebih dari maaf, mungkin sudah diberikan. Tapi sayangnya, maaf hanya lah sebatas maaf. Dina tak bisa memberikan itu atas ketakutan yang ditumpahkan padanya. Hampir mati berulang kali itu bukan sama sekali sebuah kesenangan. Dari sekian banyak kenangan, kenapa Pras hanya menyisakan kenangan semengerikan itu? Dibanding harus bertahan dengan perasaan, Dina tentu saja lebih memilih bungkam dan pergi. Maaf saja tak pernah cukup. Bukan ia tak ikhlas, hanya saja belum waktunya. Ardan malah yang lebih marah disaat Dina yang bungkam. Saudara serahim itu memang begitu. Kalau Dina yang disakiti, Ardan yang marah disaat Dina memilih diam. Sebaliknya, Ardan yang disakiti, Dina yang marah disaat Ardan malah diam. Dan kejadian kali ini, menurut Ardan sudah keterlaluan. Walau yah, ia tak

