CHAPTER 9
Hari ini adalah hari pertama selesainya UKK. Jadi tak ada kegiatan yang berarti selain class meeting di sekolah. Masuk pun menjadi jam delapan.
Aku bingung mau kemana. Di kelas, aku sudah bosan. Perpustakaan, otak ku ingin istirahat. Kantin, terlalu ramai. Aku bingung. Bahkan Riri belum datang. Ke lapangan? Aku tak yakin. Karna isinya anak berisik semua. Lagi pula, aku malas menonton pertandingan ga jelas itu. Membosankan. Tapi aku bingung mau kemana.
Aku memutar otak ku agar mendapatkan pencerahan. Terdengar dari speaker sekolah; kelas 11-3 IPS melawan kelas 11-7 IPA.
Kelasnya Kak Ardan. Dengan langkah cepat, aku langsung melesat ke lapangan. Cukup penuh, namun aku melihat masih ada satu tempat untuk ku duduk di bagian depan. Aku menyilangkan kedua jari tunjuk ku. Mengharapkan keberuntungan agar Kak Ardan main.
Dan benar saja, Kak Ardan memasuki lapangan dengan baju bola bernomer punggung 77.
Sudah pernah ku bilang bukan, Kak Ardan adalah bintang lapangan. Tubuhnya yang tinggi dan badannya yang tegap saja sudah menarik perhatian. Ditambah wajahnya yang tampan dan permainannya yang cantik.
Dia sukses membuat semua mata tertuju padanya. Tak hanya perempuan. Laki-laki juga.
Komentator terus saja menjelaskan apa yang terjadi di lapangan. Kebetulan komentatornya adalah Kak Tito. Ketua ekskul Rohis.
Kak Ardan membawa bola dan menggocek lawannya dengan lincah.
"Baik, Ardan membawa bola. Terus dibawa tanpa dioper. Teknik menggoceknya sangat handal. Oke, satu orang dibohongi. Dua orang dibohongi. 3 orang-- Astagfirullah Ardan, jangan boong mulu!" Kak Tito mengucap sangat kencang. Kami semua tertawa. Bahkan Kak Ardan yang sudah kehilangan bola pun terkekeh.
"Bola dibawa oleh Adam. Adam ya bukan Ardan. Nama mirip-mirip. Oke ga nyambung. Adam membawa bola. Sudah di depan gawang. Dan shoot. Subhanallah, gol yang sangat cantik."
Lagi-lagi aku tertawa karna komentar Kak Tito.
Tak terasa pertandingan sudah selesai dengan kemenangan bagi kelas Kak Ardan dengan skor 3 - 2.
Aku masih diam di tempat walau yang lain sudah mulai beranjak. Aku masih mencuri pandang diam-diam kepada Kak Ardan yang tengah ber-tos ria dengan teman sekelasnya.
Tiba-tiba ia berbalik dan teriak, "Woi, ada yang punya minum ga? Aus njiirr!"
Matanya menatap oara penonton berharap ada yang memberinya minum. Tapi nihil, bukan karna tak mau. Tapi memang tak ada.
Jujur saja, di dalam tas ku terdapat satu botol air minum. Tapi aku gugup untuk memberikannya ke Kak Ardan. Aku hanya mampu berdiam diri.
Hingga tatapan Kak Ardan sampai di tempat ku. Matanya seolah-olah berbicara, menanyakan apakah aku punya minum atau tidak. Dengan perlahan, aku membuka tas ku dan mengambil air minum di dalamnya. Aku mengulurkan tanganku. Dan Kak Ardan langsung mengambilnya dan meminumnya.
"Gua abisin ya dek.." ucapnya diiringi anggukan ku.
Setelah minum, ia menyiramkan air itu ke kepalanya. Membuat rambut hitamnya basah. Kak Ardan mengembalikan botolku yang sudah kosong dan berbalik sambil mengibaskan rambutnya.
Masyaallah. Ganteng banget.
Dengan wajah memerah, aku bangkit dari duduk ku. Menyampirkan tas ke bahu dan langsung berlari kencang meninggalkan lapangan.
Aku malu. Aku salah tingkah.