CHAPTER 8
Aku melangkah pelan di sepanjang koridor menuju kelas. Angan ku masih terbayang pada kejadian tadi. Bahkan rasanya, berat kepala Kak Ardan masih membekas di bahuku. Koridor masih sepi. Karna KBM telah selesai. Entah mengapa setelah kejadian tadi, pihak Kurikulum mengumumkan perihal pulang cepat.
Tiba-tiba, aku merasakan rambut panjang ku di tarik ke belakang dengan keras. Aku tersentak ditempat dan meringis.
"Heh, lo tuh ga usah keganjenan sama Ardan. Sok dibutuhin banget sih. Lo tuh ga ada pantes-pantesnya buat Ardan. Ngaca!!!"
Aku berbalik masih dengan jambakan di rambutku. Dia mantannya Kak Ardan. Teman seangkatanku.
"Maaf, bisa tolong lepas tangan kamu dari rambut saya?" Ucap ku pelan sambil menahan ringis kesakitan.
Dia tersenyum merendahkan. "Biasa aja tau gak! Lo tuh ga ada apa-apanya dibanding Kak Ardan. Ga cocok."
Aku diam. Jujur, kalimat itu menohok hatiku.
Jambakannya tambah keras. Tatapannya sangat tajam menyayat mataku.
"Aww-- tolong lepas." Kataku mengernyit sakit.
Bukanya melepaskan, dia malah tambah menarik rambutku. Aku tak berani melawan. Mantannya Kak Ardan merupakan mahkluk famous di sekolah. Aku hanya diam sambil menahan sakit.
"Lepasin." Suara lembut namun kontradiktif terdengar masuk ke pendengaranku.
Tangan cewek itu pun langsung terlepas dari rambut ku. Dan kami sama-sama menoleh ke sumber suara. Kak Atha berjalan tenang dengan wibawanya.
Kami terdiam.
"Lo tau, perbuatan lo tuh rendah banget. Kampungan tau ga!" Kak Atha berbicara dengan orang yang menarik rambutku itu.
Setelah berbicara, Kak Atha menarik tangan ku menjauh dan kembali berjalan melewati koridor.
"Lo gapapa dek?" Tanyanya.
"Iya Kak. Saya gapapa. Makasih ya kak." Balasku takut-takut.
"Ga usah takut gitu sama gue. Lagi pula tuh cewek emang parah banget kelakuannya. Gua bingung, mau-maunya Ardan sama nenek lampir kayak dia." Kata Kak Atha panjang lebar.
Aku yang mendengar hanya tersenyum masam di tempat.
"Dia cantik Kak." Ucapku tanpa bisa ku tahan.
Kak Atha menoleh kepada ku dan tersenyum hangat. "Seperti kayak kata Ardan tadi. Cewe cantik belom tentu baik."
Tak sadar, langkah kami berhenti di depan kelas ku.
"Udah sampe. Jaga diri lo. Gue duluan ya.." Kak Atha berkata lembut dan melambaikan tangannya.
Belum sempat aku membalas, Kak Atha sudah berbalik dan pergi.
Aku memasuki kelas ku yang sudah sepi. Tinggal Riri yang masih duduk setia sambil melanjutkan catatan yang tadi belum terselesaikan. Aku menghampirinya dengan langkah pelan. Dan akhirnya, aku duduk di sampingnya tanpa suara dan mulai menulis.
"Tadi kamu kemana Lin? Kok ninggalin aku?" Tanya Riri memecah keheningan.
"Ke kamar mandi." Ucap ku singkat tanpa menoleh ke Riri.
"Kamu kenapa?" Tanya Riri sambil menghentikan goresan penanya.
Aku meletakan pulpen ku dan menghela napas panjang.
"Ri, aku bingung. Aku udah terlanjur baper sama Kak Ardan." Ujar ku pelan.
"Lah, terus kenapa? Ga ada UU yang melarang baper kan." Kata Riri.
"Ya tapi, aku ga berani deket-deket sama Kak Ardan. Aku takut dilabrak Ri. Tadi aja mantannya Kak Ardan yang anak IPA itu jambak rambut aku." Ucap ku pelan sambil menahan air mata. Aku takut.
"Apa?! Tadi kamu di jambak sama mantannya Kak Ardan? Terus gimana? Kamu gapapa kan?" Riri langsung berucap panik.
Aku mengangguk. "Aku gapapa kok Ri. Tadi aku ditolongin sama Kak Atha."
Lalu kami berdiam diri tanpa percakapan yang berlanjut.
"Kayaknya aku emang ga bisa ngarep banyak deh sama Kak Ardan. Kayaknya aku cuma bisa suka sama dia diam-diam."