CHAPTER 7
Aku duduk tak bergerak di kursi ku. Sama, Riri juga diam dan memperhatikan Bu Endang yang tengah menjelaskan pelajaran Fisika tentang tekanan hidrostatis.
Bukan hanya aku dan Riri yang diam tak bergerak. Teman-teman yang lain pun seperti itu. Karna mereka sudah tau kelakuan Bu Endang jika ada yang mengacau di kelasnya. Jangankan mengacau, mengalihkan pandangan ke arah lain juga pasti ketahuan. Dan hukumannya, maju kedepan dan mengerjakan soal yang ia berikan bahkan sebelum diberi penjelasan. Bahkan bisa lebih parah dari itu. Yang paling parah sih langsung divonis tidak boleh ikut pelajarannya selama 1 semester. Dan jika nilai IPAnya jelek saat ulangan nanti, ia akan langsung merekomendasikan agar anak iti tak naik kelas. Jadi bukan hal awam jika Bu Endang merupakan guru yang ditakuti seluruh siswa di SMA Citra Bangsa.
Pelajaran berjalan dengan syahdu; lebih ke membosankan dan bikin ngantuk sebenernya. Tapi mau tak mau kami semua harus selalu waspada karna sedikit terlihat lengah, hukuman di depan mata. Seperti itulah slogannya.
Saat pelajaran sedang di puncak-puncak kebosanan, tiba-tiba saja koridor langsung dipenuhi oleh murid-murid yang berlarian. Bahkan guru-guru juga keluar dari kelas mereka dan ikut berlari. Dengan kebisingan yang luar biasa, langsung saja perhatian kami terbuyar. Hilang sudah rumus-rumus yang tetempel di kepala barusan.
Anak-anak selekas langsung bangkit dari duduknya. Saat mendengar decitan kursi yang keras, langsung saja Bu Endang berbalik dari catatannya di oapan tulis. Matanya sudah menyipit tanda ia marah.
"Ada apa ini?" Katanya.
Kepala kami yang tadinya menghadap ke jendela langsung berputar haluan kemabali ke papan tulis.
"Itu bu, semua anak pada keluar dari kelasnya. Kayaknya ada sesuatu di lapangan deh bu." Jawab Ardit selaku ketua kelas.
Dengan mata memicing, Bu Endang berjalan keluar dan bertanya dengan salah satu guru yang lewat. Aku kira Bu Endang akan berbalik dan melanjutkan pelajaran, namun ternyata Bu Endang malah ikut masuk ke kerumunan di koridor.
Belum ada satu pun yang bergerak di kelas. Tiba-tiba saja teriakan Pak Agus terdengar sampai ke kelas kami.
"MAKSUD KALIAN APA HAH!? JAWAB!" Seselesainya ucapan itu, teman-teman sekelasku langsung rusuh dan berlarian ke luar kelas. Menuju sumber suara; lapangan.
Tanpa ku duga, Riri menarik tanganku sambil berlari keluar kelas dan mengikuti langkah teman yang lain. Aku yang tak ada persiapan pun hanya pasrah ikut berlari dalam seretan Riri. Tapi sepertinya jalur ku dan Riri berbeda dengan teman lainnya. Tak mengarah ke lapangan.
Langkah kami terhenti di depan perpustakaan lantai dua yang langsung berhadapan dengan lapangan. Dari sini semuanya terlihat jelas. Mataku membelakak kaget. Disana, di tengah rumunan berdiri rapi anak-anak basis alias bantah OSIS yang hanya terdiri dari kelas 10 dan kelas 11 karna kelas 12 sudah libur UN. Dan Kak Ardan ada diantaranya. Di paling depan menghadap ke arah Pak Agus yang sedang murka. Selain itu, mereka juga dikelilingi oleh guru-guru dan ditonton oleh murid-murid yang lain di sekeliling lapangan. Aku dan Riri menyaksikan dengan seksama dari atas.
"APA MAKSUD KALIAN MENONTON FILM SEPERTI ITU! APA YANG KALIAN DAPAT DARI FILM LAKNAT ITU?!" Ucap Pak Agus penuh emosi.
Semua diam. Bahkan anak basis yang terlibat pun diam. Aku masih bingung. Film laknat itu apa? Aneh.
"JAWAB!" Teriak Pam Agus lebih keras.
Dan yang tak ku sangka, dengan lantang Kak Ardan menjawab. "Film p***o mengajarkan bahwa cewek cantik belum tentu baik."
Aku syok di tempat. Jadi, mereka menonton film p***o?
Belum selesai keterkejutan ku, aku dibuat tambah bungkam dengan bunyi tamparan keras yang melayang dari tangan Pak Agus ke pipi Kak Ardan.
"Pak, kalo Bapak nampar Ardan, kita juga harus ditampar pak." Suara Kak Dani terdengar tenang ditengah keheningan.
"Ngapain kamu belain temen b***t kayak dia?!" Tanya Pak Agus masih emosi.
"Karna Ardan temen kita pak." Jawab Kak Dani.
"Karna Ardan sahabat kita Pak." Jawab Kak Adam.
"Karna Bang Ardan kakak kita pak." Jawab Beni.
"Karna Ardan keluarga kita pak." Kak Levi melengkapi.
Belum selesai sampai disitu, Kak Randi menambahi. "Karna mereka ngelakuin itu bareng-bareng pak. Dan mereka akan menanggungnya juga bareng-bareng."
Aku tertegun. Solidaritas yang sangat berarti yang sudah jarang ku temui di kehidupan remaja.
Aku tak sanggup melihatnya. Itu terlalu keras menurutku. Akhirnya, dengan pelan aku berbalik dan menyeret kaki ku meninggalkan tempat tadi aku berpijak. Dalam langkah ku, aku masih bisa mendengar suara tamparan keras berkali-kali.
"KALIAN SEMUA DI SKORS SELAMA 3 HARI." Terakhir, ucapan final dari Pak Agus.
Aku langsung berlari ke toilet wanita. Meninggalkan Riri. Koridor sangat sepi karna fokus mereka ada di lapangan.
Sesampainya aku di toilet, langsung saja ku basuh wajah ku yang terlihat pucat dari cermin di depanku. Aku mengatur napas sebentar dan sedikit merapihkan seragamku. Dan keluar dari toilet. Belum genap langkah ku, belum juga pintu toilet tertutup, sesuatu yang berat mendarat di bahuku. Aku terkejut. Jantungku berhenti sepersekian detik. Secara tiba-tiba Kak Ardan merebahkan kepalanya di bahuku.
"Biarin kayak gini dulu Lin. Sebentar aja." Ucapnya dengan suara beratnya itu.