CHAPTER 6
Hari ini aku duduk termenung di depan meja belajarku. Ditemani oleh tumpukan buku dan novel yang tertata rapi. Tangan ku meraih botol air mineral yang masih ada setengah isinya. Botol dari air yang waktu itu diminum oleh Kak Ardan.
Memandanginya sejenak. Dan tanpa sadar, senyum ku sudah mengembang. Rasanya aneh untuk ku. Bahkan rasanya jauh berbeda saat aku menyukai orang untuk pertama kalinya. Seperti ada getaran yang menyerempet hati. Jantung berdebar kencang. Pipi memerah tak karuan. Kaki lemas seperti agar-agar. Otak nge-blank seketika. Dan tentu saja gugup yang keterlaluan.
Aku masih asing dengan perasaan ini. Tapi ada satu hal yang aku tau. Perasaan ini jauh lebih besar dari rasa pertama ku untuk lawan jenis.
Tapi aku senang. Karna Kak Ardan masih mengingat ku hingga tadi. Tak tau untuk detik ini. Tak salah kan jika aku senang? Senang saat dia meminta minum ku. Senang saat dia memegang kaki ku. Senang saat dia memplester luka ku. Senang saat dia menggendongku. Senang saat dia mengantar ku pulang. Senang saat dia menyebut nama ku. Dan sangat senang saat dia menatap mataku. Apakah semua itu sebuah kesalahan? Apakah ke senanganku adalah salah?
Sekali pun salah, aku tak bisa berpura-pura jika aku senang. Bagi ku, itu seperti satu langkah lebih dekat dengan Kak Ardan. Untuk sekarang, baru satu langkah. Atau, hanya satu langkah? Aku tak tau.
Aku bangkit dan berdiri menghadap cermin yang tertempel di lemari ku. Memperhatikan diriku dalam pantulan cermin yang memakai kaos putih rumahan dan rok selutut.
Rambutku cukup panjang untuk dikuncir. Tapi, berantakan terus.
Wajahku mungil. Mata cokelat. Pipi agak tembem. Bibir standar. Hidung ga pesek ga mancung. Biasa aja.
Untuk postur tubuh, aku pendek. Aku akui itu. Mungkin hanya 160 cm. Jika dibandingkan dengan Kak Ardan, mungkin aku hanya sebahunya.
Berat badan ku standar. Ga kurus juga ga gemuk.
Pokoknya body ku pasaran. Banyak yang punya. Ga ada yang spesial.
Coba bandingin sama Kak Ardan. Dia ganteng. Matanya hitam tajam. Alisnya tebal. Hidungnya mancung kebangetan. Bibir tibis. Rambut badday. Badan tegap. Tinggi 178cm. Berat ideal sih keliatannya. Otot mantep. Supel. Ramah. Humoris lagi. Subhanallah..
Kalo dari sifat. Aku cuma cewek pemalu. Pendiam. Tak tampak. Tak dianggap. Ga punya banyak temen. Ga berani deket-deket ke orang baru. Payah.
Coba kalo Kak Ardan. Supel. Ramah. Humoris. Banyak temen. Ceria. Famous. Banyak yang ngegebet. Pesonanya menebar kemana-mana tanpa tepe-tepe. Keren.
Aku menggembungkan mulutku. Bibir ku mengerucut. Harusnya aku sadar dari awal. Aku terlalu berharap dengan percakapan singkat yang terjadi diantara aku dan Kak Ardan. Aku terlalu bawa perasaan.
Lamunan ku terbuyar ketika bunyi notifikasi terdengar kencang dari ponselku. Aku buru-buru meraihnya. Takutnya penting.
1 pesan belum terbaca.
Aku membukanya.
Dari : Kak Ardan
Malem Alin...