Sore ini Elsa harus segera bergegas menuju rumah Santi. Ia akan mengajar hingga jam sembilan malam. Khusus setiap hari senin dia akan mengajar di malam hari karena sebelumnya jadwal kuliah semester ini di hari senin berakhir ketika sore hari. Saat ini ujian akhir semester telah selesai dan dirinya hanya tinggal menunggu hasil. Bersamaan dengan itu, seharusnya dia sudah mulai mempersiapkan KKN dengan cara berkumpul bersama kelompoknya. Hanya saja hingga kini belum ada yang menghubunginya terkait persiapan KKN. Hanya dirinya yang berasal dari jurusan manajemen keuangan dan orang yang ia kenal satu kelompok dengannya hanyalah Bram. Bram sendiri sangatlah cuek terhadap KKN dan hanya mengikuti arus saja. Elsa pun juga memutuskan untuk menunggu beberapa hari , bila tidak juga ada pergerakan maka dia akan mulai mencari tahu mengenai teman-teman satu kelompoknya.
Elsa menghela napas setelah tiba di depan rumah Santi. Ia menggoyangkan gembok di gerbang agar Pak Rudi yang merupakan satpam rumah Santi mengetahui kedatangannya. Berhubung langit sudah gelap mungkin saja Pak Rudi akan kesulitan mengenalinya dari dalam. Tidak lama kemudian pintu gerbang pun dibuka.
"Halo, Mbak Elsa."
"Halo, Pak."
"Udah ditungguin Den Yuda tuh," ledek Pak Rudi sambil tertawa.
Elsa sudah sangat akrab dengan Pak Rudi jadi dirinya sering berbincang santai seperti ini. Pak Rudi mulai menggodanya akhir-akhir kini karena Yuda sering mengantar Elsa pulang setelah mengajar les Santi. Tidak setiap mengajar memang namun bisa terbilang sering.
"Aduh, nggak enak bikin nunggu." Elsa kemudian terkekeh. Pak Rudi pun ikut terkekeh mendengarnya.
"Saya masuk dulu ya, Pak."
"Oke Mbak Elsa."
Elsa kemudian menuju pintu utama rumah itu, menekan bel dua kali. Tidak perlu menunggu waktu lama pintu pun terbuka.
"Ayo masuk, Sa." Yuda yang datang menyapanya.
Elsa menganggukkan kepala kemudian memasuki rumah Yuda.
"Santinya mana?"
"Biasa di kamar."
"Halo Elsa. Ikut makan malam dulu yuk." Tante Feni datang dan menyapa Elsa. Setiap hari senin Elsa akan datang jam setengah delapan malam. Sebenarnya ia bisa saja datang jam setengah enam sore sehabis kelas. Hanya saja Santi meminta lesnya dimulai setelah makan malam keluarga saja. Tak jarang Elsa datang disaat ternyata keluarga Yuda sedang makan malam, padahal itu sudah sesuai jadwal yang seharusnya dan ia terpaksa ikut makan malam disana. Elsa sudah beberapa kali makan malam dengan keluarga Yuda.
"Baru aja abis makan tadi Tante."
"Makan lagi nggak papa, yuk."
Elsa sangat bersyukur keluarga Santi ini sangat baik kepadanya. Selain memberikan upah yang cukup besar. Dirinya pun diperlakukan dengan sangat baik disini. Meski pada awalnya kesabaran Elsa sangat diuji oleh sikap Santi.
"Oke, Tante."
Elsa paham bahwa akan sulit untuk menolak permintaan Tante Feni, jadi dirinya hanya mengiyakan saja.
Yuda mengajaknya untuk duduk di kursi ruang makan. Sementara itu Om Rio sudah duduk disana seraya memainkan ponselnya.
"Ayo makan dulu, Sa." ajak Om Rio.
Elsa pun memberikan senyumannya kepada Om Rio.
"Nanti Papa sama Mama mau jalan ini. Kamu di rumah sama Santi ya, Yud?"
"Jalan kemana, Om?" tanya Elsa iseng.
"Biasalah nge-date."
Elsa lantas terkekeh mendengarnya.
"Kak Elsaaa."
Santi baru saja keluar dari kamarnya kemudian langsung duduk di kursi sebelah Elsa.
"Kangen nih," ujarnya.
"Pasti ada apa-apa," celetuk Yuda.
"Apaan sih abang?"
Santi lantas mendekat kepada Elsa dan membisikkan sesuatu.
"Kak nanti jangan belajar ya. Aku mau curhat soalnya."
----------
Elsa menuruti apa yang Santi minta. Menurutnya percuma jika tetap memaksa Santi untuk belajar. Gadis itu pasti tidak akan fokus. Sebagai gantinya, Elsa meminta Santi untuk mengerjakan sebuah tugas sebelum ia memulai sesi ceritanya. Itu adalah penyebab Santi menjadi betah dengan dirinya. Saat-saat tertentu, Santi butuh teman cerita terkait permasalahan di sekolahnya dan Elsa siap menjadi pendengar yang baik.
"Jadi sekarang tuh ada tamu."
"Oh iya?"
Santi cukup terkejut. Pasalnya Om Rio dan Tante Feni justru sudah pergi berdua untuk menikmati bersama. Hanya ada Yuda dan Santi di rumah ini. Santi sedang dalam jam les, sehingga secara teknis hanya Yuda yang bisa menyambut sang tamu.
"Iya. Temennya Kak Yuda."
"Cewek?" tebak Elsa.
Santi menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Pacar? Gebetan? Temen deket?" tebak Elsa karena merasa penasaran. Pasalnya selama ini temannya itu jarang terlihat dekat dengan gadis. Ia lebih sering nongkrong bersama teman-teman cowok atau kadang menghabiskan waktu bersama dirinya dan Angel.
"Temen. Tapi aku kesel sama kakak itu."
"Kenapa?"
"Gatel banget jadi cewek."
Elsa tidak ingin ikut campur lebih jauh sehingga ia memilih untuk diam saja dan mendengarkan apapun yang akan dikatakan Santi tanpa bertanya.
"Kak Yuda itu dari dulu suka sama dia. Dianya malah kayak PHP gitu. Deket-deket terus sama Kak Yuda. Deket-deket terus juga sama Kak Devan."
"Devan?"
"Iya. Sepupu. Nah nanti ini Kak Meisya dateng kesini bareng Kak Devan. Manja banget kan pake minta dianterin segala."
Elsa jadi teringat akan ucapan Angel terkait perempuan bernama Meisya. Sepertinya Meisya yang dimaksud oleh Santi adalah Meisya yang sama dengan yang dimaksud Angel.
----------
"Hai, Yuda. Maaf ya telat. Tadi mampir dulu beli ini."
Meisya menunjukkan kantong belanja ditangannya dan memberikannya kepada Yuda.
"Apaan ini?"
"Makanan. Buat lo sama Santi. Santinya mana?"
"Lagi les. Ayo masuk. Dev, ayo masuk."
Yuda mempersilahkan mereka untuk masuk. Meisya ingin berkunjung ke rumahnya dan membicarakan terkait KKN mereka. Sebenarnya Yuda kurang setuju karena menurutnya akan lebih baik jika langsung dibicarakan bersama teman sekelompok. Akan tetapi Meisya bersikeras ingin datang karena sudah lama tidak kemari. Meisya datang bersama Devan. Mereka memang sudah akrab sejak SMP hingga tanpa sadar membuat Yuda memiliki perasaan terhadap gadis itu. Sayangnya Meisya menyukai Devan sehingga mereka terjebak dalam cinta segitiga. Meskipun demikian, sepertinya Devan tidak memiliki perasaan apapun dan hanya menganggapnya sebagai sahabat. Saat ini, Yuda tengah berusaha mengubur perasaannya pada Meisya karena tidak ingin persahabatan mereka bertiga hancur.
"Lesnya malem-malem?" tanya Meisya seraya duduk di atas sofa, disusul oleh Devan yang duduk di sebelahnya.
"Iya. Mau minum apa? Adanya air putih aja sih."
Meisya terkekeh mendengarkan lelucon dari Yuda.
"Bibi nggak ada?" tanya Meisya.
"Udah balik."
"Lo mau minum apa Dev? Diem-diem mulu."
Devan menggelengkan kepalanya.
"Langsung ngomong aja kalian."
"Nggak sabaran mau jalan sama Meisya ya lo?" tebak Yuda.
"Oke. Langsung aja, Yud. Abis ini Devan mau ada urusan soalnya."
Yuda pun mengeluarkan senyum masamnya. Ia lantas segera duduk di sofa dan menatap Meisya.
"Mau ngomongin apa emangnya?" tanyanya.
"Gue pengen tuker kelompok KKN."
"Biar satu kelompok sama Devan?" tebak Yuda.
Sejujurnya ia muak dengan apapun yang terjadi mengenai Meisya dan Devan. Mereka seolah harus bersama dalam segala situasi. Bahkan untuk jurusan kuliah pun, Meisya yang awalnya ingin masuk jurusan psikologi justru merubah haluannya agar satu jurusan dengan Devan yang masuk jurusan manajemen bisnis. Sepertinya perempuan itu selalu ingin berada di dekat Devan.
"Kebetulan lo kan koordinator kabupaten kita. Bisa dilobi nggak biar gue tuker sama siapa gitu di kelompoknya Devan."
"Yang begituan mah nggak bisa dituker, Meisya. Kan dari kampus."
"Bisa dengan beberapa alasan, Yud."
"Alasan logis lo apa emangnya?"
"Desa yang kelompok kita dapet masih kayak kehidupan di kota. Desa kelompoknya Devan lebih sederhana dan gue penasaran kehidupan kayak gitu."
Yuda melirik Devan yang hanya diam saja dan sibuk memainkan ponselnya. Lelaki itu terlihat tidak tertarik untuk mendengarkan pembicaraan Meisya dan Yuda. Devan justru asik sendiri dengan ponselnya. Yuda kadang penasaran dengan perasaan Devan sendiri. Ia sangat sering menghabiskan waktu bersama Meisya dan dalam beberapa hal sangat sering meminta tolong Meisya. Ia bahkan mau mengantarkan Meisya kemana pun gadis itu pergi. Devan mau mengantar jemput Meisya, mau membantu dan menemani gadis itu. Akan tetapi disaat yang bersamaan, Devan juga terlihat tidak peduli ketika bersama Meisya. Namun selama ini hanya Meisya, perempuan yang pernah terlihat jalan bersama Devan.
"Yud, gue ke dapur."
Tanpa menunggu balasan ucapan dari Yuda, Devan langsung berdiri dari duduknya dan melangkah menuju dapur.
Ketika tiba di dapur, Devan mengernyitkan keningnya karena melihat seorang perempuan tengah membuat jus. Seingatnya tadi Yuda mengatakan bahwa asisten rumah tangganya sudah pulang. Ia lantas mengangkat bahunya acuh dan berjalan menuju kulkas.
"Bi, tolong buatin jus mangga ya."
Devan membuka kulkas dan mengambil buah apel dari dalam sana. Ketika tidak mendengar sahutan, dirinya menoleh ke arah Bibi namun kemudian merasa terkejut.
"Lo?"
Perempuan itu juga terkejut mendapati Devan masuk ke dapur.
"Kok disini?" tanya Devan.
"Lagi buat jus."
"Kenapa di rumah ini?"
"Gue guru lesnya Santi."
Devan menatap Elsa selama beberapa detik hingga akhirnya baru memahami apa yang sebenarnya terjadi. Tadi Yuda mengatakan bahwa Santi sedang melaksanakan les dan ternyata guru lesnya adalah Elsa. Lalu sekarang perempuan itu tengah membuat jus sebanyak dua gelas, bukannya mengajar Santi.
Elsa telah selesai membuat jus alpukat sesuai keinginan Santi. Ia membuat dua karena Santi meminta dua gelas.Satu gelas untuk dirinya, dan satu gelas untuk Elsa. Elsa mencuci bagian mangkok kaca blender. Devan menggigit apelnya seraya mengamati kegiatan perempuan itu. Ia lantas duduk di kursi depan meja kecil dapur.
Elsa melangkah menuju kulkas dan mengambil buah mangga dari dalam sana. Dia mengupas buah itu kemudian mengirisnya dan memasukkan ke dalam blender. Kegiatan yang membuat Devan menaikkan satu alisnya.
"Pake s**u atau gula atau tambahan lain?" tanyanya menatap Devan.
"Nggak usah."
"Oke."
Elsa menutup mangkok kaca kemudian mulai menyalakan mesin.
"Nggak usah dibuatin."
"Udah terlanjur."
Setelah beberapa menit, Elsa menuangkan jus mangga tersebut ke dalam gelas. Ia kembali mencuci mangkok kaca blender kemudian menyimpan blender kembali pada tempatnya. Setelah itu ia membersihkan kulit buah yang masih berantakan di atas meja, merapikan kembali agar bersih seperti semula. Dia lantas memindahkan dua gelas jus alpukat dan satu gelas jus mangga ke atas nampan. Dirinya menghampiri Devan kemudian meletakkan gelas berisi jus mangga pesannya itu.
"Selamat menikmati," ucapnya kemudian mengangkat nampan dan melangkah berniat meninggalkan dapur.
"Tunggu.."
Suara Devan itu membuat Elsa menghentikan langkah dan membalikkan tubuhnya.
"Lo yakin cuma guru les disini?" tanyanya.
Elsa menghela napasnya. Ia sudah sering pergi ke dapur rumah ini jika Santi sedang ingin minum jus atau makan sesuatu. Kadang ia memasak sesuai permintaan Santi. Mereka memang sudah sedekat itu dan Elsa hanya berani menggunakan dapur rumah ini jika tidak ada Om Rio maupun Tante Feni. Ia merasa tidak enak, namun jika di rumah hanya ada Santi atau Yuda saja maka Santi akan memaksanya pergi ke dapur.
"Iya."
Elsa kemudian membalikkan tubuhnya agar bisa segera kembali ke kamar Santi.
"Kita satu kelompok KKN."
Langkah Elsa kembali terhenti namun kali ini ia tidak berbalik. Elsa baru mengingat hal tersebut. Devan yang ada bersamanya sekarang ini pasti Devano Widjaja yang dimaksud Angel. Berarti benar Meisya yang dimaksud Santi adalah Meisya Aurora yang Angel ceritakan. Teringat bahwa belum ada yang menghubunginya perihal KKN, Elsa langsung membalikkan tubuhnya.
"Udah ada anak kelompok yang menghubungi lo?"
Devan menyadarkan tubuhnya pada sandara kursi kemudian menyilang kedua tangannya. Nomor ponselnya cukup langka dan sulit untuk didapatkan. Meski pada akhirnya kontaknya nanti akan diketahui oleh teman KKN yang satu kabupaten dengannya. Setidaknya untuk saat ini hanya orang tertentu yang memiliki kontak Devan.
Devan pun menggelengkan kepalanya.
"Lo?"
"Kak, Elsa. Kita masak sekalian yuk. Laper-"
"Ha? Kak Devan?" Santi membuka mulutnya lebar karena terkejut.
Ia lantas kini menatap Elsa, kemudian lagi menatap Devan dan melakukannya beberapa kali.
"Lanjut yang tadi dulu ya, San. Nanti aku masakin."
Elsa lantas mengajak Santi untuk kembali kamarnya. Gadis itu sudah setuju untuk mengerjakan beberapa pertanyaan kemudian dibahas. Jadi sebelum Santi melakukan kegiatan lain seperti memasak, Elsa harus menyelesaikan kegiatan les mereka terlebih dahulu.
"Kamu kan tadi baru makan malam, San."
"Pengen masakan Kak Elsa. Enak soalnya."
Devan menatap kepergian dua perempuan itu yang menuju ke bagian belakang rumah. Kamar Santi memang terletak di bagian belakang rumah.
"Kak, kakak seriusan ngobrol sama Kak Devan?" tanya Santi ketika mereka tiba di depan pintu kamar Santi.
"Iya. Sedikit."
"Seriusan? Sampe diliatin gitu?"
"Kenapa emangnya? Kamu kayak kaget."
"Kak Devan itu jarang mau ngobrol sama orang apalagi sampe ngeliatin lama. Dan, kok Kakak bisa ngobrol sama Kak Devan? Kayak udah kenal gitu."
'Devan itu tajir, cakep, pinter, perfect lah pokoknya. Tapi sayangnya nih ya, Sa. Dia itu pendiem dan dingin banget. Jarang mau ngobrol gitu. Cuma orang tertentu aja yang bisa ngajak dia ngobrol.'
Ucapan Angel mengenai Devan pun seketika terngiang di kepalanya. Ia jadi merasa sedikit penasaran seperti apa Devan sebenarnya. Terlebih lelaki itu akan menjadi teman kelompok KKNnya.