Chapter 8

1723 Kata
Elsa menutup pintu kamar Santi kemudian melangkah menuju ruang tamu. Sudah jam setengah sepuluh saat ini. Ia selesai setengah jam lebih lama dari waktu yang seharusnya karena Santi bercerita cukup banyak hal malam ini. Untungnya besok ia libur jadi dirinya bisa bangun siang. Bangun siang adalah kegiatan yang sangat menyenangkan bagi Elsa dan dirinya jarang bisa melakukan hal itu. Meski demikian tetap saja Elsa harus bekerja. Hutangnya harus segera dilunasi agar ia bisa hidup dengan tenang. Elsa berencana untuk mengerjakan proyek freelance-nya malam ini dengan cara begadang. Ketika tiba di ruang tamu, Elsa cukup terkejut karena ada tiga orang duduk di sofa. Pasalnya ini sudah cukup malam dan masih ada yang bertamu. Ada Yuda, Devan, dan seorang gadis. Sepertinya itu yang bernama Meisya. Ah, itu teman-teman Yuda. Jadi tentu saja mereka masih berada disini.  "Yud, siapa?" tanya Meisya menatap Elsa dengan raut kesinisan yang begitu kentara. "Sa, lo pulang sekarang?" tanya Yuda langsung berdiri dari duduknya. "Iya. Gue balik dulu ya, Yud." Elsa tidak tahu harus bersikap bagaimana kepada dua tamu itu. Akhirnya diripun hanya menatap Yuda saja.  "Gue anter." Jawaban itu membuat semuanya merasa terkejut. Elsa merasa terkejut karena Yuda terlalu berlebihan mengingat saat ini dirinya tengah menerima tamu. Sementara Devan merasa terkejut entah untuk alasan apa. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan saja. Mesiya menatap Elsa dan Yuda secara bergantian. Kedatangannya kemari untuk membicarakan mengenai KKN dengan Yuda. Akan tetapi lelaki itu justru mau mengantar gadis ini untuk pulang. Bukankah berarti dengan begitu Yuda akan meninggalkannya dan pembicaraan mereka akan berakhir. Bila pun harus menunggu hingga Yuda kembali, itu benar-benar akan lama. Mesiya menjadi merasa kesal. "Yud, tapi kita kan masih ngobrol." Meisya seolah tidak terima. Melihat reaksi gadis itu yang terlihat begitu kesal, Elsa menjadi merasa tidak enak. Devan hanya terdiam dan menatap dirinya seolah menunggu apa yang akan dikatakan Elsa. "Nggak papa, Yud. Gue pulang sendiri aja. Titip salam ke Tante Feni sama Om Rio ya. Gue pamit." Elsa tidak merasa harus pamit kepada tamu Yuda jadi ia langsung pergi keluar rumah itu setelah selesai bicara dengan Yuda. "Tadi kata lo Devan ada urusan kan?" ucap Yuda kepada Meisya, kemudian dirinya menatap Devan. "Nggak jadi," sahut Devan. "Udah malem juga. Mending kalian balik sekarang. Gue mau nganter Elsa." "Yud, dia siapa? Pacar lo? Lo bawa cewek ke rumah dari tadi?" tanya Meisya penasaran. "Kenapa sih, Mei? Lo juga keseringan diem di rumah Devan udah kayak rumah sendiri, kan?" Lalu selepas itu Yuda segera bergegas pergi meninggalkan ruang tamu untuk menyusul Elsa. Hal itu membuat Meisya menjadi benar-benar kesal. Bisa-bisanya Yuda berlaku tidak sopan seperti itu. Meninggalkan Meisya dan Devan yang berkunjung ke rumahnya begitu saja hanya untuk mengantar gadis itu. "Van, kok lu diem aja, sih? Itu tadi pacarnya Yuda?" tanya Meisya. Devan mengangkat bahunya acuh, ia kemudian berdiri. Ini juga sudah cukup malam jadi sebaiknya Devan serta Meisya kembali saja.  "Balik, yuk." ajak Devan.  Meisya yang terlihat kesal pun mau tidak mau ikut berdiri. Lagi pula Yuda sudah pergi dengan terburu-buru. Hanya saja Meisya jadi penasaran dengan gadis itu. Dia sudah berada di rumah ini sejak lama pastinya karena sejak Meisya datang, gadis itu tidak terlihat melintasi ruang tamu. Lalu tiba-tiba saja keluar dari rumah Yuda untuk pamit pulang. Jika benar itu adalah pacar Yuda, mengapa Yuda tidak memberitahukannya kepada Meisya. Bukankah terakhir kali Yuda menyatakan perasaan kepadanya dan mengajak Meisya untuk menjalin hubungan sebagai kekasih. Akan tetapi sekarang sepertinya lelaki itu sudah menemukan gadis baru setelah penolakan dari Meisya. Dirinya menjadi penasaran namun bertanya kepada Devan tentu adalah kesalahan besar.  Devan juga terlihat acuh dan tidak peduli. Terlebih untuk urusan seperti itu.  Jadi Meisya akan mencari tahunya sendiri. ----------- Elsa biasanya pergi ke rumah Santi dengan mengendarai angkot namun ketika pulang malam seperti ini tentu dirinya tidak akan menemukan angkot menuju rumahnya. Untuk menghemat ongkos akhirnya ia pun berjalan kaki. Jalanan di sekitar kompleks perumahan Yuda masih terbilang ramai meski sudah pukul setengah sepuluh saat ini. Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di sebelahnya. "Sa. Ayo naik. Gue anterin pulang." Elsa menoleh dan rupanya itu Yuda. Dia pun menjadi bingung. Pasalnya di rumah Yuda masih ada tamu dan lelaki itu sekarang sudah berada disini menyusulnya dengan mobil. "Astaga kenapa repot-repot, Yud?" "Ayo naik. Udah malem." Malas berdebat hanya untuk menolak, Elsa pun memilih untuk segera masuk ke dalam mobil Yuda. Bila Yuda sudah sampai menyusulnya seperti ini maka menolak hanya akan membuat mereka berdebat panjang. Entah apa yang terjadi setelah Elsa keluar dari pekarangan rumah Yuda sehingga lelaki itu sekarang bisa berada disini meskipun masih ada tamu di rumahnya. Bila Elsa merasa tidak enak pun, semua ini sudah terjadi, bukan? Sementara itu mobil Devan yang berada di belakang mobil Yuda pun terhenti sementara. "Kenapa, Van?" tanya Meisya. Devan hanya diam saja dan menatap Elsa yang masuk ke dalam mobil Yuda. Meisya yang memperhatikan pandangan Devan pun akhirnya paham bahwa mobil sengaja dihentikan karena menunggu agar mobil Yuda di depan mereka jalan terlebih dahulu. "Gue kaget Yuda tiba-tiba bawa cewek ke rumah." Pasalnya selama ini Yuda tidak pernah melakukan hal tersebut. Sepengetahuannya, hanya Meisya seorang gadis yang pernah berkunjung ke rumah Yuda. Meskipun itu untuk beberapa urusan dan ditemani Devan. "Ternyata dia udah move on dari gue," ujar Meisya seraya menatap Devan. Devan mengetahui bahwa Yuda menyukai Meisya. Meisya yang memberitahunya bahwa sikap Yuda mulai berbeda. Yuda juga memberitahukan hal itu sebelum menyatakan perasaannya terhadap Meisya. Devan kira mereka akan menjadi sepasang kekasih. Akan tetapi Meisya justru menolak Yuda dengan alasan mereka sudah terlalu dekat sebagai sahabat. Rasanya aneh jika mereka tiba-tiba berpacaran. "Mending lo nggak usah pindah kelompok KKN," ujar Devan. "Kenapa, Van? Sebelumnya lo nggak komentar soal ini." Devan memang cukup apatis terhadap beberapa hal dan memilih untuk tidak ikut campur. Tadi juga ketika dirinya meminta agar Devan mengantar ke rumah Yuda untuk keperluan itu, Devan tidak memberikan komentar apapun. Devan tidak mendukungnya atau mencegahnya melakukan hal tersebut. "Bikin repot,"  ---------- Elsa benar-benar bangun siang hari ini. Akhirnya setelah sekian lama ia selalu bangun pagi, rasanya sangat menyenangkan sekali bisa bangun siang. Proyek freelance-nya telah selesai dan sekarang ia tinggal memulai proyek baru. Dirinya penasaran dengan kelompok KKNnya yang tidka kunjung bergerak. Yuda selaku koordinator kabupaten sudah membuat grup dan disana terdapat begitu banyak kontak. Seharusnya kelompoknya mudah terdeteksi dari sana. "Halo, Bram." "Pagi, Elsayang." Elsa memutar bola matanya malas. "Lo tolong mulai hubungi temen sekelompok KKN, ya? Buat grup gitu. Biar kita persiapan." Elsa semalam sudah mengirimkan pesan kepada Bram untuk mulai mencari teman-teman kelompok mereka. Supaya lebih cepat bergerak dan menyiapkan semuanya. Elsa hanya tidak ingin bila mereka menyiapkan secara mendadak, hasilnya tidak begitu bagus. Terlebih KKN akan berjalan selama 40 hari. Itu bukanlah waktu sebentar untuk menghabiskan waktu setiap hari bersama orang asing dalam satu kelompok.  "Ngapain harus gue, Sa? Kenapa nggak yang lain aja gitu." "Tapi ini nggak ada yang inisiatif. Gue juga nggak kenal siapa pun." "Lo aja kalo gitu." "Gue lagi banyak orderan ini." Untuk saat ini memang belum tapi Elsa akan mencari proyek freelance yang bisa dikerjakan hingga hari minggu. Berhubung dirinya sedang libur dan keberangkatan KKN masih dua minggu lagi, seharusnya ia memiliki cukup waktu untuk mengumpulkan uang. Dirinya akan menjalani KKN selama empat puluh hari dan selama itu ia tidak memberikan uang kepada para penagih hutang setiap hari minggu. Sebagai gantinya maka Elsa harus membayar sebelum dirinya berangkat KKN. Tentu itu membutuhkan uang yang cukup banyak. "Oke. Gue lakuin deh demi lo. Semangat kerja, Elsayang." Sambungan telepon pun terputus. Elsa kemudian bangkit dari kasurnya dan menuju kamar mandi. Rumahnya sangat sederhana tidak seperti rumah lamanya yang memiliki kamar mandi di setiap kamar. Rumah ini memiliki sebuah kamar mandi yang terletak di ruang tengah.  "Makan apa ya hari ini?" gumamnya seraya merenggangkan badan. Ia biasanya menjadwalkan menu masakan apa saja yang akan dibuatnya agar lebih mudah melakukan penghematan. Hanya saja untuk hari ini dia belum merencanakan apapun. Elsa langsung menuju dapur setelah selesai membasuh wajahnya, menggosok gigi, dan buang air kecil. Ia akan langsung memasak karena perutnya sudah merasa lapar. Dirinya akhirnya memasak telur goreng sebagai sarapan. Makanan sederhana sebagai jalan untuk berhemat. Hanya cukup menggoreng telor kemudian menambahkan kecap sambal favoritnya, itu sudah membuatnya kenyang. Nasi kemarin masih ada karena ia menanak cukup banyak.  Selesai sarapan, Elsa mencuci piringnya kemudian menyapu lantai. Pekerjaannya di rumah cukup ringan karena ia hanya perlu menyapu setiap hari. Jika sedang tidak banyak pekerjaan, ia akan rutin membersihkan rumah setiap minggu atau dua minggu sekali. Mencuci pakaian pun tidak terlalu banyak karena hanya pakaian dirinya sendiri. Langkahnya terhenti ketika menatap sebuah pigura di atas meja. Elsa mengambil pigura berukuran sedang tersebut kemudian menatapnya. Ia lantas menghela napasnya kemudian meletakkan pigura tersebut kembali seperti semula. Ia lantas mempercepat kegiatan menyapunya. Ketika kembali ke kamar, Elsa langsung memeriksa ponselnya. "Akhirnya ada grup." Ia merasa lega karena grup kelompok KKNnya sudah terbentuk. Jika sepertinya semuanya akan lebih mudah. Sebuah panggilan telepon masuk di kontaknya, sebuah nomor asing. Elsa pun mengangkat telepon tersebut. Dalam hati ia berharap bahwa itu bukanlah penagih hutang baru. "Halo.." "Do you remember me?" "Lano?" Rupanya anak kecil tampan itu yang menelpon. Elsa kira anak itu sudah lupa dengannya dan hanya bercana ketika bilang akan menelponnya. Rupanya anak itu benar-benar menelponnya sekarang. Elsa pun melirik jam di ponselnya. Saat ini menunjukkan jam sepuluh pagi dan hari ini hari selasa. Seharusnya anak itu sedang berada di sekolah sekarang. "Yes." "Ada apa?" --------- "Hei, i'm here." Elsa langsung menghampiri anak lelaki itu ketika memasuki ruangan UKS. Lano menelponnya dan meminta untuk datang ke sekolahnya karena ia baru saja terjatuh ketika pelajaran olahraga. Keadaannya baik-baik saja namun lututnya berdarah.  Sebenarnya Elsa heran mengapa anak itu justru menelpon dirinya. Tadi ketika ditelpon, seorang guru kemudian bicara dengan Elsa dan memintanya untuk datang. Menurut penuturan gurunya, keluarga Lano tidak ada yang dapat dihubungi. Kebetulan Lano hafal nomor ponselnya, jadi Elsa lah yang ditelepon oleh guru. Itu sebabnya Elsa segera mandi dan bergegas menuju alamat sekolah yang dikirimkan. "Lano nggak papa?" tanya Elsa. Anak kecil itu menggelengkan kepalanya. Seorang guru memintanya untuk mengajak Lano pulang agar beristirahat. Guru juga meminta maaf mewakili pihak sekolah atas kejadian ini.  "Kamu hafal alamat rumah kamu?" tanya Elsa.  Lano menganggukkan kepalanya. "Thank's for coming." Elsa teringat bahwa akan jauh lebih baik jika Lano dijemput oleh kakaknya yaitu Devan. Ia hanya merasa tidak enak sebagai orang asing seolah sudah sedekat ini dengan Lano. Padahal dirinya baru dua kali bertemu dengan anak ini. "Kita minta Kak Devan jemput gimana?" tanya Elsa. Lano kembali menganggukkan kepalanya. Elsa langsung mencari grup KKNnya untuk dapat menemukan kontak Devan, namun ia tidak menemukan kontak atas nama Devan. Bahkan ia baru sadar bahwa jumlah penghuni grupnya baru 9 orang, yang artinya satu orang lagi belum masuk kesana. Sudah sangat jelas bahwa orang itu adalah Devan. Ketika memeriksa grup KKN kabupatennya, disana juga tidak ada kontak atas nama Devan. Sepertinya Elsa memang harus mengantar Lano pulang ke rumahnya. "Lano, Kakak nggak punya kontak Kak Devan. Jadi Kakak yang anter kamu pulang ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN