"Maaf, Tari baru kumpulin empat juta. Yang satu setengah udah Tari kasihin Euis." Sebuah amplop berisi lembaran uang seratus ribuan, diserahkannya di atas telapak tangan gue. "Apa nih?" "Hasil jualan, sama royalti Tari. Karena belakangan jarang nulis, jadinya nggak sebanyak dulu juga dapetnya." "Maksudnya?" Tari meraih tangan gue. Diusapnya tangan itu. Kebiasaan dia, saat mau meyakinkan gue. Entah kenapa, dengan perempuan ini, gue gak bisa apa-apa kecuali menurutinya. "Janji Tari buat bayarin hutang Ibuk, sama semua fasilitas yang Mas kasih dulu." Ah, sial! Gue bahkan gak butuh uang ini. Kenapa dia masih saja keras kepala membayar semua, yang sudah dengan sukarela gue beri untuknya. Gue rengkuh dirinya dari samping ranjang, lantas gue peluk erat. "Kalo kamu maksa, bayar aku

