38. Bintang yang Takkan Redup

1575 Kata

"Mau kemana?" Kulewati begitu saja Mas Gamma yang berpapasan denganku. Begitu bertemu dengan salah seorang pegawai hotel terdekat dalam jangkauan, aku bertanya sembari tetap memposisikan tas kertas yang tadi Mama berikan, untuk pertolongan pertama jika benar aku muntah. "Kamar mandi ... dimana, Mba?" Dia menunjuk ke arah sayap kiri lobi. Aku berlari ke sana, diikuti Mama dan Mas Gamma yang suaranya masih terdengar di belakang. "Gamma, Tari mau muntah!" "Muntah? Dek? Kenapa? Ma?" Lega akhirnya bisa menemukan wastafel. Pintu toilet depan bahkan lupa aku tutup. "Istri kamu hamil ya? Mama sodorin arsik langsung mual." Aku mendengar Mama menanyai Mas Gamma di depan. Hamil? Ya Allah, sejak kapan aku nggak haid? "Dek, kamu udah telat ya?" Aku nggak menjawab. Perutku masih bergejolak.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN