37. Arsik Ikan Mas

1664 Kata

"Hai!" Aku terperanjat. Perlahan kumenoleh ke belakang. Astagfirullah! Dia muncul tiba-tiba dari keremangan koridor rumah sakit, di jam satu malam. "Mas?" Mas Gamma menyengir kuda. Canggung. Tangannya menggaruk rambut yang kata dia bergaya crew cut. Ganteng sih, sekaligus imut. Di cahaya seremang ini pun, dia ternyata masih saja terlihat bersinar. Mas Gamma datang dengan gaya kasual kaos putih, jaket coklat, dan celana hitam berbahan longgar. "Ngapain?" tanyaku. Terakhir aku meneleponnya adalah tadi setelah Irsyad meninggalkanku di Radiologi. Mas Gamma bilang, dia sedang akan persiapan untuk tidur. "Yuk?!" Mas Gamma menawarkan tangannya untuk kugenggam, lantas mengajakku berjalan menuju ke arah halaman lobi rumah sakit. "Mau kemana? Kok jam segini ke sini? Ada op cito ya?" M

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN