Sikap dia ternyata nggak berubah. Masih begitu ramah. Seolah sudah lupa, bahwa kemarin lusa aku sempat sedikit membentaknya. Aku meninggalkannya ketika dia masih menahanku. Seharusnya dia marah. Namun yang dia tampakkan, hanya wajah sumringah di balik gurat lelah dan pucatnya. Perjalanan selama satu jam menuju Bojong Gede terasa lama. Kemacetan, kecanggungan sekaligus debaran nggak menentu, menjadi satu memenuhi keheningan mobil beratap pendek ini. Apa yang harus aku lakukan jika benar dia ingin melamarku pada Bapak? Haruskah aku menolaknya? Kata Suster Marta, pamali menolak lamaran seseorang yang sudah menunjukkan keseriusannya. Ataukah aku harus memikirkannya sekali lagi? Seperti yang dilakukan Dena, yang ini fokus meluluskan pendidikannya lebih dulu. Aku bingung! Aku bingung!! Kep

