“Aku bakal temani kamu buat ngajarin dia basket sampai selesai.” Ali menghela nafas panjang berusaha mengontrol dirinya yang sudah sangat ingin memaki gadis di depannya ini. Namun mengingat pembicaraannya dengan Farel kemarin mengharuskan Ali untuk mengendalikan apa yang akan keluar dari mulutnya nanti. “Aku pacar kamukan? Harusnya kamu percaya sama aku,” ucap Ali selembut mungkin. Niken, yang tak lain adalah lawan bicara Ali kini terlihat mengeryitkan dahinya. Cukup aneh mendengar Ali yang selalu bersikap ketus padanya berubah menjadi manis. Meskipun membingungkan, namun hal itu mampu membuat Niken tersenyum semringah. “Tapi janji ya, kamu gak bakal macam-macam sama dia?” Ali menggeleng pelan. Tangan Niken terulur mengelus pipi Ali dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. Ali menge

