“Pokoknya gue benar-benar kesal. Kenapa harus Nata coba, kayak gak ada anak basket yang lain aja. Kalau gitukan gue jadi harus sering ketemu sama dia. Dianya mau aja lagi. Coba aja dia nolak, pasti pak Riki udah gantiin dia sama orang lain. Lo dengerin gue gak sih Gin?” Lelah bercerita panjang lebar sejak tadi namun tidak mendapat satu respons pun membuat Sisi menyentak Gino. Ia merasa seolah-olah berbicara dengan patung. Jangankan direspons, ditatap saja tidak. Gino malah asyik menyantap cheesecake di hadapannya. “Lo gak ngasih jeda sama sekali gue buat ngomong, jadi buat apa?” Balas Gino seadanya sebelum kembali melanjutkan makannya. Tadinya ia datang ke toko kue Sisi hanya untuk menyantap cheesecake yang entah sejak kapan sudah menjadi kesukaannya. Namun sesampainya disana ia harus men

