Iliana dengan lancar menjawab pertanyaan demi pertanyaan dalam sesi tanya jawab di acara bedah bukunya. Bahasa yang digunakannya indah, ringan, tegas, lugas, menarik dan mudah dimengerti. Penampilannya kali ini memukau banyak penggemar serta wartawan yang hadir. Alex adalah salah satu dari ratusan orang yang terperangah melihat tanggapan Zoeya yang membuat sisi cerdas, anggun, dan elegan gadis itu tampak menonjol.
Usai bedah buku, acara dilanjut dengan konferensi pers. Seorang wartawan melemparkan sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan Profesor Alex sedari tadi. "Sveta, apa alasan Anda menyembunyikan identitas selama ini? Lalu apa yang akhirnya membuat Anda tiba-tiba memutuskan untuk mengungkap jati diri?"
Iliana tersenyum manis, sebelum menjawab pertanyaan wartawan dengan tenang.
"Jujur saja, saya adalah pribadi yang tertutup, hampir-hampir misterius. Mungkin hanya secuil orang di lingkungan saya yang mengenal saya. Itulah sebabnya, mengapa lebih nyaman bagi saya untuk bersembunyi di dunia saya sendiri. Namun, seseorang telah menarik saya ke dunia nyata ini, dunia yang penuh kesalahpahaman bagi saya. Demi menunjukkan kepadanya siapa saya sebenarnya, saya harus mengungkap identitas. Agar tidak dituduh dan disalahpahami lagi," jawaban Iliana menohok relung hati Alex.
"Wah, pasti seseorang itu begitu berarti bagi Sveta?" Wartawan lain menambahkan.
Iliana mengangguk pelan, matanya menyorot tajam ke netra Alex. "Dia sangat berarti, tetapi dia mungkin tak pernah menganggap saya berarti."
Pertanyaan lain terus dilontarkan kepada Zoeya, seputar wacananya ke depan, agendanya, dan lain sebagainya. Iliana menjawab pertanyaan dengan sempurna. Setelah menjawab pertanyaan terakhir, Iliana melayani permintaan penggemar untuk berswafoto dan meminta tanda tangan.
Denting jam menunjukan pukul 19.00 WIB, urusan Iliana dengan para penggemarnya telah selesai. Langkah lelah Iliana masih didampingi beberapa staf redaksi dari penerbit dan promotor acara. Alex yang sudah sekian lama menunggu di depan pintu, tak kuasa menahan diri. Sebenarnya ia ingin menunggu tim Zoeya pergi, tetapi karena mereka tak kunjung meninggalkan sang penulis, Alex nekat menghampiri.
"Zoeya, boleh minta waktu sebentar?" tegur suara bas Alex semakin berat tertahan oleh kegugupan. Iliana berhenti dan menatap. Alex harap-harap cemas, menunggu jawabannya.
Iliana meminta rekan-rekannya pulang duluan, dan tak perlu mengkhawatirkannya. Ketika ia hanya berdua dengan Alex, Iliana meminta Alex segera mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Maaf sudah menyalahpahamimu, Zoeya."
"Aku maafkan," sahut Iliana singkat. Kecanggungan masih menyeruak jelas di antara mereka.
"Aku benar-benar malu menunjukan wajahku di hadapanmu, tapi kurasa aku akan gila jika tidak melihatmu lagi." Pandangan Alex sendu. Seolah mendung sedang menutup kharisma yang biasa berpendar di wajahnya.
Iliana memberikan pelukan hangat pada Alex, ia menepuk bahu Alex dengan lembut.
"Aku bersyukur kesalahpahaman kita sudah clear, Mas, " bisik Iliana lirih.
Pelukan Iliana bagai pengisi daya bagi Alex. Wajahnya langsung cerah, semangat hidupnya kembali menyala. Alex lega Zoeya tak memperpanjang masalah, padahal sebelumnya ia pikir Zoeya tak akan pernah sudi menemuinya lagi.
"Mas Alex?" Suara lantang seorang wanita di ujung selasar gedung mengejutkan Alex dan Iliana, yang sedang menikmati pelukan hangat.
Tatapan kepedihan bercampur amarah, terbendung kuat-kuat pada mata Zoeya yang dirasuki Iliana. Tangannya mengepal hingga kuku jarinya memutih. Iliana sampai meremas ujung blazer untuk menekan emosi.
"Jihan?" Alex terkejut.
"Apa yang kamu lakukan dengan wanita ini, Mas?" teriak Jihan mengintrogasi.
"Perkenalkan, aku Sveta. Biar kujelaskan apa yang sedang terjadi. Kami baru saja selesai dari acara bedah buku dan aku memberikan pelukan selamat tinggal pada Profesor Alex. Beliau sangat mengaggumkan. Maaf jika sikapku membuatmu salah paham." Iliana bertutur setenang mungkin. Ia mengulurkan tangan ke arah Jihan disertai senyum lembut.
"Jadi kamu Sveta, penulis legendaris itu? Ohh, maafkan aku sudah berteriak kasar pada kalian. Aku mengidolakanmu Sveta, banyak novel dan filmmu sudah kulihat. Betapa mengagumkannya dirimu yang ternyata masih muda. Boleh aku minta tandatanganmu?" Jihan langsung hangat dan ramah. Nama besar Sveta rupanya ampuh menaklukkan iblis betina itu.
Iliana hanya tersenyum sinis mendengar pujian dari orang yang telah menghancurkan hidupnya. Sambil menghela napas panjang Iliana memberi tanda tangan pada novel yang dibawa oleh Jihan.
"Boleh foto bersama?" Jihan mengulurkan kamera kepada suaminya, meminta Alex menangkap foto mereka.
"Oh tentu. Apa yang tidak untuk Nyonya Alex. Saya dengar Anda adalah desainer terkenal, saya merasa terhormat bisa berfoto dengan Anda." Iliana menyanjung Jihan dengan nada ironi.
"Bukan Jihan. Ia bukanlah desainer terkenal yang kamu maksud." Alex menyela ucapan Zoeya. Membuang muka dari sosok Jihan, Alex dengan tatapan sedih memandang lantai gedung. "Mungkin yang kamu baca adalah biografi Iliana, dia yang seorang desainer terkenal. Sementara yang saat ini di sebelahmu, adalah Jihan, adik dari Iliana."
"Ups, maaf. Ketidaktahuan saya sepertinya menimbulkan salah paham. Saya pikir Anda ini istri luar biasanya Professor Alex, yang pernah saya baca," timpal Iliana sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan Zoeya. Iliana sengaja membuat-buat perkataan luntuk memprovokasi Jihan. Iliana ingin Jihan mengeluarkan wajah aslinya, yaitu wajah iblis. "Sayang sekali bukan Nyonya Alex asli yang saya temui, padahal saya sangat menyukai rancangan-rancangannya," celetuk Iliana semakin membakar emosi Jihan.
"Apa maksudmu, istri yang asli?" semprot Jihan mulai kehilangan kendali, tetapi kemudian Jihan segera menguasai kembali emosinya. "Kakakku Iliana sudah meninggal. Sekarang akulah istri Mas Alex."
"Oh, begitu." Iliana mengangguk sambil menelisik ekspresi Alex yang coba disembunyikan. Alex menghindari tatapan Zoeya karena merasa situasi saat ini semakin memperburuk imagenya di mata Zoeya.
"Mainlah ke butikku lain kali, aku juga bisa merancangkan baju yang cantik untukmu." Jihan basa-basi sambil menahan emosi yang jelas berkobar di matanya.
"Baiklah, selamat tinggal Nyonya Alex." Iliana mengucapkan kalimat terakhir sebelum meninggalkan Alex dan Jihan.
Beberapa langkah berjalan, terbesit sebuah ide brilian untuk membakar hati Iliana. Dengan sedikit akting, Iliana pura-pura tergelincir karena tak bisa mengimbangi highheels-nya. Sontak Alex berlari untuk menangkap Zoeya ke dalam pelukannya.
"Kamu tidak apa-apa Zoeya?" Alex menahan tubuh Zoeya, membantu gadis itu berdiri.
"Auuuhhh. Sepertinya kakiku terkilir, Mas. Sakit,"pekik Iliana menampilkan wajah kesakitan. "Bisa tolong antarkan aku mencari taksi?"
Tanpa keraguan sedikitpun Alex mengangkat tubuh Zoeya dengan kedua tangannya, Iliana mengalungkan kedua tangannya ke leher Alex. Sebagai seorang suami, Alex seharusnya tak berjalan melewati istrinya sambil menggendong wanita lain. Hal itu sama dengan menyiram minyak tanah ke kobaran api, Jihan seperti akan meledak.
Alex menatap istrinya sekilas sembari berkata, "Jihan, sebaiknya kamu pulang duluan."
Sementara Iliana menatap ke arah Jihan yang baru saja mereka lewati dengan senyuman kemenangan. Adik tirinya pasti sedang meradang. Iliana bisa melihat dengan jelas bagaimana Jihan meninggalkan tempat itu dengan kekecewaan.
Begitu jihan menghilang dari pandangan Iliana, ia meminta Alex segera menurunkannya.
"Kamu bisa jalan?" Alex bertanya khawatir, ia enggan menurunkan Zoeya.
"Tidak apa-apa aku sudah merasa baikkan, Mas. Turunkan aku," pinta Iliana lembut.
"Aku akan mengantarmu pulang." Alex menurunkan Zoeya, tetapi masih protektif merangkulnya dari samping.
Seorang pemuda datang menghampiri mereka. "Zoeya .... Huhhhhh, akhirnya aku menemukanmu," panggil Dhani sambil mengatur napasnya.
"Dhani? Apa seseorang sedang mengejarmu?"
Dhani menggelengkan kepala dan menghampiri Zoeya untuk menggengam erat tangannya.
"Ternyata kamu Sveta, hampir loncat jantungku membaca berita kemunculanmu sebagai Sveta. Kenapa kamu tak pernah mengatakan apapun padaku, Zoeya?" sambut Dhani girang.
Profesor Alex segera menyingkirkan tangan Dhani, risih melihat kedekatan keduanya yang tampak spesial. "Jangan sembarangan pegang-pegang Zoeya. Lagipula dia sedang tidak enak badan, aku akan mengantarnya pulang. Jadi kamu lebih baik pergi," sungut Profesor Alex cemburu.
Mas Alex cemburu? Padaku?
Ahhh pada Zoeya....
Sepertinya aku harus membuat Mas Alex sedikit berusaha mendapatkan Zoeya. Dengan begitu nilai Zoeya akan lebih tinggi di mata mas Alex.
"Aku pulang bareng Dhani saja, Mas. Kami satu arah, lagi pula kamu ditunggu istrimu."
Iliana pergi bersama Dhani, membiarkan Alex membusuk, terkubur asumsi-asumsi negatifnya sendiri.
***
"Kamu bisa mengantarkanku ke suatu tempat?" tanya Iliana serius pada Dhani.
"Tentu saja." Dhani sumringah mengiyakan Zoeya.
"Apa sebaiknya kita cari makan dulu?" tawar Iliana sambil mengikat rambutnya tinggi, ia merasa gerah seharian tadi membiarkan rambut Zoeya terurai.
"Tidak, aku sudah makan. Tapi Zoeya, boleh nanya sesuatu enggak?" Dhani ragu.
"Silahkan." Iliana ramah.
"Sebenarnya siapa om-om tadi? Aku beberapa kali melihatnya ke kampus mencarimu dan tadi kamu bersamanya di sana?"
"Dia Profesor Alex. Memangnya kenapa?" Iliana tak mengerti mengapa Dhani penasaran sekali dengan Alex.
"Profesor Alex? Mungkinkah dia Profesor Alexander Nelson Tamsi itu? Si om-om tua bangka itu?" Dhani bertanya dengan mata terbelalak.
Iliana hanya mengangguk dan tersenyum konyol melihat tingkah Dhani.
"Aku tidak percaya! Kakakku adalah mahasiswanya Profesor Tamsi, dia selalu memuji ketampanan dan pesona Profesor Tamsi, setiap hari yang dieluh-eluhkan adalah Profesor Tamsi. Kakakku bilang Profesor Tamsi adalah dosen paling ganteng, gaul, muda, pintar, realistis, mengagumkan, dan teguh pada prinsipnya. Tidak mungkin om tadi adalah Profesor Tamsi?" gerutu Dhani untuk dirinya sendiri, membuat Iliana tersenyum geli.
"Apa mas Alex tidak tampan di matamu?" Iliana menenun hati Dhani yang semakin galau.
"Iya sih. Dia tampan, hidungnya mancung, matanya sipit, alisnya tebal, bibirnya merah, tubuhnya tinggi, dadanya bidang, lengannya kekar.
Oh shitttt! Semua itu sesuai dengan profil Profesor Tamsi yang digambarkan kakakku selama ini." Dhani kesal.
"Dia memang Profesor Tamsi, dekan yang selama ini diceritakan kakakmu." Iliana menjelaskan dengan gemas, membuat Dhani semakin frustrasi.
"Apa kamu menyukainya Zoeya? Apa hubungan kalian dekat? Aku mohon Zoeya jangan dia, jika kamu mengharuskanku bersaing melawannya, sungguh tak adil bagiku. Kualifikasiku bahkan tak ada secuil kukunya."
"Kamu manis sekali Dhani," kata Iliana sambil tersenyum dan menepuk halus kepala Dhani, seperti seorang kakak yang menepuk kepala adiknya dengan penuh kasih sayang untuk memberikan semangat pada Dhani.
Dhani jadi salah tingkah, ia melambung dengan harapan yang Iliana siratkan. Mereka akhirnya sampai ke tempat tujuan Iliana. Yaitu rumah Profesor Alex.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali," pinta Iliana pada Dhani.
Iliana berjalan menuju pos satpam untuk menemui Pak Darmin, dia berpura-pura menjadi saudara jauhnya Bik Ina agar bisa menemui Bik Ina. Namun, sayang, Bik Ina sudah dipecat oleh Jihan satu tahun yang lalu. Tepat seminggu setelah kematiannya, Iliana masih tak putus asa, dia meminta alamat Bik Ina pada pak Darmin. Setelah mendapat alamat itu, segera Iliana kembali ke mobil dan meminta Dhani mengantarnya ke alamat Bik Ina.
Syukurlah rumah Bik Ina belum pindah, Iliana lega bisa bertemu dengan Bik Ina yang menjadi kunci untuk menyelamatkan ibu dan puteranya. Iliana menjelaskan pada Bik Ina, bahwa dirinya adalah Iliana yang meminjam raga Zoeya, awalnya Bik Ina takut dan tidak percaya. Sampai akhirnya Iliana berhasil meyakinkan Bik Ina.
"Bibik tahun ini ulang tahun ke ena puluh, lima belas September kemarin."
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Aku Iliana, Bik. Percayalah."
"Jangan main-main!"
"Kita sering memberi makan Niko, apa kabar Niko sekarang ya, Bik?" Niko adalah kucing Iliana yang ia sembunyikan di luar rumah. Keberadaan Niko hanya diketahui oleh Iliana dan Bik Ina. Alex alergi bulu begitupun Evan, Iliana yang sangat mencintai kucing terpaksa diam-diam memelihara kucing di luar rumah.
"Neng Iliana, jadi benar itu kamu?!"
Bik Ina sepenuhnya percaya. Iliana sungguh-sungguh meminta bantuan Bik Ina untuk memberitahukan pada Profesor Alex tentang kelakuan Jihan yang memberikan Evan obat berbahaya selama ini.
Bik Ina setuju untuk membantu Iliana, tetapi Iliana harus mengumpulkan bukti kuat yang bisa ditunjukan pada Profesor Alex. Iliana kembali ke mobil dan meminta Dhani mengantarnya ke apartemen. Dhani hanya menuruti segala sesuatu yang diperintahkan Zoeya, maklum sudah bucin. Dhani mengantar Iliana hanya sampai depan gedung apartemen. Setibanya di apartemen, Iliana segera meninggalkan tubuh Zoeya, dia pergi ke rumah Profesor Alex untuk mengambil sampel minuman Evan yang telah dicampuri obat oleh Jihan.
***
Zoeya mulai mendengarkan rekaman pembicaraan Iliana selama dia merasuki tubuhnya. Ada rasa takjub, terkesima, terpukau, dan tak percaya mendengar hantu gila itu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dengan baik dan elegan.
Dengan mata terpejam dan tubuh yang terbaring di atas tempat tidur. Telinga gadis itu tetap terjaga. Kata demi kata yang keluar dari rekaman itu adalah informasi yang sangat berharga.
Sampai pada saat suara rekaman memutar percakapan Iliana dengan Dhani. Seketika tubuhnya terbangun, netranya membola, tak percaya dengan apa yang ditangkap gendang telinganya.
Dhani suka sama saya?
Dia sampai tidak mau saya dekat dengan profesor Alex.
Zoeya turun dari tempat tidur. Diambilnya lukisan pemberian Dhani. Netra kecokelatannya memandangi sketsa wajahnya itu, perlahan pipinya merona merah. Dia mengerti sekarang, apa yang menjadi kekuatan kecantikan Iliana. Di balik tatapan lembutnya, paras cantiknya, senyum cerahnya. Ada otak yang jenius dengan segudang ide brilian. Itulah mengapa wanita smart terlihat begitu cantik, sebaliknya wanita cantik tanpa otak yang cerdas terlihat seperti pepesan kosong.
Belum selesai semua isi rekaman itu didengar, seseorang memencet bel apartemen Iliana. Zoeya dengan santainya membuka pintu, dan ternyata yang datang adalah ....
"Profesor Alex?!" Gadis itu terkejut.
Bagaimana ini? Apa yang harus saya lakukan? Ke mana pula perginya hantu gila itu?
***
Bersambung...