Warda berada dalam situasi terjepit, bagaimana tidak? Biarpun barusan pemuda yang bernama Devan mengatakan jika pernikahan itu hanya sandiwara tapi tetap saja sah dan tercatat di KUA. Jika dalam setahun atau dua tahun dia memintai versi maka Warda nanti menjadi seorang Janda muda.
"Ayo buruan kita ke toko, semoga saja masih ada," sela Warda menarik Devan berlari masuk ke mobil Devan.
Devan menyeringai, sebab perangkapnya dalam menangkap kelinci kecil sudah berhasil.
"Kamu jual di mana?" tanya Devan.
"Lurus saja, nanti belok kiri. Ayo cepat!" jawab Warda panik.
Devan heran, kenapa masih ada gadis selain Lintang yang menolak pesonanya. Membuatnya semakin ingin menaklukkan Warda.
"Aku mungkin sudah gila, jika berbicara soal umur aku lebih cocok menjadi omnya. Tapi kenapa gadis kecil yang masih polos ini begitu memikat hatiku?" batin Devan.
Sesampainya di toko, para pelayan masih mengingat sosok tampan Devan yang beberapa waktu lalu juga mengajak wanita lain memberi cincin. Dan sekarang Devan datang lagi dengan gadis yang masih muda untuk mencari cincin juga.
Devan sadar jika dirinya tengah menjadi bahan obrolan para pelayan toko.
"Warda, kamu carilah sendiri. Aku mau ambil dompetku yang ketinggalan," sela Devan.
"Iya," jawab Warda.
Warda langsung menemui pelayan yang kemarin melayaninya.
"Kak, apa cincin yang kemarin saya jual itu masih ada? Kalau masih ada saya ingin membelinya lagi," tanya Warda dengan raut wajah cemas.
"Cincin yang mana ya? Maaf saya tidak ingat karena setiap harinya begitu banyak yang jual beli cincin. Tapi biasanya kalau cincin yang kondisinya masih bagus akan di panjang kembali di sana untuk di jual lagi, coba adik lihat saja," jawab pelayan tersebut.
"Terima kasih," balas Warda berlalu pergi ke bagian cincin.
Warda melihat satu persatu cincin yang di panjang, dia yakin jika kondisinya masih sangat bagus.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan lain.
"Cincin, saya mencari cincin keluaran terbaru yang kemarin saya jual. Katanya hanya ada satu model saja," pinta Warda penuh harap.
"Oh, kalau cincin yang edisi terbatas itu beberapa saat yang lalu sudah terjual lagi. Tapi hari ini juga ada keluaran terbaru, bagaimana?" tawar pelayan tersebut menunjukkan cincin yang begitu indah.
Namun, sayangnya sangat berbeda dengan yang dicarinya
"Tidak, terima kasih banyak," jawab Warda kecewa.
Warda melangkah pergi keluar dari toko. Dan saat berada di pintu dia bertabrakan dengan Devan.
"Bagaimana? Apa masih ada?" tanya Devan.
Warda hanya menggeleng putus asa.
"Kalau begitu ayo aku antar kamu pulang," sela Devan tertawa dalam hati.
Sungguh menyenangkan sekali bisa bermain dengan gadis kecil, dan wajah Warda memang sangat imut. Saat sedihpun Warda masih tampak menggemaskan dan sedap di pandang.
"Maafkan saya," ucap Warda mulai menangis.
"Tidak apa-apa, mungkin karena aku tidak berjodoh dengan tunanganku. Saat ini yang penting aku menikah saja dengan siapapun, asalkan nama keluargaku tidak tercemar," jawab Devan sengaja menyindir.
"Tapi saya masih kecil, mana pantas menikah," rengek Warda.
"Siapa bilang? Kalau sudah punya KTP itu tandanya kamu sudah dewasa," bujuk Devan.
"Tapi.. tapi..."
"Apa karena kamu sudah punya pacar?" sela Devan.
"Bukan, saya malah tidak pernah pacaran. Tapi bagaimana bisa kita menikah begitu saja?" Sergah Warda.
"Lalu mau bagaimana lagi?" ujar Devan pura-pura frustrasi.
"Saya belum siap menikah, saya masih harus bekerja keras untuk adik-adik panti," rengek Warda menangis lebih keras.
Ah... Devan merasa resah juga. Seakan dia telah menjadi orang jahat yang melakukan kriminal pada anak kecil. Tapi Devan juga tidak rela melepas Warda begitu saja.
"Kamu tinggal di panti?" tanya Devan.
Warda mengangguk dengan wajah memelas.
"Sial," batin Devan.
Devan benar-benar ingin memeluk Warda, tapi dia mencoba menahan diri takut dikatakan om m***m.
"Bagaimana jika kita membuat kesepakatan? Kalau kamu mau menikah denganku, perbulan kamu akan mendapat jatah uang. Kamu mau minta berapapun bisa, seratus juta, dua ratus juga atau lebih. Karena kamu istriku kamu bisa berbelanja seksual hati, bisa menggunakan uangku sesuka hati juga," tawar Devan.
Warda tersenyum, seumur-umur bahkan belum pernah membayangkan akan mendapat uang bulanan seperti itu. Kemudian Warda tersadar, jika sudah menikah tentu saja nanti dia harus melayani layaknya seorang istri.
"Tapi saya benar-benar tidak bisa," sela Warda.
"Apa yang membuatmu ragu lagi?" tanya Devan.
"Bukankah pasangan yang sudah menikah akan melakukan itu? Saya ini masih kecil dan belum pantas," ucap Warda malu-malu.
Devan ingin tertawa... Dia benar-benar ingin tertawa dengan pemikiran Warda yang begitu jauh sampai ke sana. Tapi Devan mencoba bersikap tenang.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan menyentuh kamu. Yang aku butuhkan hanya status saja kok," bujuk Devan.
Yah, bagi Devan yang penting sudah terikat pernikahan. Setelah itu dia bisa memancing Warda untuk memintanya. Karena perempuan yang sudah merasakan kehebatan ranjangnya akan selalu ketagihan.
"Benarkah?" tanya Warda seolah tidak percaya.
"Iya, kamu juga masih bebas bermain ke panti atau kemanapun yang kamu inginkan. Intinya setelah menikah kamu bisa menjadi Warda yang seperti saat ini," bujuk Devan.
"Lalu bagaimana dengan tunangan Anda?" tanya Warda.
"Dia sendiri kok yang memutuskan aku, jika aku menikah dengan orang lain maka dia tidak punya hak untuk marah," balas Devan cuek.
"Anda bilang pernikahan kita hanya sebatas status, jika suatu saat nanti saya jatuh cinta pada orang lain bagaimana? Apa Anda bisa melepaskan saya?" tanya Warda penasaran.
Devan terkejut, belum apa-apa gadis kecil di depannya sudah berani meminta izin berselingkuh.
"Anak ini, kamu harus aku beri pelajaran jika berani melakukannya," batin Devan.
"Oh boleh, kamu santai saja. Tapi jangan meminta cerai dalam waktu dua tahun. Nanti dikira aku bukan suami baik karena kamu sampai meminta cerai, karena hal ini nanti akan menjadi persoalan keluarga juga," jawab Devan menahan diri.
"Baiklah, kalau begitu meskipun setelah kita menikah, Anda juga bebas akan berkencan dengan siapapun, saya tidak akan ikut campur dengan urusan pribadi Anda. Kalau begitu saya setuju," jawab Warda.
Dewan tersenyum getir, tapi dia justru merasa tertantang untuk membuat Warda jatuh cinta padanya.
"Warda masih kecil dan polos, bahkan dia belum pernah berpacaran. Dan tampaknya Warda juga belum pernah merasakan jatuh cinta, baiklah kamu tunggu saja," batin Devan.
Devan mengantarkan Warda ke panti asuhan.
"Terima kasih, ya. Saya harus memanggil Anda om atau siapa?" tanya Warda.
Devan kesal, biarpun usianya memang terpaut jauh tapi dia juga tidak rela dipanggil om.
"Panggil Devan saja, lagian sebentar lagi kita akan menikah," balas Devan menyeringai.
Warda seketika memerah wajahnya, dan Devan sangat menyukainya.
"Aku minta nomor ponselmu, besok kita bicarakan lagi masalah pernikahan. Karena semua sudah siap dan tersedia kamu hanya perlu menyiapkan diri saja," ucap Devan.
"Apa? Memangnya kapan pernikahannya?" pekik Warda.
"Seminggu lagi," jawab Devan tersenyum tanpa dosa lalu melakukan mobilnya.
Warda masih bengong di tempat tadi, lututnya seakan lemas dan tak mampu menyangga tubuhnya sendiri.
"Ya ampun, seminggu lagi? Seminggu lagi aku menikah?" pekik Warda.