6. Cerdik Atau Licik

1003 Kata
Devan tidak bisa berhenti tersenyum ketika membayangkan ekspresi Warda tadi yang begitu menggemaskan, entah kenapa seleranya bisa berubah drastis seperti ini. Biasanya dia menyukai tipe gadis dewasa yang liar di ranjang, tapi kini justru gadis imut dan polos seperti Warda yang membuatnya tertarik. "Sudah lama aku tidak sebahagia ini, aku tidak menyangka berkah cincin yang tadinya kuanggap sial itu malah mempertemukan aku dengan gadis yang menarik," batin Devan. Sampai di rumah Devan langsung berbaring di tempat tidurnya, dia menatap cincin yang tadi dibeli untuk kedua kalinya sambil senyum senyum sendiri. Kemudian Devan teringat sesuatu, dia baru sadar kalau tadi juga ada perjanjian dengan Jeni. "Astaga, aku harus segera menghubungi Jeni," batin Devan. Devan segera menelpon Jeni, akan tetapi tidak di angkat juga. Akhirnya Devan mengirim pesan untuk membatalkan perjanjian pertunangan mereka. Pagi harinya Devan menuju ke rumah kakaknya untuk membicarakan soal pernikahan degan Warda, akan tetapi hal tidak terduga terjadi. Lintang dengan antusias mendekati. "Dev, aku senang sekali kamu dan Jeni mau bertunangan. Tidak aku sangka diam-diam kalian ada main dibelakang aku," ujar Lintang bahagia tapi pura-pura kesal. "Apa?" pekik Devan. Devan menatap Jeni, sedangkan gadis itu hanya menunduk. "Dev, kenapa kamu tidak bilang jika kamu ada hubungan dengan Jeni selama ini. Dengan begini aku kan bisa sejak awal bicara baik-baik dengan Keluarga Arafa," sela Yuta. Devan semakin kebingungan, sebab semua ini tidak seperti yang dia rencanakan. Devan segera menarik lengan Jeni dan membawanya keluar rumah. "Jen, ada apa ini? Apa kamu tidak membaca pesannya?" tanya Devan. "Semalam sepulang dari membeli cincin aku lupa melepasnya, akhirnya aku diinterogasi. Dan aku menceritakan kalau aku dilamar kamu seperti rencana kita. Setelah itu aku ketiduran dan baru baca pesan kamu pagi harinya. Bagaimana ini? Aku juga sudah telanjur bilang," jawab Jeni. Devan frustrasi, dia bingung harus bagaimana. "Sepertinya aku harus berbuat nekat," batin Devan. "Jen, sekarang kamu menangis lah!" pinta Devan. "Apa?" tanya Jeni. "Jangan banyak tanya! Menangis lah sekeras mungkin!" perintah Devan. Jeni melakukan apa yang diminta Devan, tak lama kemudian Lintang dan Yuta keluar dari rumah. Tepat pada saat itu Devan langsung bersujud di depan Jeni membuat semuanya bingung. "Ada apa ini?" tanya Lintang cemas. "Aku menghamili anak orang. Bagaimana ini? Aku takut melukai Jeni tapi aku juga tidak bisa lari dari tanggung jawab," rengek Devan. "Apa?" Pekik Yuta, Lintang dan Jeni serempak. "Dia masih masih kecil, baru lulus SMA. Waktu itu aku mabuk dan mengira jika dia salah satu pacarku. Sekarang dia hamil, aku harus bagaimana?" Yuta jadi teringat masa lalunya yang tanpa menodai Lintang di saat istrinya tersebut masih SMA. "Dev, jika kamu lelaki sejati kamu harus bertanggung jawab. Apalagi dia masih begitu muda. Kasihan masa depannya, takutnya jika dia berbuat nekat," bujuk Yuta. "Benar, segeralah nikahi dia sebelum perutnya membesar," timpal Lintang. "Maafkan aku ya, Jen. Aku tidak bermaksud mendoakanmu. Tapi aku melakukan kesalahan itu sebelum aku melamarmu. Tapi jujur saja saat aku melamarmu aku tidak ada niatan untuk mempermainkanmu," ucap Devan menatap Jeni. Jeni menunduk dengan kecewa, Devan merasa puas sebab Jeni bisa diajak kompromi. Hanya saja Devan tidak sadar jika Jeni sungguhan kecewa sampai meneteskan air matanya. "Jen, kamu yang sabar ya?" bujuk Lintang. "Iya, Jen. Kamu harus merelakan Devan. Devanlah yang tidak pantas untuk kamu," timpal Yuta. Jeni berlari masuk ke rumah sambil mengusap air mata. Devan langsung meraih ponselnya dan mengirim pesan untuk Jeni. Kerja bagus, aku tetap akan menghakimi seperti perjanjian kita. *************************** Warda semalam tidak bisa tidur memikirkan nasibnya, bahkan paginya dia sampai demam karena karena terlalu tertekan. Apalagi saat ponselnya berbunyi, melihat nama Devan yang muncul semakin membuat Warda sakit kepala. Akan tetapi mau tak mau dia mengangkatnya juga. "Ada apa, Om Devan?" tanya Warda dengan suara serak. "Astaga, jangan panggil aku om! Cukup Devan saja!" protes Devan kesal. "Eh, Iya maaf," ucap Warda salah tingkah. "Suara kamu kenapa serak begitu? Apa kamu sakit?" tanya Devan cemas. "Tidak kok," "Baguslah, kamu tidak perlu bekerja lagi. Karena nanti malam keluarga aku akan berkunjung ke situ untuk melamarmu?" "Apa?" pekik Warda terkejut. "Ya sudah kalau begitu, aku mau kerja dulu. Bye... Calon istriku," Sambungan telepon langsung tertutup. Warda kesal sekali, kenapa hidupnya menjadi seperti ini. "Haruskah aku jujur pada Bu Atin mengenai masalah ini? Tapi... Ah... Jangan sampai beliau tahu. Karena nanti akan merasa ikut bersalah dan bisa nekat menjual panti ini demi mengembalikan uang. Dan ujung-ujungnya masa depan anak-anak lain yang terancam. Aku harus berkorban sedikit saja,toh Devan juga sudah berjanji jika kehidupan aku masih bisa berjalan normal setelah menikah," batin Warda mencoba tegar. Warda bangun kemudian menemui ibu asuhnya. "Kamu sakit? Kenapa pucat begitu?" tanya Bu Atin. "Hanya kelelahan saja. Bu, aku mau cerita sesuatu," ucap sela Warda. "Apa? Ayo duduk sini," ajak Bu Atin penasaran. "Bu, ibu ingat kan seorang lelaki yang memberikan cincin itu? Dia kemarin tiba-tiba melamar saya," ucap Warda gugup. "Apa? Kamu kan masih terlalu kecil, apa kamu sudah siap?" tanya Bu Atin. "Aku hanya lelah saja, Bu. Kerja keras hasilnya hanya cukup untuk diri sendiri. Lagipula Dia baik dan kaya,mungkin dengan begini kehidupanku bisa lebih baik. Dan aku juga bisa menolong adik-adik yang lain." Bu Atin sangat terkejut dengan keputusan Warda yang mendadak ini. "Apa kamu yakin?" tanya Bu Atin memastikan. "Iya, Bu. Dengan begini juga akan ada orang yang menjagaku," balas Warda. "Jika memang ini sudah menjadi keputusanmu, maka ibu hanya bisa mendoakan saja. Semoga setelah menikah kehidupanmu menjadi lebih baik," jawab Bu Atin ikut senang. "Nanti malam keluarga pemuda itu juga akan datang kemari," sela Warda. "Baiklah, ibu akan bersiap-siap untuk menyambut mereka. Sebaiknya sekarang kamu istirahat saja biar nanti sehat lagi!" Warda patuh, diapun kembali ke dalam kamarnya. Dalam kebimbangan dia merasa jika keputusan ini tepat. Karena jika dia menikah dengan orang kaya setidaknya masih bisa membantu adik-adiknya. Saat Warda berniat tidur lagi, tiba-tba dia teringat ketika Devan memangilnya Calon istri di telepon tadi. Seketika wajah Warda tersipu malu. Warda tidak tahu bagaimana nasibnya nanti setelah menikah. Apalagi dia dan Devan juga baru beberapa hari saling kenal. Tiba-tiba Warda merasa nyeri juga, sebab meskipun Devan tampan dan tampak baik tapi pernikahan mereka bukan atas dasar cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN