Malam harinya Devan dan keluarganya sudah meluncur ke panti asuhan untuk melamar Warda. Dan betapa terkejutnya Yuta dan Lintang sebab Warda memang masih sangat muda. Bahkan Warda terlihat pucat dan kurang sehat. Mereka berpikir jika Warda frustrasi sebab hamil.
Sebelumnya Devan sudah memohon kepada kakaknya untuk tidak membahas soal kehamilan, dengan alasan takut jika ibu asuh Warda marah. Makanya malam ini Yuta hanya mengutarakan niat untuk melamar saja.
"Ibu, sebelumnya saya mau meminta maaf karena sudah berkunjung secara mendadak. Niat kami kemari untuk melamar Warda, semoga Ibu berkenan menerimanya karena adik saya sangat serius dan tulus menikahi Warda. Keluarga kami juga berjanji akan menjaga Warda dengan baik," ucap Yuta tanpa basa basi.
"Iya, saya sangat tersanjung kedatangan tamu besar seperti kalian. Tadi Nak Warda sudah menceritakan semuanya, jujur saja saya sendiri masih agak ragu sebab anak saya masih terlalu muda. Tapi karena dia bilang sudah siap saya hanya bisa mendoakan saja semoga kehidupan Nak Warda dan Nak Devan langgeng. Saya harap kalian bisa menerima Nak Warda apa adanya, sebab sejak kecil dia juga tidak memiliki riang tua lagi," jawab Bu Atin meneteskan air matanya.
"Iya, Ibu. Kami sendiri juga sudah tidak memiliki orang tua. Jadi kami tahu bagaimana rasanya. Saya akan memastikan jika setelah menikah kehidupan Warda akan semakin baik, dan tentunya adik saya akan menjadi sosok suami yang bertanggung jawab," timpal Yuta.
Setelah cukup lama membahas soal lamaran, Yuta juga tanpa basa-basi ingin melanhsungkan acara pernikahan seminggu lagi.
Semua serba mendadak, sebab Yuta takut jika menunda akan terjadi masalah. Apalagi jika soal Devan yang menghamili gadis muda sampai menyebar, tentu bisa merusak nama baik keluarga.
Devan sendiri hanya senyum-senyum sendiri, diam-diam dia melirik ke arah Warda yang tampak gugup dan salah tingkah.
"Tidak kusangka kebohonganku itu sangat jitu, dengan begini pernikahan aku dan Warda bisa cepat. Kenapa aku bisa segila ini ya? Semenjak aku bertemu Warda aku mulai bisa melupakan bayangan Lintang," batin Devan.
Di saat semua sedang menikmati hidangan dan saling bercanda, Devan mengajak Warda untuk keluar dan duduk di halaman depan panti.
Warda hanya patuh saja, sebab dia sendiri sedang kosong pikirannya.
"Warda, kenapa kamu sejak tadi bengong saja? Kamu sakit ya? Bagaimana kalau sekarang aku bawa kamu ke rumah sakit?" tanya Devan cemas.
"Tidak usah, sudah agak baikan kok. Lagipula aku tidak mau menyusahkan mu," tolak Warda.
Devan langsung menatap Warda serius, membuat Warda menjadi salah tingkah.
"Aku ini calon suamimu, tidak ada hal yang akan membuat aku susah untuk mengurusmu," ucap Devan serius.
Warda terkejut, sebab dia tahu pernikahan ini hanya untuk status saja. Akan tetapi ucapan Devan barusan membuatnya berdebar-debar.
Sedangkan Devan semakin larut dalam pikirannya, melihat bibir Warda yang begitu menggairahkan ingin sekali dia melumatnya.
"Astaga, pikiran kotorku sudah menggila," batin Devan.
Devan segera mengalihkan pandangannya ke arah panti, dia mengirup napas dalam-dalam agar tidak dirasuki keinginan bercintanya yang menggebu.
"Jadi kamu sejak kecil tinggal disini ya? Kita berdua memiliki nasip yang sama ya? Orang tuaku juga meninggal karena kecelakaan," ujar Devan.
"Iya, tapi aku tidak seberuntung kamu yang masih mempunyai seorang kakak," balas Warda.
"Kamu juga tidak sendiri, kamu memiliki Ibu panti dan juga adik-adikmu. Nanti setelah menikah kamu tidak perlu bekerja lagi, kamu juga bisa bebas menggunakan jatah uang dariku untuk membahagiakan adik-adikmu," ucap Devan serius.
"Terima kasih," jawab Warda.
Inilah yang membuat Warda memikirkan sisi baiknya menikah, dia bisa dengan mudah mendapat uang untuk orang yang disayangi.
"Besok pagi aku ajak kamu untuk mencoba gaun pengantin ya, aku akan menjemputmu," ucap Devan lembut.
Warda hanya mengangguk saja, sebab gadis itu merasa bingung mau bilang apa lagi. Rasanya begitu canggung menikah dengan orang yang baru dikenal.
"Kalau begitu ayo kita masuk, udara malam tidak bagus untukmu," ajak Devan menggandeng jemari Warda.
Devan hanya senyum-senyum sendiri dengan sikap Warda yang patuh, jemari kecil Warda terasa lembut.
"Sungguh konyol, sudah begitu banyak wanita yang aku rasakan tubuhnya. Tapi kenapa dengan gadis kecil ini hanya menggenggam jemarinya saja aku sudah sangat puas, apa aku ini masuk puber kedua?" batin Devan.
**************************
Pagi harinya Devan sudah menjemput Warda dan mengajak calon istrinya menuju tempat pemesanan gaun. Karena waktu yang mendadak sehingga Devan tidak bisa memesan gaun rancangan baru, melainkan memilih apa yang sudah ada di dalam toko.
"Warda, kamu pilihlah mana yang kamu suka," ucap Devan.
"Aku tidak tahu mana yang cocok untukku," jawab Warda minder pergi ke tempat yang sangat mewah.
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang membantu kamu memilih yang bagus," balas Devan tersenyum manis.
Devan sengaja memilih gaun yang simpel tapi menawan, sebab dia tahu jika Warda merupakan gadis sederhana yang belum terbiasa memakai gaun yang rumit.
"Cobalah, aku yakin sesuai denganmu!" pinta Devan.
Warda menerima gaun itu dan masuk ke dalam ruang ganti.
Devan dengan semangat duduk di kursi dan menunggu calon istrinya keluar, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada beberapa pesan dari Adit yang terkejut dengan kabar pernikahan Devan secara mendadak itu.
Devan tertawa, sebab nanti akan lebih mengejutkan lagi ketika teman-temannya tahu jika pengantinnya masih sangatlah muda. Dan berbeda jauh dengan para gadis yang dikencani selama ini.
Tak berapa lama kemudian Warda keluar dengan wajah malu-malu, kedua bola mata Devan seakan keluar saking takjubnya.
"Astaga, aku memang tidak salah pilih!" pekik Devan.
"Maksudnya?" tanya Warda heran.
"Maksudku aku tidak salah pilih gaunnya," timpal Devan tiba-yiba grogi sendiri.
"Oh, apa ini cocok untukku?" tanya Warda kurang percaya diri.
"Memutarlah!" pinta Devan.
Warda memutar tubuhnya,lalu Devan datang mendekat.
"Ini kamu kurang menaikkan resletingnya," tegur Devan langsung maju.
Saat Devan membantu menaikannya, tanpa sengaja jemarinya menyentuh punggung Warda. Seketika Warda bergidik merinding. Hal itu membuat Devan yang kelabakan sendiri.
"Astaga, gadis ini memang masih begitu polos dan belum tersentuh. Sungguh beruntungnya aku," batin Devan.
"Sudah belum?" tanya Warda panik.
"Kamu diamlah sejenak,rambutmu ada yang terselip," sela Devan.
Warda segera mengangkat rambutnya, dan kini lehernya yang mulus itu terpampang di depan mata Devan.
Devan seperti seorang Vampir yang tidak tahan ingin menghisap leher tersebut.
"Sial," umpat Devan benar-benar ingin mencumbu Warda.
"Kenapa?" tanya Warda penasaran.
"Aku kebelet ke toilet, kamu minta bantuan pelayan dulu ya!"
Devan berlari ke toilet, dadanya bergemuruh menenangkan hasratnya yang tinggi.
"Apa aku sudah gila? Dia masih kecil tapi aku ingin sekali memakannya," batin Devan.