Setelah Warda melepas gaun pengantinnya, dia duduk di sofa menanti calon suaminya yang lama sekali berada di toilet.
Tiba-tiba saja nomor teleponnya berbunyi, Warda terkejut juga sebab Bian yang biasanya cuek menghubunginya.
"Ada apa, Kak Bian?" tanya Warda.
"Kamu kenapa tidak masuk kerja?" ucap Bian balik bertanya.
"Oh, aku ada acara keluarga. Kenapa, Kak Bian?"
"Kamu taruh dimana kuitansinya?"
"Oh, ditempat biasanya," balas Warda merasa aneh.
"Baiklah kalau begitu, aku tutup dulu."
Sambungan telepon langsung mati, Warda sendiri merasa sangat aneh kenapa seorang Bian bisa menelepon hanya menanyakan kertas kuitansi. Padahal Warda juga meletakkan di tempat biasanya.
"Siapa Bian?" tanya Devan yang sudah berada di belakang Warda.
"Dia teman kerja aku," jawab Warda kaget.
"Kenapa dia terlihat gugup? Apakah karena dia dan Bian ada hubungan istimewa? Kenapa saat ditanya Warda tidak bilang kalau sedang bersama calon suaminya melainkan berbohong acara keluarga?" batin Devan curiga.
"Devan, kita sudah selesai kan?" tanya Warda.
"Sudah, ayo kita cari makan dulu. Aku lapar," ajak Devan menahan kesal.
"Kenapa aku jadi marah begini? Apa karena aku cemburu? Mood aku buruk sekali, gara-gara hasratku yang tidak tersalurkan. Sial, gara-gara gadis kecil ini tadi aku sampai memuaskan diriku sendiri di kamar mandi. Sangat memalukan bagi seorang aku melakukan hal itu," batin Devan.
Devan selama ini memang termasuk. Pemuda yang dikerubungi wanita, tanpa mengeluarkan rayuan gombal sangat mudah bagi Devan untuk mengajak bercinta. Bahkan terkadang malah mereka sendiri yang memancing Devan duluan, tapi sayangnya hubungan itu tidak bertahan lama. Karena Devan mudah bosan.
Warda sendiri juga hanya diam saja, dia tidak berani mengajak ngobrol duluan. Terlebih lagi dia masih merasa canggung dan sungkan, seolah Devan adalah majikannya.
"Kamu suka makan apa?" tanya Devan.
"Aku apapun suka," jawab Warda.
Devan langsung mengajak Warda ke tempat biasanya dia makan. Devan memesan makanan cukup banyak, dia merasa kasihan pada Warda yang tampak kurus itu.
"Kenapa banyak begini? Apa kita bisa menghabiskan?" tanya Warda.
"Biar kamu lebih berisi, masa iya seorang istri Devan kurus begitu nanti dikira aku tidak merawatmu dengan baik," jawab Devan.
Warda semakin gugup saja setiap kali mendengar Devan menyebutnya sebagai calon istri.
Tiba-tiba saja datang seorang wanita dewasa yang sangat cantik, dari belakang merangkul Devan dan mengecup pipi Devan.
Devan langsung tersentak kaget dan melirik ke arah Warda, tapi Warda bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.
"Hay Beb, kebetulan kita bertemu di sini. Tadi pagi aku ke rumah kamu loh, aku kangen kamu tahu."
Dengan rayuan manja wanita dewasa itu memeluk Devan dari belakang dan sengaja menempelkan buah dadanya yang montok ke punggung Devan.
"Fan, kamu jaga sikapmu! Ini di depan umum!" pekik Devan kesal dan tidak enak pada Warda.
"Baiklah, kalau begitu nanti malam saja deh. Kamu sedang makan dengan siapa? Adik kamu apa keponakan kamu? Imut sekali dia," jawab Fanya percaya diri.
"Saya keponakan jauhnya," sela Warda.
Devan semakin kesal, padahal dia baru saja mau bilang kalau Warda merupakan calon istrinya. Siapa sangka Warda malah menjawab seperti itu.
"Wah, baru kali ini aku melihatmu. Perkenalkan, nama aku Fanya, kekasih om kamu. Lain kali kita jalan-jalan bersama yuk?" ajak Fanya ramah.
"I... Iya," jawab Warda.
"Fan, kamu sudah ditunggu temanmu itu!" sela Devan dengan wajah masam bermaksud mengusir Fanya.
Fanya yang tahu karakter Devan langsung berpamitan pergi tidak mau menganggu lagi.
Setelah itu Warda dan Devan melanjutkan makan dengan suasana canggung dan membeku.
Mereka saling diam dan membisu, Devan kesal tapi Warda malah bersikap biasa saja.
Setelah makan, Devan langsung membayar tagihan dan mengajak Warda pulang.
Di dalam mobil Devan akhirnya membuka mulut duluan sebab tidak tahan.
"Warda, maafkan aku. Tadi itu..."
"Tidak apa-apa, aku tahu kamu seorang pemuda sukses. Hal yang sangat wajar memiliki banyak kekasih. Setelah kita menikah bukannya kita tidak akan mengurusi urusan satu sama lain? Jadi kamu mau pergi dengan siapapun nanti aku juga tidak akan melarang marah," jawab Warda riang.
Devan terkejut, jawaban Warda barusan sangat melukai hatinya. Padahal Devan menganggap serius pernikahan ini dan berharap mereka bisa hidup bahagia.
"Ternyata Warda belum memiliki perasaan padaku, tunggu saja. Aku akan membuat kamu jatuh cinta padaku," batin Devan.
"Warda, apa kamu sebenarnya sudah punya pacar?" tanya Devan penasaran.
"Tidak, aku belum pernah pacaran. Saat ini juga belum ada pikiran untuk hal itu."
Devan merasakan ketenangan Warda seperti air laut, kemudian berubah menjadi ombak yang memporak-porandakan jiwanya.
"Warda, pantas saja aku begitu tertarik padamu. Itu karena kamu memang gadis istimewa," batin Devan.
Devan kemudian masih merasa enggan untuk berpisah dengan Warda, pemuda itupun sengaja memilih jalur lain agar lebih lama sampai di panti. Akan tetapi tidak disangka jika Warda tertidur dan terlihat begitu pulas.
Saat lampu merah, Devan melirik ke arah Warda. Seketika tangannya reflek menyentuh kening Warda.
"Masih agak panas, sepertinya dia masih belum sehat sepenuhnya. Sebaiknya aku bawa ke rumah sakit saja," batin Devan.
Kemudian mata Devan tertuju pada bibir Warda yang mungil dan menggemaskan. Selama ini yang dia rasakan adalah bibir para wanita yang diolesi dengan lipstik tebal. Sedangkan kali ini yang dilihatnya adalah bibir polos tanpa polesan.
"Dia tampak begitu rapuh, hatiku sangat ingin melindunginya. Tapi sepertinya dia masih belum bisa membuka hatinya untukku karena pikirannya masih sangat polos seperti anak kecil. Mungkin aku yang harus lebih sabar mendekatinya, tapi biarpun begitu aku tidak tahan juga untuk tidak menyentuhnya," batin Devan.
Devan dengan reflek mendekati wajah Warda, karena rasa penasaran yang tinggi pemuda playboy itu menyentuhkan bibirnya ke bibir Warda. Terasa lembut dan manis, bercampur seperti sengatan listrik yang membuat tubuhnya kembali bergejolak.
"Enak sekali, seperti buah yang sedang manis-manisnya," batin Devan segera kembali ke tempat duduk semula.
Lampu hijau menyala, Devan langsung melajukan mobilnya kembali. Untung saja Warda tidak sadar jika tadi dicium.
Devan senyum-senyum sendiri, akan menyenangkan jika nanti setelah menikah menggoda Warda seperti itu. Devan yakin, jika mencium Warda yang dalam keadaan bangun pasti gadis itu akan bereaksi menggemaskan dengan segala tingkah lucu dan gugupnya.
"Aku jatuh cinta... Aku sudah jatuh cinta pada anak yang masih ingusan,"