Begitu Warda terbangun, dia menyadari berada di parkiran rumah sakit.
"Kenapa kita kemari?" tanya Warda heran.
"Kamu masih sakit, harus segera mendapat perawatan," jawab Devan.
"Hanya demam biasa, bukan masalah besar," sergah Warda.
"Tapi seminggu lagi kita menikah, aku tidak ingin membuat orang lain mengira aku telah memaksamu," sela Devan.
Warda termenung, jika dipikir-pikir kenyataanya pernikahan itu juga kerena terpaksa.
Tiba-tiba ada panggilan video dari kakaknya.
"Ada apa, Kak?" tanya Devan.
"Aku hanya penasaran saja, bagaimana kamu saat memakai baju pengantin," ujar Yuta tertawa.
"Tentu saja adikmu ini sangat tampan, tapi aku sudah selesai kok. Ini lagi ke rumah sakit," jawab Devan santai.
"Ngapain?" tanya Yuta terkejut.
"Memeriksakan kondisi Warda."
"Aku senang karena adikku ini sudah bisa bertanggung jawab," balas Yuta.
"Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu," sela Devan.
Devan hanya nyengir sendiri, sebab Yuta pasti mengira jika mereka ke rumah sakit sedang memeriksakan soal kehamilan.
Devan segera keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Warda.
Dalam hati Warda merasa bingung, kenapa calon suaminya itu sangat perhatian. Padahal jelas-jelas Devan sudah memiliki kekasih bahkan baru putus dari tunangannya.
"Jadi dia baik pada semua orang, aku harus lebih waspada. Jangan sampai aku terpikat dengan kebaikannya, karena aku tahu pada akhirnya aku akan terbuang," batin Warda.
Setelah memeriksakan ke dokter, mereka langsung menebus obat. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Warda, mulai sekarang kamu jangan bekerja ya? Ini adalah kartu debit. Kamu bisa menggunakan sesuka hatimu, nanti kalau sudah menipis akan aku isi lagi," ucap Devan.
Warda menerima sambil kebingungan sendiri, karena dia tidak terbiasa menerima barang bahkan uang yang berjumlah besar dari seorang lelaki.
"Kenapa?" tanya Devan.
"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Warda.
Devan dengan senyuman manis mengelus poni Warda.
"Kamu istriku, apapun yang aku miliki juga milikmu. Begitu juga sebaliknya."
Entah kenapa Warda merasa agak gimana gitu mendengar ucapan Devan barusan, hati perempuan mana yang tidak akan berdebar jika diperlakukan seperti itu.
*****************************
Malam harinya setelah minum obat Warda berniat untuk tidur, akan tetapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dan itu merupakan panggilan telepon dari calon suaminya.
"Ada apa?" tanya Warda.
"Hanya mau memastikan saja, kamu sudah makan dan minum obat belum?"
"Sudah, ini lagi mau tidur."
"Baiklah kalau begitu, selamat tidur ya. Semoga mimpi indah.".
Sambungan telepon tertutup, Warda menaruh kembali ponselnya di atas meja yang dekat dengan tempat tidurnya.
Kemudian Warda merenungi sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Bukankah Devan tadi juga punya pacar yang terlihat sayang banget padanya? Kalau begitu kenapa dia malah meminta aku yang menggantikan pernikahan? Kenapa harus aku? Dia kaya, tampan dan sepertinya juga punya banyak pacar. Aku yakin salah satu dari pacarnya akan senang jika diajak menikah."
Warda semakin merasa pusing dengan semua ini, terlebih lagi jauh dilubuk hatinya masih belum siap untuk menikah dini.
Karena semalaman tidak bisa tidur, pagi harinya Warda terbangun kesiangan. Dan ibu asuh beserta adik-adiknya tidak ada yang membangunkannya sebab mengira jika dia masih sakit.
Samar-samar Warda mendengar suara sorakan anak-anak.
Karena penasaran Warda segera bangun, mandi dan keluar dari kamar untuk melihat keadaan.
Rupanya di ruang tamu semua anak-anak sedang berkumpul, Warda baru ingat jika hari ini hari Minggu dan mereka semua libur sekolah.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Warda penasaran.
"Kami lagi mau membuka hadiah dari Kak Om Devan."
"Om Devan?" pekik Warda menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada siapa-siapa.
"Om Devan sedang mengobrol dengan Ibu asuh di halaman depan."
Warda langsung berjalan keluar, dia semakin kaget saat Devan datang mendekatinya dan tangannya menyentuh keningnya.
"Syukurlah kamu sudah baikan kalau begitu acara kita hari ini jadi," ujar Devan tersenyum senang.
"Acara apa?" tanya Warda penasaran.
"Warda, Nak Devan mau mengajak kita semua untuk jalan-jalan ke taman hiburan mumpung hari Minggu. Tapi adik-adik kamu mau berangkat kalau kamu sudah baikan," sela Bu Atin.
"Beruntungnya kamu memiliki adik-adik yang pengertian," sela Devan.
Warda tidak mungkin menolak, sebab dia tahu jika adik-adiknya itu jarang jalan-jalan. Dia sendiri dari dulu juga ada niatan untuk mengajak mereka jalan-jalan, sayangnya uangnya tidak cukup sebab banyak biaya kalau orang banyak.
"Baiklah, kita berangkat jam berapa?" tanya Warda.
"Sekarang jam 7 pagi. Kalau begitu kita berangkat setengah jam lagi, ayo suruh adik-adikmu untuk bersiap-siap sambil menanti bus mini datang, nanti sarapan pizza di dalam bus saja biar aku pesan dari sekarang," jawab Devan.
"Kalian jaga adik-adik kalian ya, karena mereka masih kecil pasti sering melakukan tindakan sembrono," pinta Bu Atin.
"Loh, Ibu tidak ikut?" tanya Warda heran.
"Tidak, ibu mau menjaga adik-adik kamu yang masih bayi dan balita, kalau Ibu pergi nanti siapa yang menjaga mereka?" balas Bu Atin.
"Oalah," gumam Warda merasa sedih.
"Ibu ini sudah terlalu tua, dan juga sudah puas jalan-jalan. Berbeda dengan adik-adikmu yang sedang dalam masa senang-senangnya," bujuk Bu Atin.
"Baiklah, kalau begitu Warda juga mau siap-siap," ucap Warda.
"Warda, tak perlu membawa apapun. Karena aku sudah memesan makanan dan kebutuhan yang lain," sela Devan.
Warda tersenyum, dia merasa sangat senang sekali karena calon suaminya juga memikirkan adik-adiknya.
Tepat semua orang sudah bersiap, muncul bus mini dan juga pesanan Devan.
Semua anak-anak bersorak bergembira, hal itu membuat Warda terharu sampai meneteskan air matanya.
Devan hanya tersenyum melihat calon istrinya, pemuda itu tahu bagaimana cara untuk membuat Warda bahagia. Bukan karena perhiasan dan barang bermerk, melainkan kebahagiaan adik-adik pantinya.
Ketika semua anak sudah masuk dan diberi jatah makanan dan minuman masing-masing, mereka sibuk sarapan.
Devan langsung menggandeng jemari Warda untuk masuk ke dalam bus mini. Mereka berdua duduk berdampingan, Warda merasakan kehangatan yang belum pernah dirasakan selama ini.
Beberapa menit setelah Bus berjalan, tiba-tiba ponsel Devan berbunyi.
"Angkatlah!" ucap Warda.
"Halo, ada apa Jen?" tanya Devan.
"Kita harus ketemu, aku mau mengembalikan cincin lamaranmu," pinta Jeni.
"Kita bahas nanti saja, aku sedang sibuk," jawab Devan langsung menutup teleponnya.
Warda mendengar percakapan mereka di telepon, tapi dia memilih untuk tidur bersandar di jendela dan pura-pura tidur.
"Cincin lamaran? Apa dia melamar wanita lain lagi? Astaga... Aku harus mulai terbiasa dengan hal ini. Apalagi pernikahan kita juga bukan karena cinta. Jadi aku tidak punya hak untuk marah," batin Warda memejamkan matanya.
Sedangkan Devan melirik ke arah Warda, pemuda itu mengira jika Warda beneran sudah tidur.
"Sepertinya dia masih belum sehat betul," batin Devan.
Devan memindahkan kepala Warda ke lengannya agar lebih nyaman.
"Bagaimana ini? Haruskah aku bangun atau pura-pura tidur?" batin Warda.
Jujur saja Warda ada perasan kesal, tapi dia juga tidak ingin terlihat marah hanya karena calon suaminya dekat dengan wanita lain.
Beberapa detik kemudian Warda merasakan bibir yang lembut mengecup keningnya.
"Apa dia menciumku?" batin Warda semakin panik.