Warda sangat tegang, ciuman lembut barusan seakan terus membekas di keningnya.
"Aduh… Bagaimana ini? Tapi jika aku tiba-tiba bangun nanti akan canggung sekali. Atau aku pura-pura tidak tahu? Tapi leherku pegal seakan mau patah kalau terus bersandar padanya, bagaimana ini?" batin Warda.
Saking tegangnya jemari Warda sampai berkeringat dingin. Untung saja ponselnya berbunyi, sehingga dia punya alasan untuk bangun.
Warda membenarkan posisi duduknya dan menoleh ke arah Devan.
"Maaf, aku ketiduran," ucap Warda mencoba bersikap biasa sambil menguap.
"Tak masalah, kalau kamu mengantuk bisa bersandar padaku sesuka hati," jawab Devan tersenyum manis. Sebenarnya dalam hati Devan ada ketakutan jika ciuman tadi membuat Warda marah. Namun, dari sikap calon istrinya itu menunjukkan jika Warda tidak tahu.
"Kak Bian, tumben menelponku. Ada kepentingan apa?" tanya Warda terkejut juga.
"Kamu sekarang sedang sibukkah? Aku mau minta tolong padamu," jawab Bian tanpa basa-basi.
"Kalau sekarang aku sedang menemani adik-adik liburan, lain kali saja ya kak," jawab Warda.
"Oh, baiklah kalau begitu. Besok sore aku jemput ya sebelum berangkat kerja?" tawar Bian.
"Tidak usah, Kak. Kita bertemu saja di konter," tolak Warda secara lembut.
Warna merasa heran, sebab tidak biasanya teman kerjanya itu menelponnya.
"Siapa Bian?" Selidik Devan.
"Dia kakak senior ditempat kerja," jawab Warda.
"Oh, tapi aku sarankan sebaiknya kamu tidak usah bekerja lagi. Karena beberapa hari lagi kita akan menikah," sela Devan.
"Tapi…"
"Nanti dikira aku tidak memberimu nafkah oleh ibu kamu," sergah Devan.
Menggunakan nama Bu asuhnya rupanya Warda tidak punya kata-kata untuk membantah. Apalagi kemarin dia memberi alasan menikah sebab karena ingin ada yang memberinya uang sehingga bisa menolong adik-adik tanpa susah payah.
Warda menundukkan kepalanya yang masih terasa pegal.
"Terima kasih," ucap Warda memecah kecanggungannya.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Devan penasaran.
"Untuk semuanya, termasuk hari ini. Sebenarnya sudah sejak lama aku ingin mengajak adik-adik jalan-jalan. Aku hanya ingin mereka bisa merasakan kehidupan normal walaupun sudah tidak memiliki ayah dan ibu," jawab Warda.
Devan bisa menangkap ketulusan dari sorot mata Warda, dia semakin kagum sebab dibalik kepolosan dari tubuh mungil itu tersimpan jiwa yang besar.
"Devan, setelah menikah nanti kamu bisa bebas mau bersama wanita manapun. Karena aku sadar pernikahan kita ini hanya sebatas di atas kertas. Tapi aku hanya ingin meminta agar tidak ketahuan oleh orang panti, apalagi ibu asuhku. Jika hal itu terjadi mereka akan hancur," pinta Warda setelah memikirkan untuk waktu yang lama.
"Warda, jika kita menikah seperti pada pasangan sesungguhnya bagaimana? Maksud aku tidak ada sandiwara di antara kita?" batin Devan.
Devan ingin sekali mengucapkan kata-kata itu, tapi dia teramat takut membuat Warda yang masih lugu menjadi tidak nyaman dan justru menjauhinya.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan melakukan sesuatu yang bisa membuat keluarga kamu gelisah. Begitu juga sebaliknya, aku minta di depan keluargaku kamu bersikap seolah begitu mencintaiku," balas Devan.
"Tapi terus terang saja, aku takut tidak bisa. Aku tidak tahu bagaimana …."
Jemari Devan menyentuh bibir lembut Warda, kemudian kedua matanya menatap sayu ke Warda.
"Aku akan mengajarimu secara perlahan menjadi istri yang baik," bisik Devan serius.
Warda langsung berpaling ke arah jendela, malu sekaligus ingin menenangkan diri dari debaran aneh yang takutnya disadari oleh calon suami palsunya.
Sedangkan Devan ingin tertawa, sebab bermain dengan anak kecil sangat menarik.
"Apa yang aku ucapkan barusan tidak main-main, Warda," batin Devan yakin.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang mereka sampai di tempat tujuan. Begitu Bus mini berhenti diparkiran, para anak-anak bersemangat untuk turun.
"Hei, kalian tidak boleh berpencar ya? Harus satu kelompok," teriak Warda agak cemas.
"Iya, Kak," jawab mereka patuh.
"Jangan berlarian. Dan turun secara teratur," pinta Warda.
Mereka begitu patuh, dan Devan melihat kejadian itu mulai berimajinasi memiliki anak sendiri.
Setelah semua keluar, kini hanya ada Warda dan Devan berduaan. Karena Devan masih asyik dalam khayalannya sehingga belum beranjak dari kursi. Warda agak sungkan juga meminta Devan untuk menyingkir karena dia tidak bisa lewat.
"Maaf, aku mau menyusul adik-adik. Apa kamu akan menunggu di sini atau ikut bersama kami?" tanya Warda hati-hati.
"Oh, iya," jawab Devan malu dengan tingkah konyolnya.
Karena hari libur, antrian membeli tiket sangat panjang. Devan meminta semua anak untuk menunggu, sedangkan dirinya dengan reflek menggenggam jemari Warda mendekati loket.
"Aku bukan anak kecil, tidak akan tersesat," protes Warda sambil melepaskan diri dari genggaman Devan.
"Sebagai suamimu aku hanya ingin menjagamu," jawab Devan percaya diri.
Bukk....
Wajah Warda menabrak d**a bidang Devan sebab mendapat tekanan dari arah belakangnya.
"Aduh!" Pekik Warda kesakitan.
"Bagian mana yang sakit?" tanya Devan cemas.
"Hidung," rintih Warda.
Devan kemudian meniup hidung Warda, dalam jarak sedekat itu membuat Warda merona merah. Sampai ketika Devan kemudian... Cuppp...
Bibir Devan tepat mengenai bibir Warda yang lembut.
"Devan!" pekik Warda sambil menutup mulutnya dengan jemarinya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri karena malu pada semua orang.
"Maaf, tadi tubuh aku terdorong juga dari belakang," jawab Devan meringis menutupi kebahagiannya.
"Aku lelah berdiri terus, sebaiknya aku menunggu bersama adik-adik," sela Warda langsung mencari celah untuk kembali ke belakang.
Devan tidak tahu kenapa dengan dirinya, setiap kali melihat Warda seperti ada perasaan ingin mengecup dan memeluk erat. Akan tetapi berbeda dengan wanita lain yang hanya berpikiran tentang hasrat, bersama Warda seperti perasaan ingin melindungi dan tidak akan membiarkan Warda pergi jauh.
"Dia masih kecil, aku tidak boleh membuat dia takut. Apalagi dia gadis polos yang bahkan belum pernah pacaran. Warda… Aku sungguh mencintaimu, izinkan aku untuk menjaga dan membahagiakanmu," batin Devan.
Setelah bersabar, mereka semua akhirnya bisa masuk. Devan salut karena anak panti biarpun tampak bahagia tapi tetap bisa mawas diri dan menjaga sikap tenang. Biasanya jika anak pada umumnya akan berlari ke sana kemari untuk membeli dan bermain ini itu.
"Mereka sangat disiplin ya?" ujar Devan.
"Iya, karena sejak dini kami selalu ketat dan mengajari tentang kedisiplinan. Agar kelak mereka semua bisa menjadi anak yang sukses," jawab Warda penuh harap.
"Oh iya, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat," pinta Devan teringat sesuatu.
"Kemana? Bagaimana dengan adik-adik?" tanya Warda cemas.
"Kamu tenang saja, aku akan menyuruh anak buahku untuk menjaga mereka," jawab Devan santai.
Tak lama kemudian datang 4 orang lelaki seumuran Devan yang memakai jas hitam dan kaca mata hitam. Mereka tampak begitu tampan dan gagah.
"Kok mereka cepat sekali datangnya?" tanya Warda heran.
Devan nyengir, tentu saja ini memang sudah direncanakan dari awal.
"Kalian jaga anak-anak itu ya, perlakukan mereka dengan baik dan jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!"
"Siap, Bos!"
"Adik-adik, Kak Warda mau aku ajak ke suatu tempat dulu ya. Kalian kalau mau jajan atau naik apa tinggal minta sama kakak-kakak itu!"
Semua anak-anak tampak bergembira dan langsung minta ini itu ke anal buah Devan.
"Sudah beres kan? Ayo kita jalan," ajak Devan.
Lagi-lagi Devan menarik lengan Warda, membuat gadis itu seolah tidak bisa berpikir.