Devan yang tidak mengira memiliki seorang anak kemudian mencoba menggendong Nino. "Nino.." Devan tidak tahu apa yang akan dia katakan, tetapi wajah Nino yang begitu mirip dengannya membuat jiwa lelakinya terharu. "Iya, Pa. Akhirnya aku bisa menemukanmu. Setelah ini kita jangan berpisah lagi ya, Pa. " Nino memeluk erat Devan, dan tangan Devan dengan reflek membalasnya. Perasaan sayang langsung mengalir, karena memang ikatan darah yang begitu kuat. "Nino, maafkan papa, " ucap Devan tak berdaya. "Kata mama, Papa terlalu sibuk kerja juga demi Nino, " jawab Nino polos. Devan memeluk Nino, air matanya mengalir. Sedangkan dia tidak tahu bagaimana menjelaskan semua ini pada keluarganya terlebih lagi Warda. "Nino, sebaiknya kamu istirahat di sofa sana ya. Nanti biar papa suruh orang

