PROLOG
Seorang gadis berumur 18 tahun yang terbaring di atas rumput taman, memandangi indahnya langit malam yang dipenuhi bintang dengan bulan ditengahnya, gadis itu adalah aku.
Yah, aku memang selalu ke taman ini di malam hari jika cuacanya bagus dan ada banyak bintang, lagipula ini juga tidak terlalu jauh dari rumahku.
Untuk orang yang selalu sendiri, tentunya dimalam hari aku akan merasa bosan, jadi bintang dan bulanlah yang selalu menjadi temanku dimalam hari.
Ayah dan ibuku, keduanya pergi bekerja mulai pagi hingga malam, sialnya nasibku karena selalu sendirian.
Lagi lagi aku hanya bisa mengeluh tentang kehidupanku ini kepada diriku sendiri. Aku menarik nafas panjang lalu membuangnya.
Sreeekk…sreeekk…
Aku mendengar suara dari arah semak semak, aku melirik kearah semak semak kemudian berdiri.
“Siapa disana!? Keluarlah!”
Orang itu keluar secara perlahan dan berjalan menuju cahaya. Aku sedikit kaget dan lega setelah melihat wajah orang itu, ternyata dia adalah Nathan.
“Oh, Nathan ya. Apa yang kau lakukan disini?”
Nathan adalah juniorku mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Aku tidak menyangka bahwa aku akan terus satu sekolah dengannya.
Soalnya saat aku sudah lulus dari SMP tiba tiba orang tuaku ada perpindahan kerja ke luar kota jadi aku harus mengikuti mereka dan bersekolah di kota ini. Aku tidak menyangka bahwa Nathan ternyata masih satu sekolah denganku.
“Aku hanya kebetulan sedang jalan jalan disekitar sini, aku tidak menyangka kalau kakak juga ada disini. Kakak mau jalan bareng denganku?”
Yah, karena aku sedang gabut dan bosan melihat bintang sendirian, kenapa aku harus menolak tawaran yang bagus itu.
“Boleh saja, lagipula aku juga bosan melihat bintang sendirian.”
Akhirnya, aku dan Nathan jalan berdua di bawah pohon pinggir jalan.
Aku dan Nathan juga membicarakan tentang masa lalu, saat aku menyelamatkannya dari pembullyan 9 tahun yang lalu. Tepatnya saat aku kelas tiga sekolah dasar dan dia kelas satu.
Tapi tiba tiba ditengah pembicaraan Nathan menghentikan langkahnya.
“Ada apa? Kau baik baik saja?”
Nathan menggenggam tanganku, jujur itu membuatku kaget. Apa yang akan dilakukan anak ini?
“Kak, sebenarnya aku sudah lama menyukai kakak. Sejak kakak menyelamatkanku dari pembullyan itu.”
“A-apa!? Tapi bukankah itu waktu pertama kali kita bertemu, bagaimana bisa-“
“Aku sudah menyukai kakak sejak saat itu, jadi kakak kumohon, apakah kakak mau menjadi pacarku?”
Aku memiliki jawaban untuk pernyataannya ini, tapi aku merasa bimbang, jawaban ini pasti akan menyakitinya, tapi aku tidak bisa memberikan sebuah harapan palsu padanya.
Aku akan mengatakannya dengan tegas.
“Aku menolak!!”
Nathan terlihat sangat terkejut dengan jawaban yang baru saja keluar dari bibirku ini.
Tentu saja dia terkejut, siapa yang ga terkejut coba kalau pernyataannya ditolak dengan tegas seperti itu.
“Ta-tapi kenapa?”
“Kita bahkan hanya bertemu beberapa kali saja, kau tidak mengenalku dan aku tidak mengenalmu, lagipula aku adalah seniormu dan kau adalah juniorku.”
“Apakah hanya karena itu?”
Nathan terlihat murung saat mengatakannya, dia menggenggam tanganku dengan sangat erat.
“Nathan, lepaskan tanganku. Kau menyakitiku.”
“APAKAH HANYA KARENA ITU KAKAK MENOLAKKU!?”
Dia membentak diriku, kekuatannya bahkan jauh lebih besar dariku. Yang lebih penting sekarang, dia terlihat sangat marah dan menjadi…sedikit aneh, membuatku menjadi sedikit takut padanya.
“Aku mengetahui segalanya tentangmu, tanggal lahirmu, alamatmu, dengan siapa kau tinggal, bahkan aku juga tau kehidupan pribadimu.”
Aku tidak masalah jika dia tau yang lainnya tapi kehidupan pribadiku, bagaimana dia bisa tau kehidupan pribadiku? Aku tidak pernah mengatakan tentang kehidupanku pada siapapun, bahkan orang tuaku sekalipun.
Aku merasa anak ini mengerikan, pokoknya aku harus melepaskan diri dulu sekarang.
“Lepaskan!! Lepaskan tanganku!!”
Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya tapi semakin aku menarik tanganku semakin kuat pula genggamannya.
Saat aku sedang berusaha melepaskan tanganku tiba tiba saja Nathan menarikku kemudian dia mengganti posisi kami, hingga aku menyadari sesuatu dan…
BRAKKKK…
Suara kecelakaan pun terdengar, Nathan dan aku ditabrak oleh mobil berkecepatan tinggi yang datang entah dari mana.
Nathan terluka lebih parah dariku karena dia berusaha melindungiku.
Tubuh kami terjepit oleh mobil ini sehingga tidak bisa pergi kemanapun. Kalaupun bisa, pasti sangat mustahil karena kakiku saja sangat sulit menopang tubuhku.
Orang orang datang dan hanya melihat dari kejauhan tanpa memberikan bantuan sedikit pun, aku bahkan melihat ayah dan ibu ada diantara mereka.
Aku tidak memiliki teman, kehidupan yang baik, ataupun kenangan dengan ayah dan ibu.
Aku masih belum ingin mati!!.
Siapapun tolong kami.
Ayah, ibu.
Aku menggerakkan tanganku untuk meminta bantuan pada ayah dan ibu tapi…
BOOMMMM…
Mereka memalingkan wajah dan hanya melihat bagaimana anak mereka mati karena mobil tersebut meledak dan akhirnya terbakar.
Membuat tubuh anak semata wayang mereka hancur kemudian menjadi abu.
Pertanyaanku sebelum mati adalah “kenapa mereka membiarkanku mati?”