"Jangan khawatir, Rika kau akan segera sembuh. Kau ingin bertemu dengan Kakak kan!" Richi menutup mulutnya agar tidak terdengar menangis oleh Berry sebelum dia melanjutkan perkataannya pada Rika.
"Aku ingin kau cepat sadar dan bangun Rika. Aku tidak ingin melihat kau seperti ini terus,” sambung Richi dengan suara yang tertahan.
Rika … Bangunlah sadarlah!" pinta Richi sambil terisak menahan laranya menatap wajah Rika yang masih terbaring dan terpejam.
Berry tidak sengaja melihat jari tangan Rika bergerak merespon ucapan Richi. Dia juga terkejut melihatnya. Rika merespon suara dari perkataan Richi.
"Richi, lihatlah!" ucap Berry sambil menunjuk jari jemari Rika yang bergerak.
Richi pun terkejut, dia ingin menyentuh tangan Rika yang bergerak itu.
"Rika, apa kau bisa mendengar suaraku?" tanya Richi bersemangat. Dia merasa tenaga dan dayanya bertambah saat melihat tubuh Rika merespon suaranya itu.
Kali ini bukan jari tangannya saja yang bergerak merespon. Richi dan Berry bisa melihat kedua mata Rika yang berkedut bergerak, tetapi kedua mata Rika belum bisa terbuka.
"Ini respon yang bagus darinya. Semoga dia cepat sadar!" ucap Dokter Widi sambil tersenyum pada Berry.
"Iya Dokter, ini sungguh sebuah kemajuan dari Rika," sahut Berry tidak percaya kalau Rika akan mengalami kemajuan dari perawatannya selama beberapa hari ini.
"Aku akan menemui seseorang dulu," ucap Berry kemudian berjalan meninggalkan Richi di dalam ruangan dengan Rika.
Setelah Berry pergi, Richi pun mengalami pergolakan batin. Ingin rasanya dia mendekat dan memegang tangan Rika dan mengusap wajah Rika. Dan memungkinkan juga ingin rasanya dia mengecup kening Rika.
"Tuan Richi, menurutmu ke mana perginya Berry?" tanya Dokter Widi pada Richi.
Richi tidak menjawab karena tidak tahu. Berry memang selalu begitu. Dia tidak pernah mendikusikan dan membicarakan apa pun padanya terkait tentang apa yang akan dia lakukan.
Richi kemudian mencoba mencari tahu dengan memegang tangan Rika dan dia mencoba untuk merasakan kalau benar jari Rika mulai menunjukkan respon. Benar saja dia merasakan kalau jari Rika mulai bergerak-gerak.
"Iya dokter, adikku mulai merespon," ucap Richi terlihat senang. Dia kemudian memeluk tubuh Widi dan mengucapkan terima kasih tanpa ia sadari.
Widi pun merasa canggung ketika Richi mengucapkan terima kasih padanya dengan cara memeluknya. Dia juga merasa bersyukur jika Rika akhirnya mengalami peningkatan dan respon.
Dia berharap, Rika segera sadar dan menceritakan segalanya tentang kecelakaan itu. Jauh dalam lubuk hatinya, dokter Widi dan Berry sebenarnya menyimpan sebuah cerita yang tidak diketahui oleh Richi.
*** ***
Berry Widjaya seorang warga keturunan Indonesia yang berkewarganegaraan Inggris. Dia adalah seorang anggota pasukan rahasia yang ditugaskan untuk mengamati dan pergerakan jaringan teroris internasional. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Setelah lulus akademi kepolisian, Berry mendaftarkan diri sebagai anggota khusus badan intelijen.
Usianya saat itu adalah 28 tahun. Dia berhasil menjadi agen rahasia yang bertugas di lapangan. Berbaur dengan masyarakat dan menyembunyikan identitas aslinya.
Hidup Berry selalu berada dalam tugas bahaya. Namun, sejak dia menikahi gadis yang dia cintai. Berry berniat untuk berhenti dan mencari pekerjaan yang lain agar bisa lebih banyak waktu dan lebih dekat dengan istrinya. Istrinya Rayya, yang juga keturunan Indonesia tidak tahu pekerjaan Berry yang sebenarnya.
Berry mengajak Rayya tinggal di sebuah rumah yang agak jauh dari perkampungan dan tempat tinggal penduduk di sebuah kota kecil di Italia. Negara tempat Rayya bekerja sebagai penulsi majalah fashion disana. Namun, setelah menikah mereka memutuskan untuk hidup jauh dari keramaian kora.
Mereka tiba di sebuah rumah yang berada di pinggir kota. Rumah itu menghadap sebuah danau yang lumayan luas. Rumah yang tidak terlalu besar, namun sangat asri dan terawat.
"Bang Berry." Panggil perempuan itu memanggil nama Berry.
Berry langsung tersenyum melihatnya.
"Ayo masuk!" gadis itu kemudian menyuruh mereka masuk. Berry sangat bahagia menyambut istrinya yang cantik. Keduanya saling mencintai dan berharap bisa hidup bahagia berdua.
Suatu hari, Berry baru selesai mandi. Dia melihat seorang temannya bernama Lexi, temannya yang juga salah satu rekan kerjanya di timnya. Dia memang dekat dengan Berry dan sering menginap dan mengunjungi Berry.
Lexi tertidur saat Berry selesai mandi. Sementara Rayya belum datang juga. Kemudian dia memeriksa ponselnya dan segera menelepon Rayya.
"Halo Sayang, Sayang dimana?" Berry langsung bertanya ketika sambungan telepon di angkat.
Namun tidak ada jawaban di sana.
"Sayang, jawablah!" Berry mulai khawatir.
"Berry. Kalau kamu mau istrimu selamat. Bawa Lexi kemari!" terdengar suara asing yang membuat Berry langsung jatuh terduduk.
"Siapa ini, jangan coba-coba kalian menyentuh dan melukainya!" teriak Berry.
Namun hanya terdengar suara tawa yang terbahak-bahak.
"Siapa sebenarnya kalian? Apa mau yang kalian inginkan?" teriak Berry.
"Jangan macam-macam, kalian tak bisa menyentuh maupun melukainya. Kalau kalian lakukan itu, kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan!" ancam Berry.
"Sayang." Berry menangis memanggil Rayya. Kenapa Rayya bisa ditangkap penjahat itu.
"Kau tahu Lexi, semua ini karena dia. Jadi kalau kau ingin isterimu selamat. Bawa Lexi dan uang yang dia bawa kabur!”
Berry terkejut mendengarnya. Kenapa Lexi bisa berurusan dengan orang yang jahat. Orang yang sudah menculik istrinya Rayya.
Baiklah, kalau kalian inginkan USB dan uang itu, akan aku antarkan. Tapi ingat! Jangan sampai kalian melukainya!"
"Bawa juga Lexi, uang dan USB itu tak ada artinya kalau kau tak membawanya juga!"
Mereka pun menutup teleponnya. Berry terdiam kaku mendengarnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang," batin Berry.
Berry terlihat mondar mandir sambil memegang kepalanya. Dengan suara keras, dia pun membangungkan Lexi yang sedang terlelap di kursi ruang tengahnya.
“Ada apa Berry?Kenapa kau membangunkanku. Aku masih mengantuk. Kau tahu butuh perjalanan panjang tanpa istirahat aku datang ke rumahmu. Kenapa pula kau memilih rumah di daerah terpencil seperti ini?”
Berry tidak segera menjawab, dia hanya menatap tajam Lexi dengan tatapan tajam.
“Ada apa? Kenapa serius sekali menatapnya?”
“Rayya diculik, dan mereka menyuruhku untuk membawamu, sebenarnya ada apa ini? Kenapa Rayya bisa terlibat dan diculik mereka?” tanya Berry.
“A-APA! RAYYA DICULIK?” tanya Lexi terkejut.
“Sebaiknya kau ceritakan apa yang terjadi sebenarnya!” pinta Berry.
"Baik, aku akan ceritakan semuanya," akhirnya Lexi harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya, dan kenapa juga dia bisa berada di sini untuk melarikan diri dari kelompok penjahat yang juga sudah menculik Rayya.
Lexi mulai menceritakan tentang kenapa dia bisa berurusan dengan mereka dan kenapa mereka mengejarnya.
Black Spider adalah sebuah kelompok mafia Narkoba di Milan. Black Spider dulunya dipimpin oleh seorang mantan petinggi polisi Milan bernama Santos Pierr. Dia menjual Narkoba yang dia selundupkan dari gudang penyimpanan barang bukti Narkoba yang disita oleh Kepolisian Milan. Bisnisnya cepat berkembang karena koneksinya banyak dari petinggi lembaga negara, anggota dewan, sampai artis artis berhasil menjadi pemakai.
Bisnis Santos Pierr yang berhasil. Membuat dia semakin kaya dan berpengaruh. Sampai akhirnya dia pun berhasil merekrut Dante. Dia masih merupakan keponakannya. Karena bisnis agensinya bangkrut permainan licik bisnis Luiz Gavino, papanya Richi.
Dante pun memilih menjadi penerus bisnis pamannya. Black Spider awalnya hanya sebuah kelompok mafia narkoba yang berskala kecil. Namun berkat pengaruh sangar Santos. Sekarang kelompok ini banyak ditakuti. Bahkan Polisi pun pun belum berhasil meringkus. Karena mereka tidak bisa begitu menangkap mereka dengan barang bukti yang lengkap. Kalau mereka hanya sekedar menangkap Santos dan Dante tanpa alat bukti yang cukup. Mereka sama saja menggali kuburan mereka sendiri.
"Aku sudah mengawasi dan mengumpulkan bukti bukti untuk membuat Dante dan Santos membusuk di penjara."
“Yang aku tanyakan. Kenapa kau bisa terlibat dengan mereka Lexi?”
“Aku dijebak untuk ikut kelompok mereka. Mereka menjanjikan sesuatu padaku,” ucap Lexi.
“Apa ?”
“Aku ingin membawa gadis yang aku cintai.”
“Gadis, siapa dia?”
“Tiffany.”
“Siapa gadis itu?”
“Kau tidak akan mengerti meski aku menceritakannya.”
Berry terlihat menahan emosinya mendengar pernyataan Lexi yang tidak sampai detail seperti itu. Masalahnya adalah keselamatan Rayya yang terancam.
"Aku sudah merencanakan sesuatu. Namun, karena hatiku lemah saat melihat kalian berdua, aku mengacaukannya, aku bertindak bodoh ingin menghabisi nyawaku. Karena aku merasa tidak punya tujuan lagi. Dulu aku punya tujuan karena aku ingin hidup tenang tanpa dibayangi Dante. Dengan mengirimnya ke penjara aku bisa bebas dan menemui kekasihku," Lexi dengan mata yang berkaca-kaca.
Berry pun terdiam. Dia tak tahu harus berkata apa. Hatinya juga sedih mendengar cerita Lexi.
"Sekarang kita harus menyelamatkan istrimu," kata Lexi mencoba tegar menghadapi kalau Rayya sudah menjadi istri orang. Tiffany yang dia maksud adalah Rayya, istrinya Berry.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membebaskan Rayya."
Lexi mengatupkan bibirnya. Dan menggerutukkan giginya. Lexi sakit dan terluka mendengar dan melihat kekuatiran Berry.
"Aku akan mengambil barang yang diminta Dante dan Santos?" tanya Lexi.
“Di mana kau menyimpannya?” tanya Berry.
"Aku simpan di tempat yang aman," jawab Berry.
Terdengar suara mobil berhenti di depan. Berry cekatan dan mengintip di balik jendela untuk melihat siapa yang datang.
"Itu adik iparku, Widi," kata Berry.
Dan benar saja Widi datang dengan wajah yang cemas.
"Rayya diculik."
Tring.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Berry. Sebuah pesan gambar. Berry membuka dan melihatnya. Foto Rayya yang sedang terikat dengan mata dan mulut nya ditutup.
Berry yang juga melihatnya merasa terkejut dan terjatuh lemas melihat foto istrinya seperti itu. Dadanya sakit dan amarahnya memuncak.
*** ***
Dua jam sebelumnya..
Rayya mengemudikan mobilnya dengan hati-hati dan mengambil arah pulang menuju rumahnya. Suaminya Berry pasti sedang cemas menunggunya. Namun, dia merasa punya firasat tidak enak. Setelah melewati lampu merah setelah klinik. Sebuah mobil van hitam mengikutinya dari belakang.
Kemudian Rayya berinisiatif mengelabui mobil yang dia yakini sedang membuntutinya dengan mengambil jalan yang berbeda. Jadi dia memutar jalan. Untuk mengelabui mereka. Dan benar saja mereka membuntuti mobilnya.
Rayya pun mengirim pesan chat ke nomor ponsel Berry. Tapi pesan chat itu tidak terbuka dan tidak terbaca. Rayya terus mengendarai mobilnya menjauh dari jalur yang digunakan mereka.
Saat di jalan sepi, mobil Rayya kehabisan bahan bakar. Dan mereka pun berhasil menangkap Rayya tanpa perlawanan.