Tiga hari sebelumnya, di Pachino Italia.
"Richi, cosa stai facendo?" sebuah suara mengagetkan Richi yang kala itu sedang melakukan video call dengan adik kembarnya Rika.
"No zio Fabio, sto giocando all'ultimo gioco," jawab Richi buru-buru mematikan layar monitor komputernya dan menatap wajah sang paman yang sudah berada di dalam kamarnya.
"Richi, ayahmu menyuruhku agar kau segera pergi ke perkebunan!" ucap Paman Fabio sambil menyelidik ke arah layar komputer. Benarkah Richi sedang bermain game, bukan menonton situs film dewasa?
"Baik Paman, aku siap-siap dulu!" Richi segera membuka kaosnya hendak berganti pakaian sebelum dia keluar.
"Apa Paman mau menungguku sampai aku ganti celana?" tanya Richi menatap wajah Fabio yang masih berdiri di kamarnya.
"Ah iya maaf, cepatlah turun, sebelum nanti keluarga Pablo mengamuk menunggu!"
"Baik Paman!" Richi menatap tegas wajah Fabio. Segera Fabio keluar dari kamarnya.
Richi segera membuka pintu ruangan untuk pakaiannya. Begitu pintu itu terbuka, berjejer lah beberapa barisan baju yang disimpan sesuai dengan jenis dan modelnya. Richi mendekat ke arah barisan kemeja. Di sana beberapa macam kemeja berbagai warna dan model tersedia. Richi memilih kemeja berwarna merah maroon. Dia segera memakai kemeja itu sambil berjalan ke deketan jas. Dengan jari-jarinya Richi memilih jas dan celana yang sesuai dengan kemejanya.
Tak berselang beberapa menit pun dia sudah menentukan pakaian yang akan dia pakai untuk pergi ke perkebunan Pablo. Kenapa pergi ke perkebunan saja dia harus rapi seperti hendak pergi ke sebuah acara penting. Karena bagi Richi, penampilan adalah segalanya. Sebagai pemuda tampan kaya raya yang akan mewarisi seluruh kekayaan ayahnya dia merasa wajib memperhatikan penampilannya.
Richi memakai gel untuk menata rambutnya. Dengan sentuhan akhir tangannya. Richi sudah berubah penampilan sangat berbeda dengan Richi yang video call dengan Rika adik kembarnya.
Dia pun segera keluar dari kamar mewahnya dan turun ke lantai bawah. Beberapa pelayan rumahnya mengangguk hormat padanya. Pelayan di rumahnya sangatlah banyak. Mungkin paling banyak di kota ini. Richi memang bukan sembarang orang. Dia adalah calon penerus satu-satunya keluarga Gavino.
Gavino adalah salah satu keluarga mafia yang paling berpengaruh di Italia. Ayahnya Richi, Luiz Gavino adalah pemimpin kelompok mafia Gavino saat ini. Kekuasaan dan pengaruh Luiz Gavino sangat ditakuti oleh hampir semua penduduk kota di Italia.
Bisnis keluarga Gavino adalah perkebunan dan juga penjualan anggur berkualitas tinggi. Di samping itu juga, tentu saja ada bisnis haram mereka. Hanya saja Richi tidak tahu bisnis apa itu. Karena ayahnya Luiz memang berkeinginan Richi tidak menjadi penerus bisnis haramnya. Cukup bisnis perkebunan dan pabrik anggur saja yang akan dia serahkan pada anaknya itu.
Richi sebenarnya juga sempat curiga kalau ada bisnis haram ayahnya yang tidak diketahui olehnya. Tetapi Richi menunggu ayahnya sendiri yang akan memberitahunya. Meskipun, sebenarnya dalam hati dia sudah siap menerima itu semua. Dia tidak akan mempermasalahkan jika suatu saat dia akan mengambil alih semua bisnis ayahnya itu.
"Seperti biasa, putraku sangat tampan," sambut Luiz melihat putra nya sudah turun dan rapi.
"Papa, apa kau sudah minum obat?" tanya Richi.
"Tentu saja sudah, Fabio yang sudah menyiapkan segalanya."
"Hmm, kalau begitu aku berangkat dulu!"
"Ya, kalau kau bertemu dengan Guine, katakan padanya kalau dia harus segera mengembalikannya tepat waktu!" ucap Luiz.
"Baik Papa, serahkan semuanya padaku!" Richi kemudian mulai melangkah pergi.
"Tunggu dulu Richi! Biarkan Papa memelukmu sebelum kau berangkat!"
Richi mengernyitkan alisnya. Tumben ayahnya ingin memeluknya. Ada apa dengannya?
"Richi, apa kau tidak mendengar permintaan ku?" tanya Luiz sekali lagi.
Dengan perasaan campur aduk, Richi mendekat dan memeluk Luiz.
"Setiap aku memelukmu, rasanya aku sedang memeluk ibumu dan juga adikmu, Nak!" Richi merasa pundaknya basah. Apakah ayahnya menangis?
Richi melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah ayahnya yang sudah semakin tua.
"Kalau Papa merindukannya. Kenapa tidak pergi menemuinya. Papa juga pasti merindukan Rika?" tanya Richi. Yang dimaksud olehnya adalah mamanya dan juga adik kembarnya Rika.
"Hanno deciso di lasciarci. Quindi non ho alcun diritto." (Mereka memutuskan untuk meninggalkan kita. Jadi saya tidak punya hak)
Richi menarik napasnya dalam-dalam. Ayahnya sangat keras kepala, begitu juga dengan ibunya.
"Kalau kau ingin bertemu dengannya. Temuilah, aku yakin dia juga merindukanmu Pa!" jawab Richi. Dia akhirnya meninggalkan ayahnya yang duduk di kursi roda. Richi harus segera berangkat meskipun hatinya tiba-tiba merasa tidak enak ketika Luiz ingin memeluknya tadi.
Luiz Gavino adalah lelaki yang jatuh cinta pada seorang wanita berkebangsaan Indonesia. Tetapi, ketika istrinya mengetahui bisnis haram Luiz, dia memutuskan pergi dan membawa adik kembarnya. Awalnya, Richi memang ingin pergi bersama ibunya. Tetapi, dia tidak ingin meninggalkan ayahnya seorang diri.
Perpisahan itu terjadi saat Richi dan Rika berusia lima tahun. Itu artinya sudah dua puluh tahun lebih mereka bercerai dan hidup terpisah. Richi sebenarnya masih bisa berkomunikasi dengan adiknya Rika. Tentu saja tanpa sepengetahuan kedua orang tua mereka. Richi dan Rika memang sering bertukar surat dan email setelah mereka terpisah. Sampai akhirnya mereka beranjak dewasa. Mereka masih merahasiakan komunikasi mereka.
Richi dan Rika adalah kembar identik. Wajah mereka mirip identik dan bagi orang yang melihatnya mungkin hanya bisa membedakannya dari jenis kelamin mereka saja. Rika berambut panjang karena dia perempuan, sementara Richi berambut lebih pendek sedagu. Kalau Richi dengan model rambut seperti itu memakai jepit rambut, dia sangat mirip dengan Rika. Sayangnya, mereka belum pernah bertemu lagi semenjak ibunya membawa Rika pulang ke Indonesia. Mereka hanya bisa bertemu melalui panggilan internet dan ponsel. Mereka dekat dan akrab satu sama lain tanpa kedua orangtua mereka mengetahui.
“Paman, kenapa tiba-tiba aku merasa tidak enak ya?” tanya Richi pada Fabio yang juga ikut perjalanannya menuju perkebunan Pablo.
“Itu hanya perasaanmu saja Nak, kau harus fokus dengan pekerjaanmu sekarang. Kau harus bisa meyakinkan keluarga Pablo untuk menyerahkan semua lahan perkebunannya karena tidak bisa membayar hutangnya!” ucap Fabio sambil mengemudikan mobilnya memasuki kawasan perkebunan anggur yang sangat luas.
Richi memandang lahan perkebunan milik keluarga Pablo yang harusnya sudah menjadi milik Gavino setahun yang lalu.
Door! Door!
Richi memegang sandaran jok kursi di depannya. “Paman, ada apa ini?” tanya Richi panik karena tiba-tiba mobil mereka seperti kehilangan kendali.
“Ada yang menembak ban mobil kita Richi!. Richi merunduklah!” teriak Fabio memperingatkan.
Door! Door!
Richi kaget karena kaca mobil mereka pecah karena ditembak. Bahkan pelurunya mengenai jok tempat dia duduk. Beruntungnya peluru itu tidak bersarang di kepalanya karena dia langsung menunduk setelah Fabio berteriak padanya.
“Apa yang terjadi? Kenapa kita ditembaki?” tanya Richi panik. Dia melihat darah segar menetes dari bahu pamannya.
“Astaga, Paman!” teriak Richi melihat pamannya tertembak. Mobil mereka berhenti. Richi panik mendengar suara tembakan masih berlangsung.
Dia merunduk agar terhindar dari terjangan peluru yang membabi buta. Richi mendengar suara tembakan lain. Richi mencari tahu dengan sedikit mengintip, tembakan ke arah mobilnya berhenti, tetapi suara baku tembak masih berlangsung.
“Apa yang terjadi? Apakah ada yang membantu?” tanya Richi dalam hati. Belum habis dia berpikir dan mendapat jawaban. Tiba-tiba pintu mobil terbuka. Seseorang bersenjata menatap Richi.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya orang bersenjata itu menanyakan keadaan Richi.
Richi mengangguk meski dia masih kebingungan dengan apa yang terjadi padanya. Orang itu kemudian menarik tubuh Richi.
“Kau bisa berlari?” tanya orang itu menatap tajam pada Richi.
“Bisa.”
“Kau larilah ke dalam mobil itu. Aku dan Bennie akan melindungimu!”
Richi mencari-cari siapa Bennie yang yang dimaksud.
“Cepatlah! Tidak ada waktu untuk bengong!” teriak orang itu.
Richi pun segera berlari menuju arah sambil menoleh ke belakang. Orang itu terus menembak ke arah deretan pohon anggur dan satu pondok kecil tak jauh dari mobil mereka. Richi berlari cepat sambil melindungi kepalanya.
Baku tembak itu masih terus berlangsung sampai Richi sampai ke sebuah mobil jeep berwarna hijau. Setelah Richi naik ke dalam mobil. Mobil itu segera cepat melaju. Dia melihat di dalam mobil itu hanya ada dirinya dan supir yang sepertinya berasal dari Asia Tenggara.
“Bagaimana dengan pamanku Fabio?” tanya Richi melihat ke belakang. Pamannya masih berada di dalam mobil tadi.
“Dia sudah tewas!”
“Apa?” Richi berteriak dan tak bisa menerimanya.
“Kembalilah, aku harus menyelamatkan pamanku!” seru Richi.
“Sudah terlambat. Tugasku sekarang melindungi Tuan sampai selamat di tempat yang aman.”
“Siapa kau? Dan kenapa tiba-tiba aku dan pamanku di serang senjata?”
“Aku Berry, anak buah ayahmu. Keluarga Pablo telah berkhianat dan meminta bantuan dari geng Massimo,” ucap supir yang membawa pergi Richi.
“Apa? Geng Massimo?”
“Kau ditargetkan dibunuh oleh mereka. Beruntungnya kau masih hidup. Kalau tidak –“
“Kalau tidak apa?” tanya Richi masih berusaha mencerna apa yang terjadi.
“Sudahlah. Sekarang, kau harus ikut dengan perintahku kalau kau ingin selamat!”
Richi tak banyak bicara lagi setelah mendengar Berry bicara. Dia memperhatikan wajah Berry dari belakang. Kulitnya hitam rambutnya sedikit plontos dan matanya itu jelas mencerminkan orang yang sangat kejam dan tegas.
*Author Menyapa*
Halo Para pembaca, sudahkah tap love untuk cerita ini. Mohon dukungan semuanya. Semoga cerita ini akan lebih seru dari tulisan dan ceritaku sebelumnya.
Terimakasih yang sudah tap love. Love you so much!