Bab 3 – Ketika 'Appa' Menggema di Kantor

1066 Kata
Gedung Kang Group di Seoul pagi itu dipenuhi atmosfer formal seperti biasa. Karyawan berpakaian rapi berjalan tergesa-gesa sambil menunduk hormat setiap kali melewati lantai eksekutif. Tidak ada yang berani bersuara keras, apalagi saat Kang Jihun sudah berada di ruang rapat direksi. Jam digital di dinding menunjukkan pukul 10.00 pagi saat pertemuan dimulai. Para petinggi grup, termasuk direktur cabang dan kepala divisi, duduk melingkar menghadap layar presentasi besar. Rapat hari ini membahas kolaborasi strategis untuk lini fashion mewah yang baru akan dikembangkan oleh anak usaha mereka. Namun, yang mencuri perhatian bukanlah proyeknya. Melainkan tamu istimewa yang belum juga hadir, meski seharusnya datang lima menit lalu. “Apakah perancang utama proyek sudah tiba?” tanya salah satu direktur sambil menyesap kopi. “Saya dengar beliau dari Swiss, cukup populer di dunia fashion internasional?” “Kabarnya begitu,” sahut direktur lain. “Namanya... Han Areum?” Salah satu staf muda langsung memekik pelan. “Han Areum?! Maksudnya Han Areum yang desainan nya dipakai di Milan Fashion Week tahun lalu?” Seisi ruangan mulai bergumam pelan. “Mustahil kita bisa rekrut dia... Kalau benar itu dia, berarti kita bicara tentang selebriti dunia fashion!” Kang Jihun hanya duduk tenang di kursinya, jari-jarinya menekan ujung pena logam yang berputar perlahan di tangannya. Ia tahu jamnya sudah hampir habis. Dan tepat saat suasana mulai resah… Pintu ruang rapat terbuka. Seluruh kepala menoleh serempak. Seorang wanita masuk, melangkah dengan anggun dalam balutan gaun kerja berwarna putih tulang dengan potongan ramping yang mempertegas siluet tubuhnya. Sepatu hak berwarna nude berbunyi lembut setiap kali menyentuh lantai. Rambut panjangnya diikat rendah, rapi namun tidak kaku. Wajahnya bersih, dingin, dan elegan. Han Areum. Sosoknya memancarkan aura yang membuat semua terdiam. Di belakangnya, seorang asisten muda membawa perlengkapan presentasi. Dan yang paling mengejutkan di genggaman tangan kirinya, ia menggandeng seorang anak laki-laki kecil berusia sekitar dua tahun dengan jaket kecil warna abu-abu dan rambut cokelat gelap. Bocah itu memandangi ruangan penuh orang asing dengan mata bulatnya yang jernih. Lalu… ia tersenyum cerah. “Appa~!” Suara nyaring itu memecah ruangan. Mata semua orang membelalak. Han Areum berjalan lurus, tanpa sedikit pun ragu, lalu duduk di kursi yang kosong tepat di samping Jihun tempat yang biasanya disediakan hanya untuk mitra resmi. Jihun menoleh sekilas, senyumnya nyaris tak terlihat tapi nyata. Ia mengangkat tangan, menyambut sang anak, lalu membiarkannya duduk di pangkuannya. Seluruh ruangan nyaris tidak bernapas. “Perkenalkan,” ujar Jihun tenang, “ini istri saya. Han Areum.” Gemuruh kejut langsung terdengar. Beberapa direktur nyaris tersedak, sementara yang lain saling pandang dengan bingung dan tidak percaya. Han Areum seorang desainer busana kelas dunia adalah istri diam-diam CEO mereka? “Dan ini,” Jihun melanjutkan sambil menatap anak kecil di pangkuannya, “putra kami. Kang Haon.” Areum hanya tersenyum tipis. Tidak sopan, tapi juga tidak terlalu ramah. Ia tahu apa yang dipikirkan orang-orang itu. "Kenapa wanita seperti dia menikah dengan Jihun secara diam-diam?" "Siapa sebenarnya anak itu?" "Kenapa sekarang baru diperkenalkan?" Ia sudah menyiapkan diri menghadapi semua itu. Beberapa menit kemudian, suasana mulai normal kembali. Presentasi proyek fashion dilanjutkan. Areum memaparkan ide kreatifnya dengan percaya diri, kalimatnya jelas, nada bicaranya tenang namun kuat. Saat satu direktur pria paruh baya mencoba menyela presentasinya dengan komentar meremehkan tentang desain yang terlalu feminin dan tidak cocok untuk pasar Asia, Areum menatap langsung ke matanya. “Tuan Park, konsep yang Anda sebut terlalu feminin itu telah menghasilkan 18 miliar won dalam dua kuartal di Eropa dan Amerika. Saya rasa angka itu cukup maskulin untuk menyentuh grafik pertumbuhan.” Beberapa kepala menunduk menahan senyum. Bahkan Jihun nyaris tersenyum lebar. Sementara itu, di sisi kiri meja rapat, seorang wanita anggun mengenakan setelan merah muda pucat Ha Yerin menatap Areum tanpa berkedip. Wajahnya tetap tersenyum, tapi matanya penuh penilaian. Setelah rapat selesai, saat para direksi mulai bubar, Yerin menghampiri Areum di luar ruang rapat dengan langkah penuh percaya diri. “Jadi, Anda adalah istri dari Tuan Kang,” katanya sambil tersenyum tipis. “Saya pikir Anda lebih... hangat dari yang dibayangkan. Tapi ternyata... sedingin desain minimalis.” Areum menoleh santai. Senyumnya tidak menyentuh mata. “Saya pikir Anda lebih elegan dari rumor yang beredar. Tapi ternyata... Anda suka menyentuh milik orang lain.” Yerin membeku. Areum melangkah lebih dekat, tanpa kehilangan senyum tipisnya. “Jangan khawatir. Saya tidak keberatan jika Anda terus mencoba. Tapi saya tipe yang tidak suka mengulang barang bekas orang lain.” Yerin menggertakkan gigi, tapi tidak bisa menjawab. Saat itu pula, Haon berlari kecil ke arah Areum. “Eomma! Aku mau es krim~!” Areum langsung berlutut, tersenyum lembut pada putranya. “Kita beli es krim, Sayang. Tapi hanya kalau kamu mau cium Appa dulu.” Haon menoleh ke arah pintu lift, di mana Jihun berdiri menunggu. “Appa!” serunya, lalu berlari dengan langkah kecilnya. Yerin hanya bisa menatap punggung mereka tiga sosok yang tampak seperti keluarga sempurna, berdiri di lantai paling berkuasa dari perusahaan besar. Sore itu, media sosial internal perusahaan mulai heboh. “Istri CEO kita ternyata Han Areum! Yang koleksinya dipakai artis Hollywood!” “Kapan mereka menikah? Kenapa tidak pernah ada berita?” “Anaknya imut banget! Mirip Tuan Kang waktu kecil!” Sementara itu, di kantor pusat Kang Group bagian kehumasan, tim PR mulai kewalahan menerima pertanyaan dari media. Tapi Jihun sudah memberi perintah tegas: “Biarkan publik tahu. Jangan sensor apa pun.” Dan Areum? Ia hanya duduk di balkon apartemen mewah mereka di Seoul, menyesap teh sambil memandangi langit senja. “Kau yakin ingin membuat ini terbuka sekarang?” tanyanya pelan. Jihun duduk di seberangnya, dengan Haon yang tertidur di pangkuannya. "Aku tidak pernah suka sembunyi. Apalagi jika itu menyangkut kalian.” Areum menoleh, matanya bertemu dengan milik pria yang selama dua tahun terakhir tinggal bersamanya tanpa janji, tanpa romansa, tapi dengan kenyamanan yang tumbuh pelan-pelan. “Kau tidak takut? Jika orang tahu... Haon bukan darahmu?” Jihun menatap putra kecil yang tertidur itu. Ia tidak menjawab langsung. “Aku tidak butuh darah untuk tahu siapa yang pantas ku panggil anak. Dan siapa yang pantas ku panggil... istri.” Areum terdiam. Tapi sebelum ia sempat menanggapi, ponselnya berdering. Panggilan dari nomor asing. Ia mengangkatnya, dan suara di seberang membuat seluruh tubuhnya membeku. “Han Areum. Aku baru lihat berita hari ini. Kau menikah? Dan punya anak?” Suara itu… Kang Jiseok. Mantan tunangannya. Ayah biologis dari Haon. “Tunggu aku di Seoul. Kita perlu bicara... soal anak itu.” To be continued…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN