Bab 2 – Warna-Warna di Balik Jas Hitam

1232 Kata
Gedung Kang Group menjulang kokoh di pusat kota Seoul, mencerminkan kekuasaan dan kestabilan yang dibangun selama tiga generasi. Tapi di balik kaca-kaca mewah itu, rapat pagi ini berjalan jauh dari kata tenang. Kang Jihun duduk di kursi ujung ruang direksi. Dasi hitamnya rapi, jas Armani membalut tubuh tegapnya, dan tatapannya tetap dingin seperti biasanya. Di depannya, sejumlah pria paruh baya berbicara dengan suara tinggi, penuh desakan dan basa-basi tak berguna. "Kita tidak bisa terus menunda merger dengan Haewon Group, Jihun," ujar salah satu direksi senior. "Anak perempuan mereka sudah kembali dari London. Sangat pantas mendampingi CEO muda sepertimu." Jihun hanya menyilangkan kaki, tidak terganggu sedikit pun. “Kita tidak sedang membahas merger di sini, kita sedang membahas strategi ekspansi ke Asia Tenggara. Tolong kembali ke topik.” “Tapi keluarga Haewon adalah bagian dari jaringan strategis kita. Pernikahan adalah” “Saya tidak tertarik menikah dengan produk bisnis,” potong Jihun tajam. Suasana mendadak hening. Tak seorang pun berani membantahnya secara langsung. Tapi mereka tahu, Jihun selama ini selalu melangkah sendirian. Tidak tunduk pada permainan sosial keluarga, tidak pernah membawa pasangan, bahkan tidak membuka satu pun celah personal. Bagi mereka, ia adalah teka-teki yang sulit dibaca. Bagi para pewaris muda dari keluarga elite Seoul, ia adalah ancaman. Dan bagi wanita-wanita yang mencoba mendekat ia adalah tembok es yang tak bisa ditembus. Selesai rapat, Jihun kembali ke ruangannya. Ia melepas jas dan duduk di belakang meja kerja dari kayu mahoni gelap, memandangi layar tablet yang menampilkan laporan keuangan bulan lalu. Efisiensi meningkat. Proyek Zurich sukses besar. Namun perasaannya tetap gelisah. Pintu diketuk. Asisten pribadi Jihun, pria muda bernama Taejin, masuk membawa berkas sambil melirik atasan itu dengan ragu. "Tuan Kang, pihak keluarga Haewon kembali mengundang Anda makan malam minggu ini. Mereka mengingatkan… ini undangan ketiga.” Jihun menutup file, mendongak perlahan. “Kau tahu aku sudah menikah, kan?” Taejin menegang. “Tentu, Tuan. Tapi karena pernikahan itu tidak pernah diumumkan secara publik” “Itu urusan mereka. Aku tidak punya niat menghadiri perjodohan pura-pura.” “Jika mereka terus memaksa…” “Mungkin sudah waktunya aku membuat pernyataan.” Taejin membuka mulutnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi menahan diri. Jihun bisa merasakannya. “Katakan saja,” ucapnya dingin. “Hanya… menurut gosip internal, anak perempuan keluarga Haewon, Nona Ha Yerin, sudah lama... menyukai Anda. Bahkan katanya pernah menolak lamaran dari konglomerat lain karena masih berharap...” “Itu bukan urusanku,” tukas Jihun. “Bilang padanya, aku lebih tertarik bekerja sama dengan orang yang bisa baca laporan keuangan daripada yang hanya bisa memoles bibir merah.” Taejin menunduk cepat. “Baik, Tuan.” Saat asisten itu pergi, Jihun berdiri dari kursinya, berjalan ke jendela besar yang memperlihatkan lanskap kota Seoul. Matanya menatap gedung-gedung tinggi seolah mencari sesuatu. Atau seseorang. Pikirannya melayang ke Zurich. Sudah dua tahun sejak ia menikah dengan Han Areum. Pernikahan itu sederhana, tanpa publikasi. Hanya ia, Areum, dan dua saksi lokal. Ia memang tidak berniat merahasiakannya selamanya, tapi ia juga tidak merasa perlu menunjukkannya kepada dunia—selama belum waktunya. Namun sekarang… ia merasa waktunya sudah hampir tiba. Areum adalah misteri yang datang di saat tak terduga. Wanita itu menyimpan luka dalam diam, tapi tidak pernah meminta apa pun darinya. Ia hidup tenang, bersih, tidak pernah menyentuh ruang pribadi Jihun. Tapi justru itu yang membuat pria itu mulai menoleh. Ada sesuatu yang tenang tapi hangat dalam diri Areum. Dan bahkan sebelum ia menyadarinya, ia mulai menyukai keberadaannya. Areum tidak pernah membicarakan masa lalu. Tidak pernah menyentuh pembicaraan pribadi. Tapi sikapnya lembut tapi tidak lemah, kuat tapi tidak keras perlahan menciptakan ruang di dalam benteng hati Jihun. Dan satu hal lagi... Anak kecil itu. Saat terakhir ia pulang ke Swiss beberapa bulan lalu, ia melihat Areum menggendong bayi laki-laki sekitar satu tahunan. Matanya bulat, senyumnya manis, dan entah kenapa anak itu menyambutnya seolah sudah mengenalnya lama. "Namanya Haon," kata Areum pelan. “Anakmu?” tanya Jihun saat itu. Areum hanya tersenyum, “Anak kita, di depan publik.” Ia tidak bertanya lebih lanjut. Karena ia tahu, jika Areum belum siap bicara, maka ia akan menunggu. Namun setiap kali menatap bocah itu yang memanggilnya Appa sambil tersenyum lebar ia merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ponselnya bergetar. Pesan dari adik sepupunya masuk: Nara: Hyung, kamu serius tidak datang ke jamuan Haewon minggu ini? Omma bakal marah besar. Semua keluarga elite bakal hadir. Yerin pasti sudah memesan tempat duduk sebelahmu. Jihun membalas hanya dengan satu kalimat: “Biar dia pesan dua tempat duduk untuk dirinya dan egonya.” Ia menutup layar, lalu membuka kontak: Han Areum. Jarang sekali ia menghubungi wanita itu. Mereka biasanya hanya bertukar email soal hal-hal rumah tangga dan pembayaran. Tapi kali ini, ia mengetik dengan jari mantap. "Datanglah ke Seoul. Aku ingin orang-orang tahu bahwa aku sudah menikah." Beberapa detik hening. Kemudian balasan muncul: "Sekarang?" "Minggu ini. Aku akan kirim tiket dan akomodasi. Jika kamu tidak datang, aku akan pulang dan menjemputmu sendiri." Tidak ada balasan. Lama. Jihun memasukkan ponsel ke sakunya, lalu kembali duduk. Pikirannya sudah bulat. Ia sudah muak dengan rumor. Sudah bosan dijadikan pion dalam perjodohan. Jika dunia butuh bukti, maka ia akan tunjukkan. Areum akan datang. Bersama anak itu. Dan mereka akan tahu… bahwa Kang Jihun bukan pria yang bisa dikendalikan siapa pun. Sore harinya, sebuah pertemuan dengan direksi utama digelar. Ha Yerin hadir sebagai tamu undangan khusus. Mengenakan gaun formal warna putih gading yang terlalu mirip… gaun pengantin. Ia duduk di sebelah direktur senior dan terus memandang Jihun dengan senyum manis. "Tuan Kang," ucap Yerin saat rapat usai. "Apakah Anda bersedia menemani saya minum teh? Ibu Anda sudah menanyakan—" “Maaf,” potong Jihun dengan nada datar. “Aku sudah menikah.” Seketika, ruangan menjadi sunyi. Yerin terpaku. Para direksi saling pandang. Salah satu dari mereka mencoba menyela. “Maaf… menikah? Tapi kenapa tidak ada kabar?” “Karena saya tidak suka perayaan palsu. Dan saya tidak merasa perlu mengumumkan apa pun… sampai hari ini.” Yerin mencoba tertawa kecil. “Jika itu hanya akal-akalan agar terhindar dari saya, Tuan Kang, Anda tidak harus ” “Dia akan datang minggu ini,” ujar Jihun tanpa mengedip. “Bersama anak kami.” Kata “anak” menggema di ruangan seakan palu godam jatuh di tengah meja. Salah satu direksi menjatuhkan pulpen. Yang lain meneguk air dengan gugup. Dan Ha Yerin… tersenyum kaku. “Kukira kau tidak menyukai anak-anak.” “Aku tidak menyukai wanita yang suka memaksakan kehendak.” Malam harinya, di apartemen penthouse pribadi Kang Jihun... Ia berdiri di depan jendela tinggi, menatap lampu-lampu kota yang gemerlap. Tangannya di saku, punggungnya tegap. Tapi matanya... menyimpan sesuatu yang berbeda. Ada bayangan kecil di benaknya. Anak laki-laki dengan mata bulat itu, tertawa saat digendong Areum di balkon villa Swiss. Suara kecil yang memanggil Appa, meski belum pernah diajari. Apakah ia siap menghadapi Seoul sebagai seorang suami dan seorang ayah? Jihun memejamkan mata sejenak. Kemudian ponselnya berdering. Han Areum. Ia mengangkatnya. “Halo,” suara Areum terdengar lembut. “Aku sudah menerima tiket dan detail perjalanan.” “Baik. Aku akan menjemput kalian sendiri.” Hening sebentar. “Kau yakin, Jihun?” “Aku tidak pernah lebih yakin dari ini.” Namun sebelum ia sempat menutup telepon, suara kecil yang familiar menyusup dari kejauhan. “Eomma~! Appa di mana? Aku mau panggil Appa~!” Jihun terdiam. Ponsel nyaris jatuh dari tangannya. Dan untuk pertama kalinya... hatinya benar-benar berdetak lebih cepat. To be continued…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN