Mencoba Bunuh diri

1411 Kata
"Kenapa mesti duda, Ayah? Anaknya dua lagi." tanya Safiya sesaat setelah para tamu yang melamar pulang. "Ayah tahu mana yang baik dan buruk untukmu, Fiya." Safiya mendengus kesal. "Apa kamu ingin suami kayak, Devano itu. Yang tiap hari kerjaannya hanya tidur, minta jatah uang sama ibunya. Marah-marah tak jelas." Safiya menggelengkan kepala. Karena orang tua Devano juga pernah menanyakan Safiya untuk menjadi menantunya. "Yang terpenting itu ia mau menerima kamu, Fiya. Itu yang utama dan tanggung jawab, mana ada orang kaya mau meminangmu apalagi kita ini orang tak punya." "Tapi masak mau nikah aku ngak tahu orangnya sih Ayah?" tanya Safiya penasaran tentunya. "Kemarin kamu tak melihatnya, kah? calonmu itu baru datang saat semua mau pulang. Dia tampan ko aman." Safiya menggeleng. "Ngak Ayah." "Cinta akan datang dengan sendirinya, Fiya. Ayah hanya nggak mau kamu menikah terus berpisah seperti pasangan yang ditinggal selingkuh." Safiya hanya menggelengkan kepala. "Ayah, nggak semua orang begitu kan. Buktinya Ayah setia tak menikah lagi setelah Ibu pergi?" Ayah Edi terbatuk. "Minum Ayah." "Apa kamu setuju jika ayah menikah lagi hah?" Safiya hanya mengangkat kedua bahunya. "Bagaimana?" "Apanya?" tanya balik Safiya. "Perjodohan ini?" Safiya melengos menatap ke arah luar. Embusan angin malam hari dan cerita sang ayah seakan bersatu menusuk tulang-belulang Safiya. Tubuhnya semakin bergetar tapi Safiya tetap tersenyum di depan ayahnya. Meski semua merusak segalanya dan menghancurkan mimpi-mimpinya. *** Pagi hari Safiya kembali ke sekolah. Safiya duduk bersama teman-temannya dibawah pohon rindang di sekolah. Namun pikiran Safiya tak tenang ia lebih banyak mendengarkan teman-temannya mengobrol. "Kasihan ya Ela, lulus sekolah langsung disuruh nikah sama orang tuanya, mana sudah tua lagi calonnya." Rara bicara serius. "Siapa?" tanya Tata penasaran. "Tuh si Ela. Rupanya si Ela itu jadi tumbal orang tuanya sendiri." Jelas Rara. "Jangan begitu, Ra. Nggak boleh. Mana ada tumbal." Kata Tata dan Safiya hanya ikut mendengarkan. "Ih serius. Demi membayar hutang, rela ya Bapaknya menjualnya pada rentenir tua genit itu ich miris." "Miris sekali kasihan, Ela." Gosip itu memang benar telah menjadi trending topik dan ramai diperbincangkan di sekolah kita ini. Entah bagaimana mula kabar itu berhembus satu sekolah sudah tahu. Safiya terdiam ucapan Rara seperti menyindir dirinya. Bahkan Safiya pun sama akan dijodohkan dengan duda anak dua juga. Ucapan Rara dan Tata itu seperti sedang membicarakan Safiya. Lalu bagaimana dengan Safiya yang juga pinya nasib yang sama. Safiya hanya diam mendengarkan teman-temannya saling membicarakan Ela. "Kasihan ya, Ela." "Banget, terenggut sudah masa mudanya." Safiya mematung. Ia memejamkan mata membayangkan entah karena masalah pelik atas perjodohannya. Juga cuitan teman-tamannya membuatnya gemetaran dan terpukul. Berharap ketika mata Safiya kembali terbuka, semua akan berubah seperti sedia kala. Ia akan melanjutkan kuliah dan bermain bersama anak-anak usia remaja. Harusnya begitu, kan? karena baru saja Safiya merasa begitu bahagia telah mendapatkan nilai terbaik. "Selamat, Fiya kamu istimewa nilai kamu terbaik." Bu Nadia memberikan selamat. Kabar bahagia itu seketika menjadi kabar duka ketika Ayahnya mengungkap sebuah perjodohan yang membuat mimpinya hancur berantakan. "Fiya mau kemana lo?" Safiya menoleh. "Tolilet bentar." "Oke." Safiya terus berjalan meninggalkan area sekolah. Ia pastikan tak ada yang sanggup menghentikan langkahnya. Seperti tak ada satupun pula yang bisa menghancurkan mimpi-mimpinya. Sebab saat ini Safiya sendiri yang akan menghancurkan mimpinya sendiri. Safiya merasa hidupnya sama seperti Ela akan dibicarakan oleh teman-tamannya. Lambat laun teman-tamannya juga akan mengetahui dirinya akan dijodohkan dengan duda anak dua. Safiya terus berjalan di atas jalanan. Safiya tampak lesu, bibirnya pucat, matanya menyorot tajam. Kaca-kaca di matanya hampir saja tumpah Safiya berusaha kuat menahannya. Kedua netra Safiya basah ia terisak, ia terus berjalan dan kini ia berjalan menuju kerikil-kerikil mendekati arah rel kereta. Ia terus berjalan tanpa arah. Lurus menuju rel kereta memanjang di depannya. Sebentar lagi, tepat di depannya akan ada kereta yang melintas. "Awas, ada kereta, Nak." Suara wanita paruh baya itu tak di dengarkan oleh Safiya. "Awas. Mbak minggir!" Sahut lainnya. Safiya tak peduli ia terus berjalan dan menggenggam erat kedua tangannya. Kedua kakinya kini sudah berada di atas rel kereta. Seolah hendak menantang rel kereta yang sedang berlari kencang. Suara bel kereta itu terus menyala dari kejauhan, namun Safiya yak peduli dan tetap berjalan. "Awas! Ya Allah nak minggir." Perempuan tua itu menangis melihat kelakuan Safiya. "Awas, stop! apa kau sudah gila? Minggir." "Jangan bunuh diri! stop! astaghfirullah! Dosa tau." Seruan orang-orang di pinggir jalan. Tak jauh dari rel. Abram yang melihat itu langsung keluar dari mobil setelah mengenali jika gadis itu adalah Safiya dengan cepat Abram keluar mobil berlari menerobos palang pintu rel. Laki-laki dewasa itu reflek berlari kencang. Tak ia pedulikan nyawanya sendiri dalam pikirannya ia harus bisa menyelamatkan gadis itu. "Mbak woii minggir!" teriak beberapa orang. Kepala kereta mendekat. Dalam hitungan detik sedikit lagi. kereta api itu akan menghantam tubuh Safiya yang masih mengenakan seragam abu-abu. Dengan cepat tangan kekar itu berhasil menarik paksa lengannya. "Awas!" Abram menarik tubuh Safiya ke arah samping. "Ya Allah, selamat." Jerit beberapa orang lega Safiya ada yang menolong. "Biarakan aku mati." "Safiya diamlah." Ucap Abram menenagkan Safiya. Hampir saja malaikat pencabut nyawa datang merampas nyawa Safiya. Abram menahan tubuhnya agar tak jatuh. Reflek keduanya saling berpelukan agar tak saling jatuh tersebab angin berhembus kuat saat kereta api berlari kencang. Abram mengencangkan pelukannya takut jika wanita itu berlari lagi ke arah kereta. *** Setelah melihat kondisi Safiya sudah stabil pasca kejadian tadi. Abram rasanya ingin marah. "Apa kau sudah gila hah." Pekik Abram kesal. Safiya menunduk. Namun, entah kenapa hari ini suasana hati Abram dari pagi gelisah tak menentu, tidak begitu menyenangkan. Perasaan tidak enak ini menyergap dari tadi. Ternyata ini jawabannya. "Dosa tahu, sadar ngak kamu ini salah, hah." Omel Abram. Gadis itu makin menangis kencang, Abram tak tega lalu memeluknya erat. "Sudah, lupakan." Pikiran Abram berkecamuk. Tiba-tiba prasangka buruk berkelebat di kepala. Abram mengendong Safiya menuju mobilnya. Abram tak peduli meski di sepanjang jalan orang memperhatikan mereka dan berbisik-bisik. "Bagaimana keadaanmu?" tanya Abram saat sampai di dalam mobil. Safiya tidak langsung menjawab. "Bagaimana kejadian yang sebenarnya?" tanya Abram pelan. "Maaf, Om." Setelah sekian lama menunggu, akhirnya gadis itu mau bicara juga. "Kamu sudah menyelamatkan putriku, sekarang kamu sendiri mau bunuh diri hah, lucu sekali. Apa masalahmu sehingga mau bunuh diri?" Safiya terdiam. "Kita impas, kamu menyelamatkan putriku, aku menyelamatkan kamu hari ini." Safiya hanya diam. "Sejak kapan Om-om jadi, Super hero?" bisik Safiya dalam hati. "Kamu putus cinta atau tak lulus sampai harus menghabisi nyawa?" tanya Abram. Safiya menunduk. Tak mungkin ia cerita pada Om-om tengil itu. "Sayang sekali nyalimu ciut." "Apapan sih Om. Nggak tahu masalahnya diam deh." Abram tersenyum sudah bisa membuat gadis itu jengkel itu artinya ia sudah tak sedih lagi. *** Abram memarkir mobilnya membeli beberapa bungkus ayam geprek, snake. Juga membeli banyak buah-buahan. "Kita mau kemana, Om?" tanya Safiya yang duduk dijok depan. Terlihat wajah Safiya sudah kembali segar. "Kejutan," sahut Abram sambil menyetir. Tak lama mobil Abram telah berbelok ke sebuah bangunan sederhana bernuansa klasik. Tertulis di sana "Panti Asuhan Kasih Bunda." Mereka melangkahkan kaki menuju rumah utama. Safiya hanya ikut mengekor langkah Abram yang membawa banyak makanan juga jajanan ringan. Sambutan para penghuni panti saat mereka datang, membuat Safiya terharu. Mata wanita itupun tampak berkaca-kaca. "Bu." Abram mencium punggung tangan keriput seorang wanita paruh baya pengurus panti. "Wah, Nak Abram. Bagaimana kabarnya sehat." Wanita itu mengusap kepala Abram saat pria itu menunduk. "Sehat, Bu." "Alhamdulillah. Nak Abram siapa gadis cantik ini?" "Assalamualaikum, Bu. Saya Safiya." Safiya ikut menghampiri wanita yang merupakan pengurus panti. "Wa'alaikumussalam, Safiya. Wah, cantik." Wanita tua itu tersenyum karena Abram merupakan salah satu donatur panti asuhan yang ia dirikan beberapa tahun silam. Anak-anak panti berlarian keluar senang, berbaris dengan tertib saat beberapa pengurus panti membagikan makanan, snak dan buah-buahan yang Abram bawa. Safiya juga ikut andil membagikan seraya tersenyum lebar. Suara tangisan bayi terdengar. Balita itu menangis, Safiya mendekat dan mengendong bayi itu dalam dekapannya. Safiya lupa jika ada kehidupan yang jauh lebih baik. Kenapa Safiya akan bunuh diri padahal di dunia ini masih banyak yang dibawahnya seperti anak-anak panti. Safiya kembali duduk ditaman panti di susul oleh Abram yang duduk di sampingnya. "Kamu tahu kenapa aku bawa kamu ke sini?" Safiya menggelengkan kepala. Meraih anak rambut yang terkena angin lalu menyelipkannya di belakang telinga. "Bahwa berjuang untuk hidup itu adalah kewajiban. Jangan menyerah apapun masalah dan ujiannya." Safiya terdiam. "Bagaimana jika Ayahmu menerima kabar soal kematianmu yang tertabrak kereta?" Safiya menunduk, mengigat wajah ayahnya yang selalu bekerja keras untuk dirinya. "Apapun itu jangan mencoba bunuh diri lagi." Abram menatap Safiya lembut. Safiya tertegun entah jika laki-laki ini tak menyelamatkannya mungkin ia sudah tak ada di dunia ini lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN