Buket Bunga Dari Maxim

1126 Kata
"Safiya, aku lulus." Tata bersorak bahagia. "Alhamdulillah." Semua anak-anak gembira dan bahagia telah dinyatakan dan diumumkan lulus semua. Semua bersorak dengan menyanyikan sebuah lagu. Yuporia kemenangan terdengar hingga ke sudut sekolahan. "Kita lulus, Safiya." Rara memeluk Safiya. "Emm." Kami bersorak gembira. Safiya dan kawan-kawan nya merasa gembira karena sudah sampai di titik ini. "Safiya bisa kita bicara?" Maxim teman sekelas Safiya yang juga kepala genk terkenal badung itu memanggilnya. Safiya tahu jika mereka berdua ada rasa. "Gue?" "Iya lo siapa lagi," jawabnya. Safiya dan Rara saling tatap. Akhirnya Safiya mengikuti langkah Maxim ke kantin. "Lo jadi kuliah dimana? Nilai lo paling bagus bahkan nilaiku jauh ada dibawahmu." Safiya terdiam tak mengiyakan, pun tidak dapat berkata tidak. Tak ada yang bisa ia lakukan, kecuali hanya diam. Safiya merasa bangga, sekaligus tersanjung. Di antara ratusan wanita yang disekolah ini, Safiya lah yang begitu dekat dengan Maxim cowok brutal tapi cool di sekolah. Tentunya incaran para cewek-cewek. Dulu Maxim selalu membuli dirinya lama kelamaan Maxim begitu bucin pada Safiya. Semakin hari kelakuannya semakin membaik. Itu yang membuat Safiya mau berteman baik dengannya. Bahagianya Safiya. Seharusnya begitu tapi? "Lo tidak melanjutkan kuliah?" tanyanya kemudian setelah hanya diam yang menjadi jawaban. Safiya tidak berani menampakkan raut wajah keberatan. Terpaksa memasang senyum palsu. "Tentu saja aku sangat ingin kuliah. Tapi belom." "Aku akan kuliah ke luar negri jika tidak keluar kota. Jadi kita akan lama tak saling jumpa." "Hmm." Safiya lagi-lagi ingin menjerit, kuliah itu adalah cita-cita terbesarnya namun harus kandas kan. Perkataan Maxim baru saja membenamkan Safiya dalam kesedihan. Senyumnya harus pudar sepagi ini. "Jaga diri lo, Fiya." "Ya, lo juga. Take care." "Hu um." Safiya kebingungan saat tatapannya dibalas oleh Maxim. "Kenapa?" tanya Safiya gugup. "Gak papa, gue cuma terharu saja. Kamu cantik dan aku sayang sama kamu." Deg Seketika jantung Safiya berhenti berdetak sekian detik. "Ap-a?" tanya Safiya terbata. "Lupakan, tapi ...?" "Hah?" Safiya mengerutkan kening, saling pandang kemudian sama-sama mengangkat bahu. "Iya, aku merasa nanti bakalan sepi tak ada lo." "Oooh." "Suatu hari nanti jika aku sudah sukses aku akan mencarimu." Keduanya tersenyum dan mengangguk seakan memahami sesuatu. "Kalian ngomongin apa, sih? Berdua saja." Dimas tiba-tiba datang. "Iya, nggak ini cuma ngobrol biasa." "Dipanggil Bu Nadia diajak foto bersama tuh." Maxim dan Safiya saling tatap. "Oke." Semua itu berlangsung hingga acara kelulusan telah selesai. Safiya baik-baik saja menjalaninya karena berpikir bahwa ayahnya telah berhasil membentuk karakter sebagai anak mandiri. Kerja keras yang ditanamkan mampu membawa Safiya ke jenjang pendidikan lebih tinggi di saat teman lain banyak yang berhenti di sekolah menengah pertama. *** Pasca kelulusannya di SMA. Seragam penuh coretan dan tanda tangan, sementara rambutnya berubah warna akibat cat semprot. Di hadapan Safiya Maxim kembali mendekat. "Aku menyukaimu, Fiya." Mendengar kalimat dan menatap sedekat itu, sontak mata Safiya membulat. "Aku tidak meminta jawaban sekarang, Safiya tapi nanti," tukasnya buru-buru. "Nanti. Aku akan datang saatnya tiba." Safiya gugup, lalu mengusap kepalanya. "Tapi ...." Maxim menunduk, menyembunyikan wajahnya yang menekuk. Safiya menangkup pipinya, lalu memaksa wajah itu menengadah. "Aku akan kuliah jauh, tiba saatnya aku akan datang." Tatapan mereka lantas bertemu. Sorot mata itu bercerita tentang luka yang baru saja diciptakan. Sejatuh cinta itukah Maxim? "Sudah jangan sedih, aku yakin kamu juga akan menungguku kembali." Safiya mengulum senyum namun kembali teringat akan perjodohan ayahnya, Safiya mundur dua langkah. "Hei kenapa?" Safiya terdiam. "Ini untukmu." Sebuket bunga mawar indah itu untuk Safiya. Detak jantung Safiya serasa menghentak. Ia menyeka kedua matanya yang basah. Safiya merasa hawa panas menjalari wajah. Ah, kenapa juga ia harus menyelipkan anak rambut ke belakang telinga karena perasaannya bercampur aduk. Mereka lantas berbicara apa saja seraya bersalaman dengan teman sekolah yang merayakan perpisahan. Dari Bu Nadia, akhirnya Safiya temukan jawaban bahwa Maxim akan melanjutkan pendidikannya di salah satu kampus terbaik di luar sana. Safiya mengembuskan napas lega. Setidaknya, masa depannya akan jauh lebih baik. Namun Safiya harus menikah? Lalu jika Maxim kembali bagaimana? Apa Safiya harus menanggung rasa bersalah terhadap Maxim? "Fiya." "Hmm." "Gimana jadinya." "Aku bukan lagi anak kecil. Ra." Rara tertawa. "Apa dia tadi menembakmu?" Safiya menghela napas. Tatapannya berubah sendu. "Apa aku layak untuk seorang Maxim yang keren itu?" Rara mengulum senyum seraya mengusap pipinya. "Cinta memang sebuta itu, kalian kan cocok satunya tampan satunya cantik." Safiya menarik napas. "Entahlah." "Kenapa begitu." "Mustahil untuk kita bisa bersama." "Lah kenapa, Fiya?" tanya Rara dengan keingintahuannya. Safiya menatap Rara. "Karena aku akan menikah, Ra." "What?" Safiya berdiri dan meninggalkan Rara yang masih kebingungan karena ucapan sahabatnya itu. Rara berlari mengejar Safiya. "Safiya." "Safiya berhenti. Lo serius dengan ucapan lo barusan." Safiya berhenti berjalan dan mengadap Rara dengan wajah melas. "Serius tapi bercandyaaa ...." Rara melihat wajah pias Safiya. Dengan cepat Rara memukul lengan sahabatnya itu. "Astaga ngaco. Parah lu gak lucu tahu." "Pulang yuk. Pengen rebahan." "Gayalu, Fi." Rara mengantarkan Safiya pulang dengan membawa banyak sekali beban. Beban yang harus Safiya tanggung seorang diri. Rara tahu jika sahabatnya tidak pernah sesedih ini. Mungkin saat teman-temannya tengah berbahagia memilih jurusan kuliah, Rara hanya melihat Safiya menyembunyikan sesuatu darinya. *** Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggal Safiya, kini ada di depan mata. Tanpa mengetuk pintu, Safiya masuk begitu saja. "Ayah ...." Safiya memanggil. "Fiya! Kamukah itu?" Sebuah jawaban terdengar dari arah dapur. Safiya mendekat. Ternyata ayahnya yang sedang mencuci di belakang. "Ayah ...." panggil Safiya. Ayahnya yang sudah memergoki kedatangan Safiya cepat-cepat mengelap tangannya. "Fiya, kamu rupanya, Nak? Makanlah sudah ayah dinginkan nasinya di piring." "Malas makan ayah." "Lo nggak boleh begitu ganti baju lalu makan. Kenapa baju kamu kotor begitu astaga ada-ada saja tingkah anak muda jaman sekarang, baju bagus begitu malah dicoret-coret nggak karuan." Ayahnya menelisik ke belakang. "Ya kan nggak dipakai lagi juga kan, yah." "Terserah lah. Makanlah ayah masakan gudeg kesukaan kamu." Safiya terkejut. Benar-benar tidak menyangka ayahnya selalu mengutamakan makanan untuknya. "Ayah tak ke sawah?" "Baru pulang hanya menyemprot padi saja, Fiya." Wajah ayah begitu berseri-seri menceritakan pertemuannya dengan sang menantu. Tak menyadari bahwa Safiya begitu kesal. "Bagaimana?" "Apanya ayah." "Gudengnya? Ya cerita ayah lah?" "Tahu akhh." "Kok gitu." Entah di mana jiwa Safiya saat itu? Hatinya kian keras menolak perjodohan. Bahkan Maxim lelaki di luar sana yang disukainya tak akan pernah bisa menjadi miliknya. Jika bukan karena dijodohkan Ayah, mungkin tak akan ragu Safiya tolak perjodohannya. *** Hari-hari Safiya kini menyendiri di kamar satu bulan setelah kelulusan. Kini tiba saatnya acara pernikahannya tiba. "Dia sudah jadi penerus perusahaan, Nak. Insyaa Allah kamu makmur sama dia," bujuk ayah lagi. Safiya terdiam. Safiya memandang dalam laki-laki yang banyak membekali dengan ilmu agama, agar Safiya merasa yakin. Safiya memang tidak langsung meng-iyakan. Akan tetapi, tidak mungkin juga Safiya menolak. Safiya pun puasa atas petunjuk ayahnya agar pernikahannya nanti langgeng. Namun, selesai puasa lumayan membuat badan Safiya menyusut. Jangan ditanya, berapa banyak keluarga Bu Wenda yang datang menasihati Safiya agar legowo menerima perjodohan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN