Saat hendak berjalan pulang ada seorang gadis berjalan menubruk Abram dan menumpahkan es teh ke baju Abram.
"Astaga apa Anda tak lihat jalan." Kesal Abram pada gadis itu.
"Aduh maaf-maaf," gadis itu panik langsung memegang baju Abram namun Abram mundur dua langkah.
Namun gadis itu maju bergerak dua langkah dan kembali mau mengusap baju Abram.
"Sudah ini tak apa-apa oke." Abram merasa risih oleh sikap gadis itu.
"Tapi ...."
"Sudah pergilah."
Abram berjalan mengandeng Safiya dengan sikap acuhnya, tidak peduli entah bagaimana gadis yang menumpahkan es ke bajunya. Safiya tampak kesal oleh sikap gadis itu. Safiya langsung menghentikan langkah suaminya dan mengelap kemeja suaminya dengan sapu tangan miliknya.
"Hari gini masih pake sapu tangan?" Ledek Abram.
"Kenapa? Kata Ayah ini irit."
"Oh ya."
"Emm kalau kotor tinggal di cuci kan."
Wajah cantiknya kini jelas sekali Abram lihat, wajah itu begitu ceria dan cantik sekali. Abram terkesiap melihat Safiya, sesekali gerakannya mengelap kemejanya membuat napas Abram berdendang dengan kuatnya.
Dan nervous itu yang juga Safiya rasakan saat membantu Abram menggulung lengan panjang kemejanya yang sudah mengering. Ini pertama kali Safiya berdekatan dengan Abram. Namun, penciuman Safiya terhipnotis oleh minyak yang dikenakan Abram. Harum dan mengahanyutkan.
"Kenapa tadi tidak mengenakan kemeja lengan pendek saja sih, Om? Sepertinya gadis itu sengaja menumpahkan es nya ke Om deh" protes Safiya, sambil terus melipat ujung lengan kemeja menjadi tinggal separuhnya.
"Mungkin nggak pernah lihat orang ganteng saja. Memangnya kamu tak sadar jika aku tampan."
Safiya manyun mendengar jawaban suaminya itu.
"Kenapa?"
"Ngak lucu. Ganteng dari mana?"
"Nggak dengar atau pura-pura tak dengar. Lihatlah gadis-gadis itu kagum kan sama aku." Jelas Abram penuh percaya diri.
"Heleh kenapa tak menikahi sama mereka saja." Kesal Safiya menatap ke arah samping.
"Beneran kan. Kenapa cemburu?'' goda Abram membuat wajah Safiya makin manyun.
"Hiish ...!" desis Safiya menyahut, tangannya yang masih menggulung lengan satunya.
"Jangan cemberut, mau pulang apa ikut kerja?" tanya Abram.
"Heem ... ikut saja. Daripada di rumah juga aku sendirian."
"Yakin ngak bosan?"
Safiya menggelengkan kepala.
Masih sama saat mereka kembali berjalan menuju mobil, banyak gadis-gadis yang menatap Abram membuat Safiya tak nyaman. Apalagi Abram merangkul pundak Safiya membuat Safiya menghangat. Merasa ada yang melindungi.
***
Sampai di dalam mobil Safiya duduk dijok samping Abram memberikan bingkisan untuk Safiya.
"Ambillah, itu kado pernikahan kita."
Safiya menatap suaminya ragu. "Apa?"
Dengan ragu Safiya menerima bingkisan tersebut. Betapa terkejutnya ia sebuah ponsel mewah ada di tangannya.
"Suka?"
Kado pemberian suaminya mampu membuat Safiya tersenyum. "Suka, terima kasih."
Abram masih tersenyum. Abram kembali memberi kartu ATM.
"Aku suka uang kes, Om. Paling aku beli es krim saja."
Gelak tawa Abram terdengar. "Itu untuk keperluanmu, kuliah."
"Makasih, Om. Tapi request boleh ya ini aku simpan kartunya, tapi aku minta kes saja ya, Om. Sesuka Om saja ngasihnya berapa?"
Abram terdiam lihatlah bahkan gaya hidup Safiya dan Flo jauh berbeda Safiya membuat Abram merasa salut."
"Yakin gak butuh ngemall dama jalan-jalan?''
Safiya menggelengkan kepala. "Mama sudah membelikan aku baju satu lemari kan. Buat apa beli lagi."
Abram hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tinggah istrinya.
Sedangkam Safiya tersenyum tipis. Padahal dulu ia harus ikut ayahnya bekerja setiap hari sepulang sekolah hanya untuk bisa membeli ponsel. Safiya mengamati sudut-sudut kantor milik suaminya dengan seksama. Dulu Safiya pernah punya cita-cita ingin kerja di kantor ini. Abram mengajak masuk ke dalam. Semua orang menyapa Abram baik karyawan atau staff kantor, Safiya merasa jika dirinya salah memilih ikut dengan suaminya yang ada ia merasa malu.
"Om, apa aku terlalu kecil sampai orang-orang melihatku begitu?" bisik Safiya ke arah telinga suaminya.
"Baru nyadar? Sudah diam."
"Om."
"Ingat ini kantor, bukan di rumah jaga image, Safiya. Semua orang dikantor ini tahu kalao kamu istriku."
"Ya. Terus manggilnya apa?" tanya Safiya polos.
"Sayang." Bisik Abram.
"Ichh."
Abram tersenyum menggoda. Safiya duduk di kursi sofa kantor milik Abram. Tiba-tiba saat menunggu Abram bekerja kantuk menyerang kepala Safiya mendadak berat karena semalam kurang tidur. Dan tertidurlah Safiya.
***
Waktu terus merangkak maju suasana kamar begitu hening, suara dengkuran halus Safiya yang terpejam mulai terdengar, Abram tidak lama pun bangkit ia masih melihat Safiya masih memeluk tasnya. Lelaki itu pun tersenyum, menatap Safiya yang benar-benar pulas.
Elusan itu masih terasa, hingga berubah menjadi cubitan pelan. Abram tersenyum mentapa istrinya yang kelelahan. Ia berusaha membangunkan istrinya karena waktunya makan siang.
"Fiya, makan dulu yuk," ucapnya pelan.
Ya ampun, Safiya mengucek kedua matanya. Lantas menoleh dengan raut wajah yang merona.
"Emmm malas."
Abram tertawa dengan embusan napas cepat dari hidung, lalu menatap dengan tatapan lembut membuai. Selalu seperti itu. Safiya seperti tengah menyelami mata jernihnya. Mata yang selalu menatapnya teduh. Hingga tak jarang Safiya harus menutup wajah dengan selimut saking groginya.
"Ayo keburu dingin makanannya."
Safiya bangun. "Maaf, Om."
"Capek ya."
Safiya meringis. "Iya."
Abram menggeser tubuhnya, merapat pada Safiya dan mengacak rambutnya. "Sana cuci muka dulu baru makan?"
Safiya mengangguk.
"Jangan lupa cuci tangan?"
Safiya membeku. Sementara Abram masih menatap Safiya. Abram tersenyum. Satu tangannya terangkat, lalu mengelus pipi. Menciptakan hawa panas yang menjalar ke seluruh wajah. Safiya tersentak kaget dan bangkit dari tidurnya. Tangannya bergetar buru-buru masuk ke dalam kamar mandi kantor.
Safiya menutup pintu pelan. Entah bagaimana, tiba-tiba perhatian suaminya membuatnya kaku. Membuat jantung Safiya bertalu tak karuan. Tubuhnya seperti melayang hingga terasa mengambang di udara. Hampir lima belas menit Safiya masih mematung di dalam kamar mandi, gelisah melanda.
"Fiya. Hei kamu baik-baik saja?"
"Ya, Om."
"Ayo makan keburu dingin."
"Ya sebentar."
Abram menggelengkan kepala melihat tingkah istri kecilnya.
"Om," panggil Safiya ragu.
Ah, kalau dipikir-pikir, betapa kurang sopannya Safiya sebagai istri menaggil om.
Abram menoleh, lalu memamerkan senyumnya seperti biasa. Dalam hal ini Safiya sangat bersyukur sebab Abram bukan lelaki dingin yang pelit senyuman. Walau tak banyak bicara, lelaki itu cukup hangat dengan sikapnya yang terkesan ramah.
"Aku tahu kamu pasti capek, setelah acara kemarin," ucapnya. Kemudian kembali membalikan badan.
Safiya mengembuskan napas. Lalu duduk lagi di sofa.
"Makanlah, Fiya. Pagi tadi kamu hanya sarapan sedikit karena terburu-buru." Abram menggeser piring porselen yang penuh nasi dan lauk.
"Terima kasih."
Abram mengangguk. "Makanlah, cepat."
Safiya meraih piring dan makan dengan lahap. Ia memang lapar dan haus. Apalagi habis tidur selera makannya tinggi.
Safiya selesai menghabiskan makannya. Air putih juga diteguk habis. "Aku habiskan semuanya, Om. Kata Ayah kalau makan harus dihabiskan kalau tak dihabiskan famali."
"Kalau nggak kamu habiskan aku bakal marah."
"Terima kasih, ya om!" ucap Safiya sambil mengelap sisa makanan di mulutnya.
"Iya, sama-sama."
***
Selesai Abram membawa Safiya ke butik langganan karena Bu Wenda menelepon jika saudaranya jauh ada yang datang rombongan dari jawa. Mobil sudah terparkir di Butik langganan bu Wenda. Mereka berdua masuk dan akan mencoba baju yang telah dipesan oleh bu Wenda, kali ini bu Wenda memesan beberapa dress slim.
"Yang mana, Om?"
Pilihan Abram jatuh pada warna dusty pink, Safiya berjalan ke arah ruang ganti untuk mencoba memakai dress, selesai ia keluar.
"Gimana, Om?" tanya Safiya malu-malu.
Abram menggelengkan kepala.
Hampir empat kali Safiya mencoba namun Abram belom suka. Kembali ia melihat warna sage green terlihat lembut cocok untuk kulit Safiya yang bersih.
"Coba ini kayaknya bagus deh."
Safiya mendengus kesal. "Lagi?"
"Emm."
Saat Safiya kembali membuat Abram tertegun warna itu cocok untuk Safiya.
"Wah cocok pas dibadan kamu."
Safiya tersenyum akhirnya.
"Masa sih bagus, Om?" tanya Safiya tak percaya.
Safiya mencibir, walau dalam hati mengakuinya baju semahal itu pasti sangat bagus dibadannya. Namun Safiya sedih merasa tak pantas memakainya.
"Cantik."
"Tapi aku ngerasa insecure banget, Om ini kemahalan."
Matanya menatap Safiya lekat. "Kenapa insecure? Harga itu tak sebanding dengan kebaikanmu mau menikahiku, Fiya."
"Apa, Om." Safiya tak mendengar karena suara berisik musik di dalam butik.
"Lupakan, ayo pulang."
"Dipakai bajunya."
"Ya apa perlu ke salon? Mama menyuruhmu ke salon."
Safiya menggelengkan kepala. "Tak usah aku bisa sendiri."
Abram mengangguk.
Safiya tersenyum seraya berjalan. Tak sengaja jemari mereka bertautan, sesaat Safiya merasakan tangan hangat yang menenangkan.
"Habislah. Stop Safiya otakmu nendadak kotor." Bisik Safiya dalam hati.