First Kiss

1436 Kata
Gadis itu teramat belia, bisa Abram lihat titik wajahnya saja begitu mulus tampak tak terjamah hanya sedikit rambut halus yang menutupi, lalu riasan lembut hasil polresnnya sendiri membuat Safiya punya nilai plus tersendiri. Mobil berhenti di depan rumah Pak Surya. Abram keluar berjalan membuka pintu mobil untuk Safiya. Abram mendekati wajah Safiya melepaskan saltbeet membuat Safiya membeku. "Ayo turun." "Emm, rame sekali aku takut, Om." "Ada aku, Fiya." Di dalam di kediaman keluarga Surya itu, semuanya sedang duduk bersama di meja makan, keluarga besar yang baru datang dari jawa, kedua orang tua Abram, hingga adik dari Abram ada disana. Adik Abram juga baru datang ia ikut neneknya di jawa karena melanjutkan kuliah di sana. Loly adiknya Abram yang juga sangat cantik. Abram dan Safiya tampak telat bergabung dengan mereka. Para art tampak menghidangi makanan silih berganti, menu kali ini gule kambing juga sate kambing yang dibawa langsug oleh adik Pak Surya dari Jawa Timur. Juga berbagai olahan lainnya. Langkahnya begitu pelan Abram merasakan ketakutan saat keluarga papanya akan menyakiti fikis Safiya. Berharap jika tak akan ada yang membicarakan soal Safiya yang masih kecil. Abram tak mau membuat Safiya tertekan dan tersakiti oleh omongan yang kurang mengenakkan. "Assalamu'alaikum." "Wa'alaikumsalam. Wah pengantin baru sudah datang." Safiya yang terlalu polos berjalan pelan sekali dengan santainya, ia membuat semua mata tertuju padanya. "Safiya ini adik Abram." Bu Wenda memberi tahu Safiya. "Safiya." "Lolyta." Mungkin umur Safiya jauh dibawah Loly. Namun Loly memiliki wajah yang bersahaja dan juga sedikit pendiam. "Fiya sini nak, bagaimana kuliahnya diterima?" Abram menyahut. "Aman, ma. Tahu sendiri dia nilainya sangat bagus." Jelas Abram "Oh, ya syukurlah, Safiya kenalkan ini semua keluarga kita yang dari dijawa." Safiya mengangguk dan menyambut dengan berjabat tangan satu persatu. Gadis itu menjadi tidak nyaman disana, yang mana ada beberapa keluarga besar menatapnya dengan penuh tanya. "Duduklah Fiya." Perintah pak Surya dengan lembut kemudian. Safiya tidak lagi bisa membantah dia pun duduk saat Abram menarik kursi dengan perlahan untuk Safiya. Beberapa menit kemudian makannya datang, mereka lalu menikamati hidangan, "Ehem, Abram apa yakin gadis kecil ini akan bisa mendampingimu nantinya?" Sindir nenek Patmi ibu dari bu Wenda, "ingat jangan terlena dengan wajahnya yang cantik. Gak kapok apa dikhianati oleh Flo kamu Bram?" "Mama!" Tegur bu Wenda pada ibunya. Neneknya kembali tersenyum dan Safiya semakin di buat canggung disana, Abram tidak ingin merespon ucapan neneknya lebih memilih menikmati hidangan. "Bagaimana, Abram?" tanya Neneknya tak puas karena belom mendapatkan jawaban. "Yang aku tahu, Safiya gadis istimewa, nenek. Meskipun usianya kecil namun ada sisi plus dia dewasa." "Ohya." Nenek seolah menatap tak suka. Abram sedikit kesal namun berusaha membela istrinya. "Tambah lagi sayang." Abram mengambilkan sate di piring Safiya. Safiya sedikit terperangah namun ia mencoba mengangguk saja seraya tersenyum. "Safiya apa yang kamu bisa?" Safiya hanya bisa menarik napas bingung harus menjawab apa, ia sedikit grogi namun ia harus membalasnya. "Saya!'' tunjuknya pada diri sendiri. "Ya siapa lagi." "Saya bisa mengurusi Mas Abram, saya bisa mengurusi Abel dengan baik." "Selain itu?" "Saya akan pastikan menjaga mereka, Nek." Sang nenek hanya diam seraya manggut-manggut. "Sombongnya." Sahut saudara sepupu lainnya Andin. "Bukan sombong tapi itu nyata, Mbak." Sahut Safiya. Senyum Safiya mengembang itu yang membuat Abram terdiam tak percaya dengan jawaban istrinya. *** Saat Abram meninggalkan Safiya yang lagi menemani Abel bermain ada yang bertanya. "Safiya." Terkesiap Safiya. "Ya." "Jangan sombong, kamu terlihat cantik bisa dapatkan lelaki selain Mas Abram, kenapa harus Mas Abram?" tanya sepupu Abram. Safiya terdiam, kenapa orang ini berfikir kesana? "Bagus sekali, eemm enak mendadak jadi orang kaya?" Safiya tersenyum, "masalah buat Anda?" Wanita itu tertawa. "Dasar gadis kampung. Miskin lagi." "Mamaku ini baik kok kenapa memangnya, Tante," sampai Abel ikut menjawab. "Alah tahu apa kamu, Bel?" Safiya menarik napasnya lelah, Ia pun mengajak Abel pergi meninggalkan wanita aneh itu, entah seorang tante dia bicara di depan Abel tak karuan. "Kenapa sih, ma?" "Kesambet kali, yuk mandi selesai itu mama ajari mengaji ya." "Iya ma." Sementara Abram bicara dengan Fadil dokter keluarga Surya. Fadil adalah teman lama Abram. "Istrimu itu cantik dan cukup subur dia bisa segera mengandung keturunanmu. Bram" Abram tertawa. "Sudah lama kan kamu tak melakukannya? Bagaimana gadis lo ini gigit kan?" Kembali Abram tertawa. "Jangan bilang lo belom melakukannya?" "Kepo sih. Apa urusan lo," jawab Abram kesal. "Lo berubah, dulu lo terbuka sekarang bahkan lo sangat tertutup." Abram hanya tersenyum tanpa menjawab apapun itu ia tak akan membiarkan kisah pernikahannya jadi tontonan banyak orang. *** Abram benar-benar tidak bisa tidur malam saat ini. Safiya yang sudah telah terlelap akhirnya terbangun juga karena terganggu oleh gerakan ranjang di sampingnya. "Kenapa, sih, Om tak tidur?" tanya Safiya seraya tetap diposisinya miring. Abram duduk. "Kenapa tadi minum kopi? Jadi enggak bisa tidur, 'kan?" gerutu Safiya masih dengan posisi masih sama. "Nggak sih. Entahlah udaranya panas," jawabnya. Safiya yang terpejam menahan tawa dan jengkel karena tidurnya terganggu. Safiya bangkit meraih remot untuk menambah ruangan agar dingin. Abram kembali merebahkan tubuh. "Nanti kamu masuk angin?" "Kan ada selimut." "Boleh minta tolong, Safiya." "Minta tolong apa?" tanya Safiya berbalik menatap ke arah suaminya. "Lupakan." Abram terdiam, Mata Safiya seketika terbuka. Safiya mendekat meraih kening suaminya dan benar saja dia deman. "Om, kenapa deman loh ini?" "Tidak apa-apa. Tidurlah lagi!" Safiya bangun. Kemudian memandang suaminya yang tidur terlentang dengan satu lengan menumpang di keningnya. Mata pria itu terpejam. Dua hari menikah Safiya memang selalu tidur miring. Hanya untuk menghindari agar tidak bersentuhan dengan suaminya. Makanya ia tak tahu jika suaminya sakit. "Mau minum air mineral, Om?" "Tidak mau." Safiya merasa kasihan. "Duduklah, Om." Abram terpaksa bangun lagi. Ia tak tahu apa yang akan dilakukan istri kecilnya itu. Jemari lentik Safiya memijit bahu Abram beralih ke tangan dan ke lehernya. Baru sebentar sudah membuat denyar yang berbeda. Rasa letihnya hilang begitu saja. Ada rasa nyaman yang Abram rasakan. Sebentar saja Abram sudah tertidur. Safiya tersenyum aneh bisa-bisanya tuan besar sakit demam. Safiya kembali berbaring melanjutkannya tidurnya yang terjeda. *** Pagi ini, Safiya seolah-olah menjadi seleb dadakan. Sejak memandikan Abel dan mendandaninya, Loly dan Lisa langsung menyerbu Safiya dengan tampang kepo maksimal. Tentu saja, mereka menagih cerita tentang kakaknya. Safiya menatap dua wajah penuh penasaran itu dengan perasaan campur aduk. Bimbang antara ingin bercerita atau tidak. "Ceritain, dong, mbak! Gimana? Gimana? Perlakuan kakakku?" Loly bertanya sambil mengguncang lengan Safiya. "Iya, mbak. Penasaran abis, nih. Sebenarnya aku kepo kok bisa sih menikah dengan Mas Abram yang aneh itu?'' tanya Lisa tidak kalah heboh. Safiya menarik napas panjang. Ia mentatap wajah Lisa dan Loly bergantian sebelum kemudian mengangguk. "Jadi, begini ceritanya, dijodohkan oleh ayahku." "Hah?" "Terus?" "Ya begini," jawab Safiya ia pun bingung harus jawab apa. Keadaan jantung Safiya tidak perlu ditanya lagi. Jantung itu berdetak keras dan cepat. Safiya bahkan sampai takut suaranya menembus d**a hingga bisa terdengar sampai luar. Bayangkan saja bahkan dua gadis di depannya ini usianya jauh diatasnya. "Tapi keren lo kakakku bisa dapetin gadis kecil ini." Lisa tertawa kecil. "Keren banget sih." Diam-diam, Safiya mulai menilai Abram yang kini menjadi suaminya itu. Secara fisik, dia benar-benar oke. Tampan dengan komposisi wajah yang diatas rata-rata. Penampilan rapi dan modis. Dengan outfit semi kasual berupa kemeja putih dengan luaran jas yang dipadu dengan celana bahan warna gelap, Abram memang tampil segar dan menawan. Tubuhnya juga menguarkan aroma harum yang menyenangkan. Rambutnya dipangkas pendek dan terlihat tertata rapi. "Ma. Sudah belom?" tanya Abel. "Sudah." "Yah mbak Safiya ceritain dong?" "Ceritain apa? ingat kalian ini masih terlalu kecil untuk mendengarkan." Loly dan Lisa saling tatap lalu bicara bersamaan. "Safiyaaaa." Safiya berlari dengan Abel meninggalkan mereka berdua. Bayangkan saja ia dipanggil Mbak karena menikahi kakaknya. Di ruang sebelah, Safiya bisa melihat Andin yang tersenyum tak suka. Diam-diam, gadis itu menatap Safiya tak suka. Namun Safiya dan Abel berjalan biasa melewatinya tanpa takut sedikit pun. Selesai mengantar Abel berangkat sekolah. Safiya keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit ditubuhnya. Safiya menoleh ke arah kanan kiri tak ada suaminya di kamar jadi 'Aman' Ia kemudian duduk di meja riasan. Safiya tersenyum sambil melihat pantulan dirinya di cermin meja rias, melepaskan ikatan rambutnya, Safiya kaget dan menoleh kearah pintu kamar yang terbuka. Abram sudah berdiri di sana takjub dan terkejut. Namun dengan santai ia tetap masuk mendekati istrinya. Detak jantung Safiya seperti hendak melompat keluar. Karena ia memilih dandan dulu dan kini hanya ada handuk saja yang menutupi tubuhnya. "Kenapa tak mengetuk pintu lebih dulu, Om?" "Aneh ini kamarku sendiri, kenapa aku harus mengetuk?" Wajah Safiya merona merah. Ia bangkit dan berjalan ke arah lemari ganti. "Kenapa, aku suamimu bukan?" Ada senyum menyeringai di bibir Abram. Safiya makin gemetar saat suaminya mengikuti langkahnya. Dan kini jarak mereka sangat dekat di depannya. Abram menyentuh dagu Safiya kemudian mengecup pelan bibirnya. Membuat Safiya seperti tersengat listrik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN