Senjata Makan Tuan

1254 Kata
Ada rasa haru yang menyelimuti hati ketika menyadari jika sebuah sentuhan lembut di bibir, ternyata bisa semudah itu merubah keadaan dan suasana hati. Banyak yang mengatakan jika ciuman pertama sejuta rasanya. Barangkali itu juga yang sedang Safiya rasaikan sekarang. Safira sampai ngak bisa napas ileh sentuh*an hangat bibir Abram masih menempel. "Om." Safiya berusaha melepaskannya. Abram tak mendengarkan terus melum*t bibir Safiya dengan lembut. "Emppttt. Om." Momen itu membuat Safiya mau meledak. Debaran di d**a berdegup lebih cepat. Aliran darah mengalir panas terasa hingga menusuk ulu hati. Namun dorongan tangan Safiya menyadarkan Abram. "Maaf." Dorongan muncul kembali begitu saja saat Abram mendekat ke telinga Safiya dan berbisik. "Kenapa suka?" "Om menodai bibirku." Abram tertawa geli. "First kiss?" Safiya menunduk malu dan berbalik. Karena benar ucapan Abram jika ini ciuman pertamanya. Setengah kaget Safiya merasakan Abram yang berada di belakangnya. Dagunya sedikit menempel di pundak kanan Safiya. Alhasil, tubuh Safiya gemetar ketika merasakan sentuh*an Abram. Abram ternyata tipe cowok romantis. Romantis dengan caranya. Seperti hal-hal kecil yang menurut Safiya bisa melambungkan hatinya yang semakin nyaman. "Besok kita semua mau berlibur. Karena Papa usul mengajak mereka semua ya itung-itungan honeymoon, Fiya." "Semua ikut?" "Hu um." "Yah ngak seru," jawab Safiya cemberut. Ia jika harus bergabung dengan keluarga dari jawa semuanya kebanyakan sinis. "Terus mau kamu hanya kita berdua?" Safiya mendongak kaget. "En-nggak juga sih tapi ...." "Bilang saja ingin berduaan." "Om." Abram tertawa mengacak rambut Safiya. "Kita liburan sebelum kamu masuk kuliah." Safiya hanya membalas tersenyum. "Kenapa mau dicium lagi." Safiya menggelengkan kepala. "Mau digendong, capek." "Dasar manja." Safiya mengangguk saja. Abram tersenyum hanya dengan cara ini agar Safiya bisa terbuka dan juga nyaman berada di dekatanya. Abram janji tak akan menyentuhnya sampai Safiya sendiri yang menyerahkannya sendiri dirinya. "Om." Abram langsung mengendong Safiya entah apa alasannya, Safiya seperti bisa mendengar jantung suaminya berdetak lebih cepat ketika Safiya dalam dekapannya erat. Abram berjalan menuju ranjang, lalu membaringkan tubuh Safiya dengan pelan. "Tidurlah." Safiya hanya tersenyum. "Maaf, aku tak sengaja menciummu tadi." Safiya pun melepas pelan tangannya di leher Abram, saat rasa canggung tiba-tiba datang menyergap. Bukankah apa yang mereka lakukan terlalu berlebihan untuk ukuran dua orang yang baru kenal. Sama seperti Safiya, Abram juga tersenyum canggung saat melihat ia terlihat begitu salah tingkah. "Ya … lupakan," ucap Safiya terdengar gugup, sedang tangannya menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan ekspresi lucu. "Mana bisa kulupa, ada juga nggak bakalan lupa." Safiya pipinya merona merah mendengar bagaimana ucapan manis suaminya. Entahlah. "Selamat tidur." Safiya mengangguk dan tersenyum. Udara malam seakan menusuk ke tulang. Safiya merapatkan selimut. "Om, juga," balas Safiya spontan. Ya Illahi Robbi, apakah seperti ini rasanya diperhatikan dan disayangi? Apakah seperti ini rasanya dipedulikan? *** Malam kian larut Safiya terbangun. Ingin membuktikan ucapan Andin kemarin. Kalau Abram lelaki penggoda. Setelah dari kamar mandi Safiya kembali berbaring menatap suaminya yang tertidur miring. "Kamu tahu jika suamimu itu brengs*k?" Safiya terdiam. "Belom tahu saja kamu, dia sering bertemu dengan mantan istrinya." Deg. Safiya lalu pergi tak menghiraukan Andin. Safiya membalikkan tubuh. Safiya tak akan menbiarkan suaminya direbut Andin atau mantan istrinya. Posisi Abram masih seperti malam-malam sebelumnya memeluk guling di antara mereka. Safiya mulai drama, pura-pura mengigau. Meski gemetar, tapi tangan Safiya akhirnya berhasil melingkar di atas perut suaminya. "Astaghfirullah ini namanya uji nyali! Bisa-bisanya aku kemakan omongan Andin." Bisik Safiya salam hati. Bisa Safiya rasakan kalau tubuh Abram menegang karena setelah itu dia terlihat bangun gugup sambil berusaha memindahkan tangan Safiya. Sementara Safiya pura-pura tidur berusaha menahan grogi dengan sekuat tenaga. "Safiya." Tangannya berhasil memindahkan tangan Safiya ke atas guling. Namun, Safiya tak kurang akal ia pura-pura mengigau "Ayah Safiya rindu" kembali Safiya melingkarkan tangan dan merapa-tkan tubuh, memelu-knya. "Kamu mimpi Safiya." Abram mengel us pipi Safiya. Safiya gelagapan namun tetap dengan mata terpejam ketika suaminya memiringkan tubuh dan membalas pelukannya. "Gil a, ini mah boomerang! Senjata makan tuan ini namanya!" Bisik Safiya. Safiya menelan ludah dengan susah payah. "Hei tidurlah ada aku disini ya." Abram menengakan Safiya. Semakin Abram mengeratkan pelukannya. "Astaga anjirl! Ini, sih uji nyali namanya!" Entah perbuatan Safiya ini diluar akal sehatnya. Namun ia akan berusaha mempertahankan pernikahannya dari serangan para badai api. *** Pukul empat pagi, Safiya yang masih merasakan kantuk, mengucek mata saat merasakan berat pada tubuh Safiya. Suara Adzan menggema sampai di sudut kamar, Safiya merasakan tubuhnya begitu berat. Bisa Safiya rasakan tangan Abram mendekapnya erat. Perlahan Safia melepaskan pelukannya. Safiya merasa mendadak bod*h saat membayangkan ciuma nnya semalam. Pernikahan mereka berdua yang sepertinya belum semua Safiya pahami. Rasanya tubuh Safiya remuk hingga ke tulang. Padahal Safiya tahu, yang sakit bukanlah raga, melainkan hati. Perlahan tubuh Abram berbalik dan Safiya bangkit ke kamar mandi, saat keluar Safiya menjalankan Salat Subuh. Perjodohan yang awalnya memang berat, karena tak ada cinta di dalamnya. Selain itu, Safiya merasa jadi gadis yang hina. Perlahan, Safiya berusaha mengubah arah cinta itu. Memang benar, Safiya belum sepenuhnya menyukai Abram. Safiya sadar perlakuan Abram bisa saja brut*l karena lelaki itu yang halal untuk raga dan jiwa Safiya. Lalu kenapa Abram tak menyentuhnya Kenapa apa benar ucapan saudaranya Andin bahwa memang hatinya milik wanita lain? Sajadah dan mukena. Kini Safiya mengadukan semuanya pada Allah mungkin akan membuat Safiya tenang. Safiya merentangkan sajadah dan memakai mukena. Mungkin dengan ini, Safiya tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. Abram yang bertubuh tinggi melihat istrinya lagi menjalankan ibadah, tampak tengah menengadahkan tangan berdo'a. Terlihat sangat manis dan cukup menggemaskan jika dia dalam keadaan kalem seperti itu. Abram buru-buru membuang pandangan saat menyadari kalau Safiya bergerak dan berdiri. "Sudah bangun, Om?" tanyanya saat tatapannya beralih pada Safiya. "Emm." "Tak Salat?" Abram hanya terdiam. Ya ampun! Abram bahkan lupa kapan terakhir menunaikan ibadah wajib itu. Ya, semenjak kenal Flo sampai saat ini tak pernah ia menyentuh sajadah. "Salat itu wajib hukumnya, Om. Dan Om tak lupa kan?" Entahlah. Cukup aneh sebenarnya namun gadis kecil itu sedikit membuat Abram merasa tertampar. Sekitar lima menit Abram menghabiskan waktu di kamar mandi sebelum akhirnya memilih untuk berwudhu dan keluar dari tempat itu dengan handuk yang membelit hingga ke bagian perut. "Astaga aku bisa terno da kalau begini caranya." Bisik Safiya memalingkan wajah ke arah lain. Abram yang baru membuka pintu kamar mandi, mendadak jadi serba salah saat menyadari Safiya menatapnya penuh selidik. Ah, kenapa Om duda itu jadi semenarik itu sekarang? Dengan handuk yang melilit sebatas pinggang, di atasnya terpampang roti sobek yang membuat Safiya tak bisa melepas pandang begitu saja darinya. Dan … rambutnya yang masih terlihat basah itu, kenapa menggoda iman sekali ya ampun! Safiya seketika menelan saliva berkali-kali. "Kenapa? Baru nyadar kalau aku ganteng?" tanya Abram. Safiya buru-buru membuang pandangan saat dia menegurnya secara spontan. Safiya tak mengerti kenapa dadanya mendadak berisik melihat pemandangan tak biasa yang terpampang di hadapannya pagi-pagi begini. "Apaan sih. Ya nggak lah gr kamunya Om." "Oh, ya?" Safiya buru-buru menjauh, menghindari suasana pan*s yang tiba-tiba muncul pada pagi hari ini. Safiya semakin gugup saat dia tiba-tiba mendekat. Membisik pelan di telinga. Membuatnya semakin tak karuan rasa. "Ya ampun, Safiya! Kenapa jadi baperan begini, sih?" Bisiknya pelan seraya memukul kepalanya sendiri. "Udah selesai mandinya?" tanyanya mengalihkan kegugupannya dan masih dengan nada lirih. "Hu um," jawab asal Abram. "Masih ingat kan dan gak lupa niat Solat sama bacaannya?" "Iya ingatlah." "Habis sholat, jangan lupa berdoa, Om." Gadis kecil itu tampak serius saat memberikan pesan. Terdengar menjengkelkan, tapi kenapa Abram tak ingin marah, ya? "Emm." "Bagus Om." Safiya tersenyum. "Oh, iya, ya sudah, minggir aku juga mandi dulu." Abram membeku entah untuk alasan apa, wajahnya yang putih kembali merona. Abram menurut saja, persis seperti seorang siswa yang ketahuan manjat pagar dan tertangkap basah oleh gurunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN