Liburan Ke Pantai

1222 Kata
Perlahan Safiya membuka korden. Safiya masih mematung berat sekali menyebut Abram sebagai suami. Safiya tidak pernah mengharapkan kehadirannya. Status pernikahannya bagi Safiya adalah sebuah musibah. Beberapa menit kemudian, tak terdengar lagi suara air mengalir dari dalam kamar mandi. Sepertinya dia sudah selesai. Safiya sengaja sudah rapi dengan bajunya saat pintu kamar mandi mulai terbuka, lelaki berwajah putih bersih itu sedikit kaget saat melihat istrinya memperhatikannya. "Kamu sudah siap, Sayang?" Abram mengusap wajahnya dengan tangannya yang agak basah. "Emm su--sudah!" Manik hitam milik Safiya terbelalak, menatap suaminya telanj*ng d**a membuat Safiya susah melela saliva karena salah tingkah. "Kenapa terpesona?" tanya Abram saat Safiya menatapnya terus. Abram mendekati Safiya. Membuat Safiya bergedik nyeri. "Apaan sih. Nggak usah pegang-pegang, Om. Nggak usah berlagak kayak adegan kecakepan. Om itu sok ganteng!" ucap Safiya geram. Abram mendekat memeluk Safiya. "Jangan judes begini dong, Sayang. Pengantin baru itu harus mesra. Kemarin kita di do'akan banyak orang supaya jadi keluarga bahagia ya kan?" Safiya menatapnya dengan kekesalan yang kian memuncak. "Om." "Kamu cantik," imbuhnya kembali berbisik. Safiya mendorong tubuh suaminya. Yang sejujurnya Safiya terpesona dengan aroma wangi sabun di badan kekar suaminya itu. Safiya berusaha untuk berjalan meninggalkan suaminya. "Tunggu, ngak mau lihat aku ganti baju," ucap Abram sambil tersenyum. "Ogah!" balas Safiya ketus seraya berlari karena ketakutan. *** Saat turun ke lantai bawah, Safiya sudah siap dengan celana jeans dan atasan kaos putih juga topi lengkap dengan kaca mata hitamnya ditaruh di atas topi kepala. Simple namun sangat cantik. Kali ini Safiya couplean sama Abel. Kedatangan Safiya membuat Loly dan Lisa, berdeham pelan. "Gimana, Mbak? Sukses nggak tadi malam?" tanya Loly seraya tersenyum. "Sukses, dong," balas Safiya berbohong sambil melirik sekilas pada Andin yang tengah ikut mendengarkan. Andin tampak menunjukkan raut wajah masam mendengar obrolan Safiya dengan Lisa dan Loly. "Syukurlah, semoga cepat dikasih adek si Abel, ya, aamiin." Abram yang baru saja mendekat sambil minum air, tersedak mendengar do'a yang dilantunkan oleh adiknya Loly. Safiya menunduk benar-benar dilema. "Aamiin," balas Safiya dan juga Abram bersamaan. "Nah kan cocok ngomong saja barengan." "Kita kan sehati ya kan, Sayang," ujar Abram sambil menganggukkan kepalanya pelan saat mendekati Safiya. Safiya terkesiap sebentar. "Hei! Dia memanggilku apa barusan?" Bisik Safiya dalam hati. Sayang? "Ciee sayang." Goda Loly dan Lisa tertawa, sedangkan … dia Andin semakin menunjukkan raut wajah tak suka, sesaat sebelum dirinya berlalu menjauh "Huh! Dasar gadis kampungan! Apaa hamil akan aku adukan Mbak Flo." Bisik Andin kesal. *** Waktu liburan yang telah pak Surya rencanakan pun tiba. Mereka semua berangkat menuju sebuah pantai yang cukup terkenal. Abram berada di balik kemudi sementara Safiya, Abel, bu Wenda Loly, Lisa dan nenek satu mobil. Safiya bersandar santai dengan menopangkan siku kiri pada pinggiran jendela. Menjadi pendengar saat Loly dan Abel bercerita kemana-mana. Sesekali Abram menoleh ke belakang, lalu tersenyum ke arah Safiya yang berada tepat di belakangnya. Bu Wenda tampak bersandar sembari memejamkan mata di samping Abram, mungkin efek dari obat anti mabu k yang di minumnya tadi sedikit membuat kantuk, sementara yang lain memilih menikmati perjalanan dengan bercerita. "Mas Bram ketemu sama Mbak Fiya di mana sih?" pertanyaan tersebut jelas ditujukan untuk Abram sang kakak. "Nemu di sebuah desa." "Ohh, apa mungkin bunga desa?" "Bisa jadi, dia ini bidadari," jawab Abram seenaknya yang kemudian disambut tawa oleh Loly. "Hah candaan garing macam apa itu?" Sahut Safiya merasakan kesal. Abram hanya tertawa. Karena berhasil menggoda istrinya. "Kok, bisa sih dapatin gadis seimut ini, Mas." "Ishh ... kepo juga ternyata kamu yaa," jawabnya seraya pokus menyetir. "Habisnya ko bisa gitu aneh deh bahkan usia kalian terpaut jauh." Loly masih penasaran dengan kisah Abram dan Safiya. "Ini lho, siapa yang tidak tertarik sama Safiya coba cantik, imut ceria paket lengkap 'kan," ujar Abram seraya menoleh ke arah Safiya. "Halah! Ngak lucu," sahut Safiya mencoba membaur dengan candaan mereka. Semua tertawa. "Jadi waktu itu mama menyelamatkan aku dari penjahat, sih Tante. Dan ternyata Papa jatuh cinta sama, mama Fiya." Loly dan Lisa saling tatap. "Serius?" "Iya, tante." Abram dan Safiya hanya terdiam. Pasrah dengan apa yang diucapkan Abel. Obrolan mereka pun berlanjut, saling menyahut selayaknya keluarga yang hangat. "Bram awas, mata fokus ke jalan," tegur Mama yang baru bangun. Abram hanya tersenyum jengah. "Siap, Mama," sahut Abram sambil terkekeh. Abram melihat Safiya lewat kaca spion, tampak dia menatap keluar jendela. *** Kali ini mereka ingin liburan ke pantai. Setelah sekian lama berkendara, akhirnya sampai kami di pantai. Lumayan ramai, maklum hari libur. Abram parkir mobil berdampingan dengan mobil milik pak. Surya papanya. Tanpa menunggu komando, mereka segera berganti pakaian untuk berenang di laut. Kecuali Safiya. Hanya Safiya dan Nenek sendiri yang duduk sendiri di atas tikar yang ia sewa. Safiya abadikan momen mereka yang dengan riang bermain air. Mereka terlihat kompak. Sedangkan Abram menemani Abel bermain air di tepi pantai. "Kamu nggak ikut mandi, Fiya?" tanya Abram saat menghampirinya. "Enggak. Aku nggak suka air laut." "Kenapa? Padahal kayaknya kurang afdol kalau ke laut itu nggak berenang atau sekedar basah ditepi pantai." "Air laut itu asin, kalau kena mata pedih, di kulit juga lengket, malas aku Om," sahut Safiya. "Ada-ada saja." "Papaa ... mama sini," teriak Abel sambil berlari ke Abram. Terpaksa Safiya mengikuti berjalan di belakangnya. Terlihat Safiya merasa malas. "Fiya, gantilah tuh mama tadi sudah belikan baju untukmu tadi." Terpaksa Safiya ke kamar mandi ganti baju pantai. Kali ini baju dress bunga-bunga yang dibelikan oleh mamanya Abram. Safiya menatap bajunya se*si juga bajunya. "Ma sini kejar Abel." Ajak Abel saat Safiya sudah bergabung. Hampir satu jam mereka bersama bermain di tepi laut membuat baju Safiya basah. Pandangan Abram beralih kepada Safiya saat ia bermain dengan Abel. Bajunya yang basah menunjukkan lekuk tubuhnya yang asli. Ternyata tubuhnya kecil namun berisi itu mampu membuat Abram menelan saliva, yang terasa getir. Mendadak tenggorokannya menyempit. Sebelum otak Abram berpikir yang aneh lebih baik Abram mengalihkan pandangan. Safiya menatap suaminya sekilas, lalu mengamati tubuhnya yang basah. Mungkin Safiya juga sadar jika bajunya yang basah itu membuat lekuk tubuhnya terlihat jelas. "Emm, Bel yuk ganti baju nanti masuk angin lo. Sudah lama kan kita disini," bujuk Safiya merasa risih saat Abram menatapnya tanpa kedip. "Baik, Ma." Segera diambilnya baju ganti dan peralatan mandinya. Berjalan cepat menuju kamar mandi membersihkan diri. Tidak lama kemudian Abel dan Safiya sudah kembali. Safiya memasukkan pakaiannya juga pakaian Abel yang basah ke dalam kantung plastik cukup besar. Setelah itu dia kembali menghadap ke laut, memesan mie ayam juga es kelapa muda. "Ciee pengantin baru." Goda Loly yang baru datang menyunggingkan senyum jahil, mengedipkan sebelah mata. Safiya hanya tersenyum. "Abel beli baju yuk ke sana. Jangan disini ganggu nanti." Ajak Loly. "Yuk, tante." "Loly apaan sih?" "Ya ya." Abram hanya tersenyum dan mengambil kelapa muda lalu meminumnya. "Jadi kita pacaran?" Safiya menoleh kaget oleh ucapan suaminya. "Norak masa sudah nikah pacaran?" gerutu kesal Safiya menoleh dan menatap Abram garang. Cuup! Satu kecupan mendarat manis di pipinya. Safiya melotot emosi, mukanya merah padam. "Ommm." Namun Abram cuek saja. Karena Abram tahu, istri kecilnya akan mati kutu jika ia sedikit merayunya. Namun Abram sangat suka jika istrinya malu-malu kucing. "Ya, mau lagi." "Ishh." Astaga nyaris copot jantung Safiya Saat Abram menciumnya. "Tapi suka kan?" Goda Abram lagi. Satu pukulan keras mulus mendarat di pah* Abram. Abram meringis menahan sakit. Tapi Abram masih beruntung karena hanya dipukul tidak di tendang seperti ia meringkus penjahat waktu itu. Auwww sakit! "Mau lagi, Om?" Abram mengangguk cepat. "Mau dicium lagi." "Oommm!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN