"Aku akan ke luar ada kerjaan dan ketemuan sama teman. Siapkan bajuku Fiya." Abram berkata setelah mereka selesai makan malam.
Safiya mengangguk. "Iya, Om."
Safiya membuka tas ukuran kecil, lantas menyiapkan pakaian. Dengan santainya Abram berganti baju di hadapan Safiya. Membuat gadis itu memalingkan wajahnya. Kaos kerah warna hitam, celana jeans navy telah rapi dipakai. Kali ini Abram mungkin akan pulang malam.
"Ayo, ikut saja, Safiya. Karena kemungkinan aku akan pulang agak malam."
"Aku ikut Om?" tanya Safiya ragu.
"Ya, kita akan pergi."
Safiya termangu sejenak, "Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu!"
"Emm."
Safiya duduk di depan meja rias. Memakai bedak tipis serta memoles bibirnya sedikit agar tidak pucat. Terakhir menyisir rambutnya.
"Sudah," kata Safiya sambil berdiri di depan suaminya.
"Kenapa pakai itu?" tanya Abram sambil berdiri menatap baju yang dikenakan Safiya dress bunga-bunga bedanya dengan dress tadi siang pendek dan kali ini dressnya panjang.
"Oh, ini mama yang belikan tadi."
"Tidak ganti jeans sama kaos saja."
"Kenapa sih, Om!"
"Aku tidak suka."
"Ini juga panjang kok," gerutu Safiya menatap dress panjang miliknya wajar-wajar saja.
"Aku tahu."
"Nah terus? Sayang kalau enggak dipakai, ini Mama yang beliin lo, Om."
"Kalau aku yang tergoda apa tidak jauh lebih berbahaya gimana," kata Abram sambil menatap istrinya. Safiya seketika bergedik nyeri.
"Bahaya bagaimana orang panjang kok ini aman-aman saja kurasa."
Abram terdiam menatap Safiya yang terlihat cantik tapi ia tak suka bagaimana jika teman-temannya nanti meliriknya.
"Sudah, ayo, kita berangkat. Aku kasih jaket deh luarnya." Rayu Safiya.
"Ya boleh deh aman, orang mengira kamu sengaja pakai baju itu."
"Dasar aneh." Bisik Safiya dalam hati.
Abram mengambil jaket dan menyerahkan pada Safiya. Sedangkan Safiya buru-buru pakai jaket lalu mengambil tas, memasukkan, dompet, dan ponselnya. Mengikuti suaminya berjalan keluar kamar hotel.
***
Perjalanan sudah sampai di area kafe dekat hotel. Udara malam membuat Safiya kedingainan untung Abram memberikan jaket untuknya. Meeting bersama rekan kerja telah selesai. Ditutup dengan acara makan malam. Tapi beberapa rekan kerja undur diri dengan alasan ada keperluan lain dan tidak ikut jamuan makan. Hanya beberapa rekan kerja yang juga ikut dengan istrinya.
"Yakin itu istri kamu?"
"Emm."
Temannya menggelengkan kepala. "Gil* kamu, bisa-bisanya menikahi gadis kecil. Mana cantik banget lagi."
"Tidak penting yang penting ia setia." Jelas Abram seraya menatap Safiya berjarak satu meter dengannya.
"Apa, Flo tak kembali?"
"Untuk apa? Aku sudah melupakannya." Kesal Abram.
Kali ini rekan kerja Abram membawa istrinya juga, Abram menoleh kepada istrinya yang sedang ngobrol dengan istri temannya. Jam delapan malam Abram mengajak Safiya kembali ke hotel. Sepertinya Safiya juga mendengar ucapan Abram dengan temannya tadi.
"Om. Seperti apa hubungan kalian dulu?" tanya Safiya setelah mereka berdua berjalan.
"Seperti yang kamu tahu saja dan aku tidak ingin membahasnya."
Sesakit itukah hatinya? Hingga Abram tidak ingin mendengar nama mantan istrinya di sebut. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka suatu waktu dulu. Setahu Safiya dari Loly jika mantan istrinya punya affair dengan sahabat Abram.
Abram mengikuti Safiya berjalan disebelahnya.
"Aku penasaran kenapa dia meninggalkanmu, Om?"
"Aku tidak mau cerita. Kita sudah punya kehidupan sendiri-sendiri Fiya. Dan, aku sudah punya kamu oke."
Hening.
"Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Jalan hidup seseorang tidak selalu mulus, mungkin Om salah satu orang yang harus mengalami badai yang begitu dahsyat. Tapi Allah sudah menjanjikan sesuatu yang lebih jika Om mampu melewatinya. Sakit itu akan sembuh jika kita mampu mengikhlaskan dan merelakan. Memang bukan hal yang mudah untuk bisa melupakan sesuatu yang menyakitkan bahkan nyaris membuat trauma. Tetapi jika kita punya iman dan mempercayai yang namanya qada' dan qodar maka yakinlah kita pasti bisa merelakan."
Abram tertawa. "Paham, Ustadzah."
Safiya tertawa. "Ih serius itu kata Ustadz tempat Fiya mengaji, Om."
"O, apalagi yang kamu tahu?"
"Bahwa, melepaskan itu sulit, tapi belajar iklas itu mudah, Om."
Abram hanya manggut-manggut. Ia sadar jika Safiya memang gadis baik.
Saat diperjalanan ada gerumulan orang, Safiya mendekat ia juga merasa kepo ada apa. setelah Safiya mendekat ternyata sebuah atraksi dari anak kecil dalam sebuah pertunjukan.
"Yah ngak kelihatan Om. Padahal kayaknya bagus deh."
"Mau lihat?"
"Emm mau banget." Seolah Safiya memohon.
Abram tersenyum berjongkok menyuruh Safiya naik ke pundaknya.
"Om yakin ngak apa-apa?" tanya Safiya ragu.
"Iya, naiklah."
Safiya tersenyum saat melihat atraksi anak kecil itu nge-dance membuat Safiya bahagia luar biasa. Apalagi perhatian Abram mau menggendongnya ha ya demi melihat pertunjukan yang Safiya inginkan membuat gadis itu kian menghangat.
***
Selesai mereka pulang dan duduk menikmati pantai dari kejauhan. Menikmati lampu malam dari kejauhan juga anginnya yang menusuk kulit.
"Nih jagung bakar."
Safiya menggeleng.
Abram memberikan pada Safiya. "Enak ini, ada rasa pedas manis."
"Aku suka tapi sudah kenyang, Om."
"Sedikit saja, sisanya biar aku yang makan."
Safiya melengkungkan senyum. "Baiklah,"
Malam itu keduanya begadang di balkon hingga malam hari. Safiya tahu di sini Abram yang kuat nyatanya ia juga seorang ayah yang rapuh, Loly bilang jika anak pertamanya sulit berkomunikasi dengan Abram yang semuanya serba perfect sementara anaknya suka hura-hura dan juga menghambur-hamburkan uang. Safiya tahu jika Abram terluka, karena dia hanya manusia biasa dengan segala asa dan rasa. Hanya mencoba bertahan dengan cara yang dia bisa.
Safiya sadar harus bisa punya jiwa yang tenang dan sabar dalam melewati setiap ujian. Menjalani takdir dengan penuh keikhlasan belajar untuk merelakan.
Malam itu, bintang-bintang bersinar begitu terang di langit. Angin sepoi-sepoi bertiup, dan aroma bunga-bunga di pinggir hotel memberikan suasana yang begitu romantis. Di tengah-tengah keindahan alam itu, Abram dan Safiya duduk di balkon.
"Malam ini kamu suka?" tanya Abram sambil menatap Safiya dengan mata berbinar.
Safiya tersenyum dan menjawab, "Iya, benar-benar indah. Tapi aku jadi ingat ayah sedang apa di rumah!"
Safiya merasakan denyutan jantung yang tak beraturan, tetapi dia hanya diam.
"Ada yang ingin aku katakan padamu," kata Abram sambil menggenggam tangan Safiya dengan lembut.
Safiya menelan ludah. "Apa itu, Om?"
Abram menatap mata Safiya dengan penuh kasih sayang. "Kamu tak malu jalan denganku?"
Abram menjaga dirinya agar tetap waras saat hasr*tnya sebagai pria dewasa menuntut untuk dituntaskan saat berdekatan dengan Safiya.
Safiya merasa hatinya pun ikut berdebar keras. "Tidak."
Mereka berdua tersenyum dan melihat satu sama lain dalam diam. Kemudian, Abram membungkuk dan menatap lembut wajah Safiya. tatapan itu penuh dengan perasaan yang dalam, yang Abram simpan saat pandangan pertama. Abram tahu bahwa malam itu adalah awal dari sesuatu yang istimewa. Hubungan mereka berkembang dengan indah, penuh dengan momen-momen romantis.
***
Selimut tebal masih rapat membalut tubuh. Sekilas Safiya melihat ke arah kanan kiri. Safiya terkejut dan langsung duduk mer*ba seluruh anggota tubuh. Baju masih lengkap. Berulang kali Safiya mengingat kejadian semalam terakhir Safiya duduk dengan Abram di balkon. Lalu Safiya tak tahu apa-apa lagi. Apakah mungkin pria itu diam-diam mencuri kesempatan saat Safiya tengah terlelap tidur? Otak sibuk memikirkan hal itu. Safiya sadar jika suaminya adalah lelaki normal yang bahkan sah kalau meminta haknya.
"Bagaimana jika semalam?" bisik Safiya dalam hati ia merasa ketakutan meski pun itu adalah sebuah kewajiban.
Ah, tidak!
"Ah tapi tubuhku tak sakit, seperti apa yang teman-temanku bilang jika mereka ML! Ini bukan tanda-tanda malam pertama." Bisiknya lagi.
Safiya mengikat rambutnya bangkit dan mandi selesai Salat Subuh. Saat keluar balkon hotel Safiya mentap pantai dari kejauhan, udara pagi ini benar-benar membuat Safiya suka.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
"Om dari mana?" tanya Safiya curiga.
"Jalan-jalan ditepi pantai."
"Semalam, Om nggak apa-apain aku 'kan?!" tanya Safiya penuh selidik. Menatap intens ke arah suaminya.
Abram terbelalak, lalu tawa kecilnya terdengar renyah.
"Lha kamu merasa diapa-apain, nggak?" Abram balas bertanya hingga menimbulkan teka-teki bagi gadis kecil itu.
Safiya dibuat makin curiga. Safiya kembali mer*ba beberapa area sensitif pada tubuh. Mata Abram ini ikut menyusuri setiap pergerakan tangan Safiya pun ikut tertawa dibuatnya.
"Aku tanya serius, Om!" Safiya meninggikan nada suara.
"Emm ...."
"Apa, Om?" Safiya tak sabar dengan jawabannya.
"Ya sih cuma kiss bibir dan wajah," jawabnya santai.
"Apa? Om udah berani cium aku?"
"Bukankah waktu kemarin juga pernah."
Safiya menunduk malu. "Berani sekali Om? Ngak nepatin janji." Semakin bertambah kekesalan Safiya padanya.
"Halal dilakukan." Abram berbisik tepat di telinga Safiya.
Tubuh Safiya sedikit bergetar begitu mendengar kalimat itu.