Dewi Fortuna

1050 Kata
"Aku tanya serius, Om!" Safiya meninggikan nada suara. "Emm ...." "Apa, Om?" Safiya tak sabar dengan jawabannya. "Ya sih cuma kiss bibir dan wajah," jawabnya santai. "Apa? Om udah berani cium aku?" "Bukankah waktu kemarin juga pernah." Safiya menunduk malu. "Berani sekali Om? Ngak nepatin janji." Semakin bertambah kekesalan Safiya padanya. "Halal dilakukan." Abram berbisik tepat di telinga Safiya. Tubuh Safiya sedikit bergetar begitu mendengar kalimat itu. Safiya hanya bisa pasrah mendengar jawaban suaminya. Dengan perasaan tak tega Abram meninggalkan istrinya itu duduk sendirian di ranjang dan berlalu ke kamar kecil. Namun, mau bagaimana lagi? Sebagai seorang pria yang normal bukankah ia juga menginginkannya. Setelah Abram selesai dan keluar dari kamar kecil, tampak Safiya duduk di balkon Abram meninghindar. Karena hanya akan menimbulkan gair*hnya datang kembali. "Kenapa, Fiya? Biasanya juga lihat, kan?" celetuk Abram saat tiba-tiba memasuki kamar. Ketika mendapati reaksi Safiya yang salah tingkah, karena melihatnya hanya menggunakan sehelai handuk. "Ish, apa sih, om? Biasa saja!" sahut Safiya. Mencoba menampik pikiran yang tidak-tidak di kepalanya. "Hari ini terakhir kita liburan mau jalan-jalan?" Abram hanya bisa menahan degup tak menentu. Keluarganya benar-benar meninggalkan dirinya dan Safiya disini. "Malas!" Safiya menolak ajakan Abram. "Lah, terus?" "Perutku sakit, om." "Kenapa?" "Belikan pembalut sepertinya aku lagi dapat deh om," ucap Safiya membuat Abram mengerti. "Dapat?" tanya Abram penasaran. "Hu um." Tampak wajah Abram berubah gusar ia tampak pasrah. " Ya baiklah, mau sekalian kunyit asam?" Safiya menggelengkan kepala. "Ngak suka." "Harus suka biar lancar haidnya." Safiya kembali mengangguk pasrah. "Ya iya, Om." Kini, pria berbadan tinggi itu sudah berlalu pergi. Setelah suaminya pergi langsung Safiya ke kamar mandi membersihkan diri. Setelahnya Safiya kembali memasuki kamar dan merebahkan badan. Terlalu letih menahan sakit, hingga lelap membuai mata dan tepikan kesadaran. Ada hangat yang tiba-tiba menjalar, seiring mata yang tak terasa lama terpejam. Abram kembali pulang, lengannya melingkar memeluk Safiya yang terjaga dalam sepi. Safiya membuka mata ia menatap Abram suaminya dalam diam, memperhatikan setiap lekuk di wajahnya dalam temaram. *** Hampir setengah hari Safiya tidur setelah meminum kunyit asam badannya kembali segar dan menuruti perintah Abram yang mengajaknya jalan-jalan. "Mau beli baju, Fiya?" tanya Abram. Safiya menoleh sekilas. "Baju." "Hmm, setelah ini kamu kuliah kan. Butuh baju baru banyak kan?" "Tapi dekat rumah juga ada kan, Om." Abram tertawa. "Aku sibuk dan kata orang-orang disini banyak sale." "Terus?" tanya Safiya heran. "Makanya ayuk! Mumpung aku libur. Apa mau digendong?" Safiya langsung salah tingkah. Mungkin saat ini pipi Safiya memerah. "Ngapain? Aku bisa jalan sendiri." Safiya tergagap. Malu sekali rasanya Safiya terlihat salah tingkah begini. Di perlakukan seperti ratu. Oleh seorang duda anak dua Safiya bisa apa mendapatkan kuliah gratis hirip layak jauh dari kehidupannya bersama ayahnya. Entah Safiya harus senang apa tidak dengan kehidupannya sekarang disisi lain ia cukup dengan segala hal namun disisi lain hatinya masih ragu. Sekarang, mereka sudah berada di deretan baju. Jiwa gadis itu meronta. Deretan baju cantik kekinian yang biasa dipakai para remaja seolah melambaikan tangan meminta Safiya mendekatinya. Ah, tapi tak mungkin Safiya bersikap kampungan di depan suaminya. "Silakan kamu pilih yang kamu butuhkan, Fiya!" ucapan itu mengagetkan Safiya dari lamunan. "Om ini berlebihan?" tanya Safiya. Abram hanya menjawab dengan anggukan. Sementara netra Safiya melirik ke arah kanan san kiri. "Ayo pilih." "Beneran, Om?" netra Safiya membulat sempurna. "Iya, Sayang," jawabnya lembut. Netra Safiya langsung menyapu deretan baju yang dibalut ala remaja. Safiya mulai menghampiri satu per satu, hingga setelah berapa lama, pilihan Safiya dengan motif yang simpel. "Sudah, Om." Abram tertawa. "Satu saja?" Safiya hanya membalasnya dengan anggukan. Abram segera memilih. Tanpa pikir panjang Abram membeli beberapa baju Safiya kaget. Karena hari ini hari dewi fortuna keberuntungannya. "MasyaAllah ini kebanyakan, Om." Safiya terlalu bahagia. "Ini coba kamu pakai." "Ini, Om?" tanyaku antusias disertai mata yang melebar. "Iya." Safiya segera ke kamar ganti untuk memakai ootd kekinian dres warna putih dengan luaran warna coklat s**u. Selesai Safiya keluar kamar ganti. "Om, bagus nggak?" Safiya mengembangkan senyum dengan bibir yang terkatup. Abram manggut-manggut entah kali ini Abram begitu terpesona oleh penampilan istrinya itu. "Bagus." "Safiya bukan ratu tapi kehadirannya mampu membuatku kehilangan arah." Bisik Abram dalam hati. "Astaga gadis kecil itu cantik sekali." "Mbak sekalian yang dipake." "Baik, pak." Kata pelayan. "Om ini langsung dipake?" "Hum," jawabannya sukses membuat wajah Safiya memerah lagi. *** Sesampainya di kamar hotel Safiya menarih beberapa paper bag ke atas ranjang, hari ini sangat melelahkan karena suaminya meminta gonta ganti baju di kamar pas. Safiya metebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang. "Kita sarapan di kamar apa turun ke restoran?" tanya Abram pada istrinya. Sedangkan Abram melihat laptop dan bersandar pada kepala ranjang. "Disini saja capek aku, om," jawab Safiya tanpa memandang ke arah suaminya. "Mau makan apa?" "Aku pengen makanan yang ada kuahnya, om. Soalnya panas banget hari ini." "Baiklah." Abram menelepon bagian room service dengan melihat nomor yang tertera di katalog. Lantas memesan dua menu soto kuah bening dan juga baso ada juga rawon biar Safiya nanti yang memilihnya sendiri. "Oh, ya. Apakah secepat ini kamu hamil? Padahal kita belom melakukannya?" Safiya berdecak lirih. "Om, ich gak lucu." Abram tertawa menggoda istrinya. "Habisnya aneh kenapa bisa sih ngidap kuah segala." Safiya menggelengkan kepala menakup lengan Abram. Ponsel milik Safiya berdering di sana temannya Rara yang menelepon. "Siapa?" "Rara." Safiya terlihat senang. "Matikan saja ponselnya, atau bilang ke dia kalau jangan mengganggu suami istri yang sedang berbulan madu." "Om, ich." Omel Safiya. Abram tertawa nyaring. "Iya iya." Safiya mencubit perut Abram sangat keras. "Awww sakit." Safiya tersenyum jahat meraih ponselnya. Kemudian menekan warna hijau untuk mengaktifkan ponsel. "Hai, Ra." Terlihat wajah sabatnya tersenyum ke arahnya. "Hei bocah kemana saja ngak kerja, ngak nongol, ngak ngabarin sebel ichh." Safiya berdiri berjalan ke arah balkon dan mengarahkan ponselnya ke arah pantai. "Ahhh lo pantai." "Hmmm." "Pantesan ngilang gak kasih kabar, bulan madu ceritanya." Safiya hanya nyengir. "Ya begitulah." "Astaga dasar bocah." Kesal Rara. "Hei, asyik ya sampai lupa kabarin gue." Rara tersenyum di seberang sana. "Maaf, dadakan juga soalnya." Jelas Safiya seraya tersenyum. "Hemm gimana di sana seru?" "Seru banget. Ra." "Hhmmm aku kangen, Fi." "Hah benar sekali itu, hikhik jangan membuat hatiku patah, Ra?" Bergantian Rara sekarang pengen ikut ngobrol bersama Abram. "Om." "Ya." "Jagain, Fiya ya awas kalau nggak." Abram tersenyum. "Ya tenang saja." Keseruan mereka hingga setengah jam mereka vidio-call. Sampai bagian room service yang mengantar makanan mengetuk pintu. Barulah Safiya mengakhiri teleponnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN