Bertemu Mantan

1030 Kata
Safiya duduk di cermin mengoles bedak tipis lalu mengolesi bibirnya dengan lipgloss. Abram mendekat dan memeluknya dari belakang mengecup kepala Safiya yang masih harum karena aroma shampoo. "Om risih tau." Abram tertawakan Safiya yang risih karena ulahnya. "Kenapa mukanya ditekuk gitu?" tanya Safiya, ia tahu jika suaminya sedang sedih karena tak biasanya "Emm, gak apa-apa." "Serius, itu bukan om banget deh? ada yang perlu dibantu!" "Aku baik, Fiya," jawabnya seraya mengacak rambut kasar Safiya. Safiya akhirnya menyetujui ucapan suaminya. "Ya. Baiklah!" "Sudah siap, pak Jamal sudah ada di lobi hotel!" "Ya sudah sih, om." Hotel bergaya modern itu tampak sepi dari depan. Tapi di dalam sangat ramai. Mereka berjalan beriringan menuju tempat dimana pak Jamal menjemput, hotel yang sangat indah berhadapan langsung dengan pantai. Suasana terlihat begitu ramai. Dekorasi berwarna putih dan ungu membuat restoran terlihat lebih indah. Para tamu yang hadir bisa dipastikan dari keluarga bawah ke atas namun ada juga yang dari berbagai kalangan. Ada beberapa artis, pejabat dan yang lain adalah para pengusaha. Karena terkenal bersih juga enak makanannya. Duduk di sudut restoran besar itu, karena pak Jamal masih izin keluar sebentar. Abram tak lepas memegang tangan Safiya, telapak tangan mereka saling menggenggam. Dan Safiya tahu jika ada yang di sembunyikan oleh suaminya itu. Hening. "Istrimu, mas? cantik cocok juga denganmu?" tanya perempuan itu yang tiba-tiba datang mendekati Safiya dan Abram, wanita itu menatap lawan bicaranya, dengan ekspresi sinis. Abram terdiam. Safiya tersenyum mendengar ucapan wanita di depannya itu. Safiya merasa jika suaminya sedikit tak nyaman atas kehadiran wanita itu. Akhirnya satu tangan Safiya tiba-tiba menyelinap merangkul pinggang Abram dengan mesra. "Istrimu masih kecil tapi bucin ya?" tanya wanita itu menatap kesal kemesraan mereka berdua. "Harus lah," ucapnya. Wanita itu sedikit menoleh, tersenyum kesal penuh curiga dengan pasangan di depannya itu. Abram terdiam kini Safiya yang menjawab. "Ya bucin sekali, suamiku ini sangat tampan baik dan bukankah menikah itu ibadah. Mumpung masih muda, mumpung masih kuat, mumpung masih mampu. Nah, kenapa harus ditunda-tunda? Karena perjalanan setelah menikah itu berat, jadi butuh mental dan stamina yang kuat kan, mbak." Sindir Safiya. Abram hanya diam, ia tersenyum istrinya benar-benar cerdas. "Norak." "Tidak norak, halal juga, kan!" Kata Safiya lagi membuat wanita itu kesal. Abram menatap Safiya dan tersenyum. "Benar katamu Sayang, kita halal dan bebas." Jelas Abram. "Ngak malu apa, gadis ingusan begini ternyata tipe nya?" Abram tertawa. "Tidak bahkan aku bangga bisa nikahin gadis cantik ini." Safiya tahu jika suaminya memendam luka saat menatap wanita itu. Safiya hanya mengamatinya, pasti seorang suami kecewa jika istrinya seringkali tidur dengan pria di luar sana. Hanya saja, mantannya dulu yang rela ditiduri sahabatnya sendiri, setelah sang mantan mencengkeram kuat agar dapat menguras harta Abram lebih banyak lagi. Hingga membuat Abram sakit hati. Tatapan Safiya dan wanita itu bertemu. "Bertahan berapa lama!" "Selamanya. Bukankah yang muda yang bergai-rah. Terus maunya seperti apa, Anda?" Safiya tersenyum mengejek. "Tidak bukan Anda, karena yang seger dan cantik masih banyak tentunya pilihan suamiku bukan kamu." Wanita itu tampak emosi. "Kau." Wanita itu hampir menampar Safiya. Namun dengan cepat Abram menepis tangan itu. "Jangan ganggu istri kecilku." "Tapi dia ...." Abram masih terdiam tak bergeming tangannya masih menggenggam erat tangan istrinya. "Kesalahan, kamu terlalu banyak hingga aku tak tahu harus memaafkan yang mana dulu." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Abram. "Ya. Apapun hukumlah jika itu bisa membuatmu memafkan semua kesalahanku, mas." Terdengar Abram menarik napas dalam. "Apapun yang membuatmu, bahagia lakukan saja, tapi jangan ganggu keluargaku." Tekan Abram. Wanita itu menarik napas. "Aku minta maaf, aku janji akan selalu ada buat kamu dan anak-anak." Pinta wanita itu. Safiya baru sadar jika wanita itu mama Abel. Sesak seketika itu yang dirasakan Safiya saat ini. "Oh tidak. Aku tak akan berbagi suami apa pun itu. Kamu tahu mas Abram hanya milikku." Kata-kata itu keluar begitu saja dari ranum Safiya. Safiya menahan emosinya, hotel itu terasa dingin, bukan karena rendahnya suhu pendingin ruangan, namun karena suasana yang membeku antara Safiya, Abram dan wanita itu. Sudah bermenit-menit berlalu tanpa seorang pun diantara mereka mengatakan sesuatu. "Kamu yakin?" "Sure." "Kita lihat saja nanti!" ancam wanita itu. "Ok, dan aku akan menjaga suamiku kupastikan itu." Wanita itu tertawa. "Sombong sekali." "Safiya benar, aku hanya miliknya." Detik itu juga Safiya membeku, sampai pak Jamal datang mereka lalu pergi meninggalkan wanita itu dengan segudang luka. *** Sesampainya di mobil Safiya terdiam menatap keluar cendela mobil. "Kamu cantik banget," godanya pelan tapi berhasil membuat Safiya makin menunduk dalam. "Gombal?" "Serius. Perfect!" Sengaja Safiya memakai baju drees selutut membuat kecantikan Safiya makin bertambah. "Cantikan mana sama wanita tadi?" canda Safiya yang sejujurnya ingin menyindir suaminya. "Cantik kamu" Safiya tertawa kecil. "Tapi simpan kepedeanmu, Safiya." Abram terkekeh. Rasanya deg-degan sekali merayu suaminya. Serasa ini hari paling memalukan tapi itu adalah rekomendasi dari mama mertuanya. Jika nanti wanita iti datang sebisa mungkin Safiya harus menunjukkan keharmonisannya. "Ya ampun memang harus pede jadi orang, om." Safiya tertawa kecil. Safiya cemberut mengomel ngak mempan menghiburnya. Dia duduk menopang dagu ke arah jendela mobil. Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit Abram mendekat memeluk Safiya. "Fiya hai, kenapa diam saja?" tanya Abram lekat menatapnya. Karena tak biasanya istrinya itu diam. Safiya menggeleng ragu, lalu kembali menunduk memainkan jari-jemarinya. Mungkin luka itu hadir. Andai Abram tahu jika kini jantung Safiya saat ini sedang berloncatan. Entahlah. Deg-degannya tidak mau berhenti. Antara cemburu dan campur aduk. "Maaf, Fiya." "Untuk?" Kembali hening. "Wanita itu mamanya Abel." "O." Lalu kembali diam. Mata elang itu menatap Safiya yang mendadak diam lagi. Abram memegang tangan Safiya. "Sudah sedihnya." "Siapa yang sedih," tolak Safiya dikatakan sesih. "Semuanya kembali ke takdir, Om. Jika masih mau menerimanya boleh-boleh saja." "Hust, Fiya." Abram membuang muka. Abram terlihat tak belom bisa terima dengan ucapan Safiya. "Eh, itu ada masjid, om! Salat dulu yuk," teriak Safiya membuyarkan lamunannya ia juga takut suaminya mendadak diam. "Duh jadi begini sih mulutku," gumam Safiya pelan. Akhirnya bisa ngademin otak suaminya yang mulai panas. Sopir berbelok, memutar balik karena masjid ada seberang jalan. Tak lama, terdengar adzan dari pengeras suara masjid. Mereka memakirkan mobil di pelataran masjid dan bergegas turun agar bisa ikut berjamaah. Safiya menelan saliva yang terasa pahit. Tentang harapan yang pernah Abram pendam itu sendirian ditinggal dan dicampakkan bukankah itu sangat sakit. .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN