Memang Itu Posisiku

1173 Kata
Berulang kali Safiya menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. "Safiya." Safiya menoleh ke arah suara. "Apa lo bahagia?" tanya Maxim dalam bayangan tanpa bisa terse*tuh. Untuk sesaat, pertanyaan tak terduga itu melayang di udara tanpa menuai jawaban yang diminta Maxim pada Safiya. "Safiya." "Hum." "Bagaimana dengan hubungan kita?" "Sahabat 'kan!" Hati Safiya sebenarnya berbunga-bunga, Itulah yang terjadi pada Safiya saat ini. Selama ini Safiya dekat dengannya hanya ingin jika Maxim berubah jadi anak yang baik. Namun lambat laun Safiya merasa nyaman. "Tapi aku menganggapmu lebih, Safiya." "Belajarlah sampai lo meraih cita-cita lo. Lo anak baik pasti suatu saat akan berhasil." Safiya tak lupa karena kehadiran Maxim yang membuat hari-hari Safiya jadi lebih berwarna. Safiya memalingkan muka dan beralih memandang taman sekolah. Safiya mendesah pelan. Mereka saling kenal saat memasuki SMA. Maxim tertawa. "Lo memang beda, itu kenapa gue selalu suka sama lo." Safiya tersenyum malu- malu. Tiba-tiba suara itu makin jauh. "Apa lo bahagia dengannya?" Safiya terdiam. Hanya menatap Maxim yang kian menjauh. "Ingat gue akan merebutmu darinya!" Maxim berjalan meninggalkan Safiya yang termenung di pinggir taman. Bahagia atau tidak, Safiya tak tahu. Ia hanya berusaha merebut cintanya. "Max ...!" "Maxim!" Abram menoleh dan menguncang tubuh Safiya yang tertidur di pangkuannya. "Hei, Fiya ada apa denganmu? Fiya!" Kepala Safiya mendadak sakit, Bola matanya mengerjap, mengumpulkan segenap kesadaran yang sempat hilang karena terlelap dalam buian mimpi walau hanya sesaat. Safiya menekan dadanya sendiri saat merasakan kecemasan yang hebat. Selama lulus sekolah, tak pernah sekali pun Safiya bermimpi soal Maxim. Di dalam mimpinya Maxim menatapnya penuh cinta seperti tatapan Maxim padanya memang selalu teduh, Safiya tahu itu bukanlah cinta biasa. "Mimpi burukkah?" Safiya mengangguk. "Ya." Kali ini Abram membantu Safiya untuk duduk. "Siapa Maxim?" tanya Abram curiga. Kecemasan Abram semakin menjadi-jadi karena selama ini Safiya tak pernah bicara jika punya teman laki-laki. "Hah Maxim?" tanya Safiya kaget, karena bari saja ia memimpikan dirinya. "Iya, kamu bicara dan menyebutnya tadi." Safiya mendadak gugup tak tahu harus bicara apa. Safiya kembali mendesah dan memejamkan mata untuk menikmati kenangan masa itu. Indah sekali rasanya saat itu. Tak ada beban dan tak ada tuntutan menikah muda. Walau persahabatannya mereka terbilang dekat, kotak ingatannya nyaris tak bisa menampung semua nostalgia yang tersedia. "Fiya!" "Ngak tahu, om. Aku hanya mimpi dikejar anak laki-laki saja." Bohong Safiya. "Yakin?" "Hu um." "Ya sudah tidurlah perjalanan masih satu jam lagi?" Safiya hanya mengangguk sebagai jawaban. Safiya menatap jalanan ia tersenyum kecil ketika untaian nostalgia menari-nari bagaikan sebuah pemutaran film penuh warna di alam mimpinya. Wajah Maxim memang tergolong sangat tampan, juga senyumannya begitu memanjakan mata. *** Safiya menoleh saat Abram tertawa lepas dan tersipu malu karena telah membohongi suaminya soal mimpinya tadi. Soalnya Abram terlihat berkali-kali lipat lebih ganteng saat sedang tertawa seperti itu. "Kenapa om?" Abram tertawa pelan. "Sejujurnya, aku curiga sih sama cowok dalam mimpimu itu!" Mata Safiya melebar. "Jauh banget mikirnya om, hanya bunga tidur. Lagian aku belom pernah pacaran." Wajah Safiya seketika terasa memanas. Lalu Safiya hanya bisa tertawa pelan untuk menanggapi. Bukankah memang benar jika ada laki-laki lain dalam mimpinya sekarang Safiya mau berbohong bagaimana lagi. "Serius keren juga." Abram memuji istrinya. "Bisa pacaran harus berani nanggung sakit hati, kan? Dan aku tak mau depresi karena sakit hati." Abram mengangguk. "Asyik banget, benar banget sih kata-kata mu." "Emang luka itu sakit kan, om!" tanya Safiya seraya tertawa. Abram tersenyum dan terlihat takjub. "Ya tapi kamu cantik ngak mungkin ngak pernah jatuh cinta?" "Jatuh cinta sih,” sahut Safiya yang disambut gelak tawa oleh Abram. "Jatuh cinta sama siapa?" "Sama om lah." Kata-kata Safiya membuat bibir Abram penuh senyuman. Abram berdehem sebentar. Dengan hati-hati, ia melirik ke arah Safiya. Ternyata dia juga tengah menatap Abram. Bibirnya menyeringai dengan mata yang tampak berkilat. Abram mencoba menampilkan ekspresi tenang. Walaupun ternyata sangat sulit. Bahkan telapak tangan Abram mulai terasa dingin sekarang. "Safiya jangan bohong?" kembali Abram tampak tak percaya. "Belum ada, sih om." Safiya memilih untuk jujur. Tawa Abram lolos begitu saja. "Lagian om yang aneh tanya-tanya nggak penting begitu?" Abram tertawa. "Ya kan ngak salah?" "Ngak salah sih tapi norak, harusnya aku yang tanya sama om, soal wanita tadi." Abram tertawa mengacak rambut Safiya gemas. *** Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang tengah. Mereka saling bertukar kisah. Cerita lucu yang saja. Kadang diselingi debat antara mama dan Abel yang diakhiri dengan derai tawa. Terlihat jika Safiya menikmati kebersamaan dengan keluarga besar. Sedangkan Abram, cukup menjadi pendengar yang setia dengan sesekali tersenyum. Hingga akhirnya Abel sedikit rewel karena sudah mengantuk. Safiya membawanya ke kamar. Seperti malam malam kemarin, Abel tidur ditemani Safiya. "Bagaimana hubungan kalian?" "Baik, ma." Mama Wenda melengos mendengar jawaban puranya, lalu menimpali, "Kamu itu mama tahu kali." Abram terdiam. "Melihat kedekatan Safiya dan Abel, mama suka. Lalu bagaimana jika kakaknya Abel pulang? Mama takut." "Kenapa, ma?" "Pak Jamal bilang jika Flo menemuimu dan Safiya?" "Ya." "Terus tanggapan Safiya?" "Safiya bukan gadis bod*h ma. Dia tahu gimana cara menyelamatkan kehormatan suaminya." Jelas Abram senang ia tahu jika Safiya lah yang menjaga Abram dari mantan istrinya itu. "Apa mama tak salah dengar?" Safiya melakukannya." Abram mengangguk. "Mama tak salah pilih dia gadis yang cerdas." Di rumah suasana hangat dan familiar. Tidak ada kecanggungan dalam diri Safiya. Pembawaannya yang ramah mudah sekali membaur dengan keluarga Abram. Walau baru satu bulan menjadi bagian dari keluarga, tapi dia sudah bisa mengambil hati orang satu rumah. "Mama gitu lo." Abram semang bayangan itu hadir lagi tanpa permisi. Bagaimana Safiya menyelamatkannya dari Flo. Ahh ... keren memang Safiya. "Aku tidur dulu, ma. Sudah malem juga," pamit Abram sambil menggeliatkan badan, melonggarkan otot otot yang rasanya tegang. Abram membuka pintu kamar perlahan, kemudian menitupnya. Tampak Safiya yang terlihat sudah tidur pulas memeluk Abel. Aku tersenyum lalu mendekat, menutupi tubuh Abel dengan selimut lalu menggendong Safiya yang tertidur, membawanya ke kamar. Karena memang kamar mereka berdamping. Abram terus menatap wajah istrinya yang pulas tertidur. Walau hati kecil Abram bicara bisakah mendapatkan cinta seperti yang ia inginkan yaitu Safiya. Dengan sangat hati-hati Abram menurunkan tubuh Safiya ke ranjang, dan ia pun merebahkan tubuh di samping Safiya. Namun walau pun sudah pelan-pelan tetap menimbulkan gerakan yang membuat Safiya terlonjak kaget. Bola matanya mengerjapkan, mengumpulkan segenap kesadaran yang sempat hilang karena terlelap. "Om, mau ngapain?" tanyanya dengan tatapan bingung. "Mau tidur lah. Sudah malam ini," sahut Abram gusar dengan pertanyaan Safiya. "Om. Tidur di sini?" cecarnya terlihat panik. "Ya iyalah, tidur di sini. Ini, kan kamarku." "Kamar Abel om." Safiya berbalik dan tidur lagi. Abram tertawa mendekatkan wajahnya ke wajah Safiya hingga menyisakan jarak sekian centi. Hembusan napasnya menyapu terasa hangat di kulit. "Om ... mau apa sih?" tanyanya terbata bata. Ingin rasanya Abram tertawa. "Menciummu." Safiya menggeleng geleng pelan. "Om sudah ngantuk aku." Abram semakin mendekat. Ingin menggoda Safiya. "Om agak jauh ih, ngantuk aku." Abram tertawa. Namun Abram telah bermain api, ia tak sadar jika ada yang sesuatu yang bergetar. Abram terbius oleh aroma harum di tubuh Safiya. Bau harum tubuh itu semakin membuat Abram candu dari hari ke hari, hawa terasa panas menjalari tiap pembuluh darahnya. "Ah senjata makan tuan sekarang aku yang harus melawannya, melawan hasr*t lelakiku!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN