Malam yang panjang pun akhirnya berlalu juga. Entah berapa kali Safiya bangun, mencoba tidur lelap, lalu terbangun lagi. Begitu berulang terus hingga jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi. Tidurnya tak bisa nyenyak. Serba salah tidur seranjang dengan lelaki meski itu suami sendiri. Rasanya masih bagai mimpi. Pria yang menyebalkan kemarin, kini jadi suaminya.
Rasanya Safiya ingin menertawai takdir yang seakan mempermainkan dirinya sedemikian rupa. Entah takdir macam apa, yang sedang Safiya jalani sekarang. Dunia yang sangat banyak manusianya tapi Safiya malah menikah dengan duda anak dua. Namun rasanya ... aneh! Safiya pun mulai enjoy dengan perannya sebagai seorang istri Sultan yang kaya raya. Posisi tidur apa pun rasanya serba salah. Hingga bangun pagi nanti, terasa sangat berbeda. Sekuat tenaga Safiya mencoba untuk menerima dengan ikhlas takdir yang telah digariskan.
Ah ... sudahlah.
"Ngapain? ayo tidur ini sudah jauh malam."
Safiya menoleh ke sumber suara. Ternyata Abram mengerutkan kening memperhatikan Safiya.
"Eh? Mau apa, Om?" tanya Safiya kikuk.
"Kamu yang lagi ngapain hah? Malam-malam bukannya tidur."
Safiya menggigit bibir dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut juga debaran jantung yang seketika mengencang, membuat Safiya gugup. Safiya menarik napas dan membuangnya perlahan. Menetralisir rasa gugup yang mendera.
Abram mendekat.
"Sini?" Abram mendekat dan memeluk Safiya.
"Om."
"Jangan ngeyel! Keras kepala amat, sudah tidur."
Perkataan Abram semakin membuat Safiya gugup.
"Astaga ... jantung, kumohon bersahabatlah." Guman Safiya dalam hati.
"Om, aku nggak-gak bisa napas."
"Diam tidurlah kamu ini gemesin! Aku tahu kamu bohong. Sudah tidur."
Dan lagi, ada rasa hangat yang saat ini mengaliri pipi. Rasanya hangat dan nyaman dalam deka-pan suaminya.
***
Safiya turun ke bawah menuju dapur kali ini ia akan bikin teh hangat karena tubuhnya agak masuk angin.
"Ciye ... pengantin baru udah mandi, keramas lagi," goda mama Wenda saat melihat Safiya.
Safiya hanya tersenyum miring, malas menanggapi. Tapi ini mama mertuanya yang menggodanya dan Loly.
"Udah diapain aja sama mas Abram? Eh, gimana rasanya?" tanyanya lirih, kali ini ia duduk di hadapan Safiya. Menatap dengan penuh penasaran.
"Apaan sih?" Safiya mengerutkan kening, malu malu pasti ia tak suka jika privasi diusik. Lalu beranjak meninggalkannya yang terlihat sangat penasaran, menuju wastafel untuk mencuci tangan. Dan meminta teh hangat pada sang Bibi.
"Aku tebak sih sampai saat ini belum, 'kan? Ah, pasti belumlah," ucap Loly yakin.
Safiya hanya menghela napas.
"Diam artinya iya kan, mbak!" jelas Loly
"Kepo banget, sih?" gumam Safiya tanpa menoleh.
"Aku cuma penasaran saja, mbak Fiya. Soalnya lawannya duda tampan lagi." Celetuk Loly makin menggodanya.
Safiya terhenyak.
"Tapi nggak papa sih. Kamu harus fokus sama kuliahmu Safiya?" lanjut mama Wenda lagi, diikuti dengan suara langkahnya yang mendekat dan duduk di samping Safiya.
Safiya mengangguk. "Ya, ma."
"Mama hanya pesan, jaga Abram dengan baik, Fi."
Safiya mengangguk. "InsyaAllah, ma."
Sesaat Safiya terpejam, mengusap d**a yang sesak. Bayangan saja mama mertuanya begitu baik dengannya. Mau berontak tapi tak mampu karena Safiya saat ini sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Namun, perhatian dan kasih-cinta mertua selalu membuat hati Safiya menghangat. Mungkin itulah sebabnya, bagi Safiya mama mertuanya sekarang seperti ibu kandungnya sendiri, Padahal kalau dipikir-pikir, di luaran sana banyak sekali mertua judes dan jahat beruntung sekali Safiya mendapatkan kasih sayang di rumah mertuanya.
Safiya menoleh ke arah jalan di luar jendela. Seketika juga teringat pesan ayahnya saat sesudah pernikahannya itu.
"Baik-baik di sana, Fiya. Jadi istri yang nurut sama suami. Jangan bikin ulah."
"Nggeh, ayah."
Masih teringat jelas mata sang ayah yang berkaca-kaca saat meyakinkan kalau Abram itu laki-laki baik. Seorang ayah yang hanya ingin Safiya bahagia. Sebab ayahnya yakin kalau keluarga Surya akan menerima Safiya dengan baik dan sepenuh hati.
***
Ada rona hangat yang membungkus wajah Abram. Dia malu merasakan debar aneh yang tiba-tiba hadir setelah pernikahan itu. Senyum Safiya ibarat candu. Lengkungan manis itu tak pernah gagal musnahkan sedih Abram. Selanjutnya, keceriaan selalu ada saat hari-harinya dihias Safiya. Safiya yang supel, cuek, lucu yang penuh perhatian, membuat Safiya mudah mendapayt teman. Karena seringnya berinteraksi dengan baik.
"Om, teh hangat." Safiya datang membawakan segelas teh hangat untuk suaminya.
"Emm."
"Aku taruh sini, Om."
Abram mengangguk. "Kamu sudah siap hari ini masuk kuliah?" tanya Abram menatap Safiya tanpa kedip.
"Bismillah siap, om."
"Kamu pasti bisa meraih kesuksesan suatu saat nanti."
Safiya menatap ke arah suaminya. "Aamiin."
Tiba-tiba Abel datang saat Safiya mempersiapkan beberapa bekal untuk ospek. Sedangkan Abram mandi.
"Ma ada pr Abel lupa tinggal tiga lagi ini."
Safiya mengangguk mengerti. "Sini mama akan bantu, kamu mandi dulu takut nanti telat."
"Ya, ma."
Safiya duduk di ranjang memperhatikan satu per satu soal-soalnya.
"Pelajaran anak SD sekarang susah ya, Om!" sungut Safiya lirih. Ia tahu jika suaminya sudah selesai mandi dan berjalan kearahnya.
Safiya yang tengah duduk di bibir kasur, seraya menatap buku Abel yang ia pegang.
"Susah gimana?" tanya Abram yang baru saja keluar kamar mandi.
"Susah sih menurutku, Om."
"Lah katanya kamu juara! kenapa jadi ngak bisa?"
Safiya nyengir. "Bukan masalah bisa dan ngak bisanya, jadi waktu aku SD dulu tidak sesusah ini deh, om."
Abram mendekat ikut duduk. Bersamaan dengan aroma wangi yang menyegarkan penciuman Safiya, manisnya mendominasi udara di ruang kamar. Safiya menoleh suaminya itu tampak mengacak rambut basahnya dengan handuk kecil. Parahnya lagi pinggangnya dililit handuk. Itu yang membuat Safiya grogi.
"Oh, astaga! Om terno-da ini penglihatanku."
Abram tertawa. "Ya mau gimana lagi ini kan juga kamarku."
Sontak Safiya pun menutupi wajayh dengan tangan, tapi masih bisa mengintip dari sela jari, "Oh, ada-ada saja nih, Om! Sna aganyi baju dulu," usir Safiya.
"Segitunya amat ngeliatin, ngak kedip. Nanti cinta." Goda Abram.
"Kenapa memangnya, cinta sama suami sendiri halal juga gak papa kan!"
Abram mengacak rambut Safiya. Lantas berdiri kembali berjalan menuju lemari. Aih, pe-de sekali! Safiya hanya menatap buku Abel tak berani menatap tubuh suaminya yang setengah telanj*ng itu. Safiya mengembus, lega. Akhirnya momen ngeri ini berlalu juga. Berdekatan sama suaminya yang bertelanjang d**a, bikin gerogi. Ngeri kalau sampai kilaf.
Abram tertawa. "Takutnya ngak kuat iman."
Begitu pun tawa Safiya terdengar renyah. Seketika Safiya menatap suaminya geli.
Abram nyengir. "Takut kan?"
"Tidak."
"Serius?"
"Sepuluh rius malah."
"Sini, liat."
Safiya menciptakan rasa malu di kedua pipi. "Liat apa?" tanyanya merah banget kali ini muka Safiya.
"Bukunya, Safiya kamu kenapa sih? Ngeres deh."
Abram mengalihkan pembiacaan, tiap kali dekat sama Safiya begini, debaran dalam d**a terasa menyenangkan sekali. Sekuat tenaga, Abram jadi menahan senyum karena Safiya sudah ketakutan setengah mati.
"Ah, yang halal memang lebih nganu!" Bisik Abram kesal.