Boleh, Tapi Hati-hati

1201 Kata
Dua minggu berlalu sejak tanggal pendaftaran kuliah, Safiya melaksanakan Ospek, bersama ratusan mahasiswa lainnya. Seluruh mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari sepuluh mahasiswa dari jurusan yang berbeda. Pada hari pertama, mereka saling memperkenalkan diri, mulai dari nama lengkap, nama panggilan, jurusan yang diambil dan alamat rumah. Hari itu juga, masing-masing kelompok dipilih tiga orang untuk menjadi ketua, wakil dan sekretaris. Safiya termasuk mahasiswa yang ramah dan aktif, sehingga beberapa temannya sepakat memilih Safiya untuk menjadi sekretaris kelompok. Kegiatan Ospek berlanjut dengan tahap pengenalan kampus, visi misi, pengenalan prodi sekaligus dosen, denah ruangan, kegiatan apa saja selama Ospek dan lain sebagainya. Tiba saat waktu istirahat, Safiya bermaksud mencari tempat duduk yang bersih, karena tempat mereka berkumpul sebelumnya adalah di area halaman kampus yang sedikit kotor karena banyak debu. Safiya duduk sambil membersihkan debu di bangku taman bawah pohon rindang dengan meniupnya perlahan. Namun, ada suara tak asing yang memanggilnya. "Fiyaaaaaa!" Safiya menoleh ke arah suara yang tak selalu ia rindukan. "Fiyaaaa!" "Rara, serius itu lo?'' tanya Safiya antusias. "Hu um ini gue. Kangen gue." Mereka berdua berpelukan setelah hampir dua bulan tak bertemu. Rara sangat merindukan sahabatnya ini. "Ra, duduk sini! Sudah kubersihin." Safiya menepuk-nepuk dudukan tersebut. Rara mengangguk dan ikut duduk. "Gimana ceritanya bisa kuliah juga disini, agak jauh kan?" "Awalnya aku menolak karena malas agak jauh tapi, ayah yang tiba-tiba mendaftarkan aku disini. Beruntungnya jodoh sama kamu bisa ketemu lagi senang sekali gue." "Tapi ada hikmahnya kan bisa ketemu lagi sama gue!" "Hu um banget," sahut Rara sambil tersenyum. Mereka sejenak terdiam. Rara sedikit penasaran. Bagaimana kehidupan sahabatnya ini setelah menikah. "Cieee... cieee bagaimana pengantin baru?" "Apaan siiih... yang penting kan kita ketemu lagi," sahut Safiya malu. "Ya siapa tahu sudah ehemm?" Mendengar pertanyaan Rara, Safiya makin tersipu malu dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "Masa' gadis pinter menarik dan cantik kayak lo ini masih suci?" Rara bertanya lagi membuat Safiya tersipu. "Darah suci itu mah yang dicari, vampir." Rara tertawa. "Kenapa sih tanyanya ngak mutu banget. Emangnya kenapa? " "Ya kan beda kali, mana suaminya ganteng banget lagi. Kalau aku jadi Om itu langsung aku terka-m kamu." "Apaan sih mangsa kali." Rara tertawa. "Gak mugkin kan gadis cantik kayak kamu dianggurin." Safiya makin tersipu, gertakan perkataan Rara membuatnya makin salah tingkah. Tapi Safiya seolah-olah merasa kalau Rara hanya menggodanya. Jadi dia berusaha bersikap sebiasa mungkin. "Kayaknya sudah dipanggil deh kita yuk balik kesana, Ra." "Hum, yuk." *** Mereka berjalan bersama meninggalkan ruang kelas. Rencananya, mereka akan hang out dulu nyiapin tugas ospek hari kedua besok. Mereka besok masih harus melanjutkan ospek, namun, Rara dan Safiya berpisah mereka tidak satu kelompok. Selesai mereka melewati sebuah lorong menuju halaman luar. Mengitari sebuah taman dengan bundaran air mancur di tengah, sebelum akhirnya sampai di pingggir jalan. "Ra kita ini salah jalur ya?" tanya Safiya bingung. "Iya kita kok balik ke sini lagi ya," jawab Rara seketika membuat Safiya takut. "Lah gimana ini?'' "Yuk, ikutin kakak itu." Tunjuk Rara pada Safiya. Seseorang yang berjalan. "Yakin lo?" "Kagak." "Aelah, Ra!" Safiya menoyor lengan Rara. Safiya pun bingung. Kampus itu luasnya berhektar-hektar. Dan ini kali keduanya menjejakkan kaki di kampus. Ya wajar lah kalo nyasar-nyasar dikit. "Pantesan lo telat tadi? Jadi pusing aku juga luas banget kampusnya." Safiya bersedekap d**a. Rara garuk-garuk kepala. "Hum kan! Bingung aku. Dahlah, yok? Lagian ini juga baru pertama kali. Kalau terbiasa nanti gak bingung lagi." Rara menarik lengan Safiya karena mereka belom juga sampai di jalanan utama. "Kalo kita nyasar lagi gimana?" Safiya bergedik nyeri takut seperti di film-film horor. "Ya udah, si. Yuk ikutin kakak itu lagi." "Kalo kita nyasar, lo harus tanggung jawab!" Safiya mendelik. Yang anehnya ruang kelas mereka dipaling ujung. "Pokoknya gue nggak mau tau. Lo yang tanggung jawab!" "Iya." Tak berapa lama mereka sudah sampai di depan jalan utama. "Selamet. Alhamdulillah slamet. Untung kita kagak nyadar, Ra." Safiya mengusap dadanya. "Alhamdulillah, deh." *** Abram tersenyum saat membaca chat dari istrinya. Baru saja Abram akan menjalankan mobil saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dahi sedikit mengernyit melihat nomor siapa yang menelepon. Abram merogoh benda itu dari saku celana, lalu menyandarkan siku di pintu mobil setelah menekan tanda hijau. "Kenapa?" "Den non Abel, pulangnya telat ada acara di sekolah." Abram menatap malas keluar. "Ya, mbak. Perlahan tapi pasti menciptakan rasa suka saat Abel banyak sekali perubahan. Suasana makin terang karena hari menjelang siang, dan matahari bersinar begitu garang. "Kamu masih di sana?" "Ya, Den." "Suruh supir jemput non Safiya." "Nggeh den." "Ya udah. Tutup ponselnya." Abram mengakhiri pembicaraan dengan art begitu saja. Abram menghela napas, lalu mengusap rambut hingga ke belakang. Kesepian. Bahkan Abram tak tahu apa yang sebenarnya sedang dia rasa saat ini. Benar-benar kesepian? Atau hanya karena rasa bosan pada rutinitasnya? lalu kembali Abram melajukan mobil yang sempat terjeda. Sesaat, Abram melemparkan pandangan ke arah jalan raya yang masih tampak ramai oleh para pekerja juga para menaik motor. Di tengah perjalanan tak tahu arahnya malah ke kampus sang istri. Tak lama mobil berhenti lagi karena macet di lampu merah, lalu netra Abram menangkap sosok yang sedang duduk di halte. Sosok gadis yang begitu manis sedang bercanda bersama temannya. Senyuman itu yang membuat Abram tak berhenti menatapnya ditambah gadis itu berdiri dan berjoget di depan temannya membuat Abram terkesima. Gadis itu begitu ceria, seolah tak punya masalah dalam hidupnya. Di sepanjang perjalanan macet Abram hanya terpana dengan aksi gadis kecil manis itu. Dengan pelan Abram membuka kaca saat mobilnya hanya berjarak beberapa meter saja dari gadis itu. "Bagus, nggak tarian gue?" Gadis itu ternyata memamerkan pada temannya sebuah tarian. Abram terus menatap ke arahnya. "Yang itu baru bagus." "Rara, ih!" Gadis itu kesal bercampur tawa tertahan. "Orang beneran bagus." "Serius, ayo beli es krim!" rengeknya manja. "Es krim lagi. Dari tadi pagi makan es krim melulu, lo." Temannya Rara mengomentari. "Es krim, Rara!" Gadis itu tetap merengek menatap temannya penuh iba. "Ayolah," jawabannya membuat gadis itu berjingkrak-jingkrak. "Yeey! Sahabat terkeren!" serunya kegirangan, kedua tangannya memeluk sahabatnya penuh rasa sayang. Abram tersenyum menatap gadis itu yang tak lain adalah istri kecilnya tanpa kedip hingga suara klakson dibelakang mobilnya berbunyi membuatnya tersadar dan menjalankan mobilnya lagi. Terus Abram memandangi gadis itu dari balik kaca spion hingga gadis itu tak lagi terlihat. *** Safiya dan Rara duduk di halte, sepertinya mereka akan mencapai angkutan umum. Tak lama mobil jemputan Safiya datang, Safiya pun mengajak Rara masuk ke dalam mobil. "Pak sibuk, gak?" tanya Rara pada pak supir yang menjemputnya. "Kenapa, non?" "Pengen ke rumah, ayah." "Baik, non. Silahkan telepon nyonya apa den Abram dulu." Safiya dan Rara saking tatap. Saat membuka ponsel ternyata sudah ada chat dari suaminya. Safiya langsung tersenyum, ketika tahu lelaki itu mengirimkan pesan singkat. "Gimana hari pertama kuliah? Suka?'' Safiya langsung membalasnya. "Suka. Tapi tadi nyasar." "Hah. Kok bisa?" tanpa menunggu lama Abram membalasnya dan langsung terlihat online. "Kampusnya besar banget. Kelasnya paling ujung." Balas Safiya disertai emoticon nyengir. Safiya nyengir. Menepuk jidatnya ngapain juga dia jujur pasti nanti diketawain oleh suaminya itu. "Aku izin ke rumah ayah sebentar boleh, Om?" Lama tak ada jawaban pasti sibuk. "Chattingan sama siapa?" Rara kepo. Kepalanya melirik ke arah layar ponsel Safiya. "Kepo aja!" Safiya menekan tombol di samping benda itu hingga layarnya menggelap. Sebuah tanda pesan masuk kembali terdengar dari layar ponsel. "Boleh, tapi hati-hati."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN