Lihat Saja Safiya

1233 Kata
"Fi, gue senang bisa sama-sama lo lagi." Rara menatap sahabatnya. Safiya memeluk Rara. "Gue juga ngak tahu gimana rasanya tak ada lo disini." "Gue sempat prustasi karena jauh dari lo. Mau lanjutin kuliah juga malas, eh tahunya kita jodoh bisa ketemu lagi." Safiya tersenyum. "Hu um aku juga suka." "Ohya Fi, gue lihat dua kali bu Nadia ke rumah lo." "Apa?!" "Iya serius, masa gue boong sih." "Kenapa ya, perasaan aku tak punya masalah admistrasi di sekolah. Kita sudah lunas kan? Apa ada sesuatu sama ayah." "Iya. Gue juga mikirnya begitu." Safiya hanya menduga ada apa sampai bu Nadia kerumahnya. "Jangan-jangan beliau suka sama ayah lo Fi?" "Hah ngawur. Mana mungkin mau, Ra lo ada-ada saja deh." "Siapa tahu, ayah lo keren juga kan mesti tiap hari ke sawah." Safiya tertawa memukul lengan Rara. "Tauah." Selesai mengantarkan Rara, mobil kembali berjalan menuju rumah ayah. Safiya tak henti-hentinya terus melafalkan doa karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan ayahnya. Mobil terhenti namun Safiya juga melihat sebuah mobil tengah keluar dari halaman rumahnya. Mobil mewah berwarna putih itu melaju kencang melewati mobil Safiya. Mobil mewah itu keluar dan sudah menghilang. "Fiyaa ...." Safiya menoleh. Itu ayahnya. Laki-laki paruh baya itu datang menemui anaknya. Sang Ayah terlihat menahan rindu saat tatapan mereka saling bertemu. "Ayah." Safiya memanggilnya manja. "Putriku tambah cantik," pujinya sambil memeluk Safiya lembut. Safiya hanya tersenyum haru. Mereka berjalan beriringan menuju rumah. Di teras, Safiya melepas sepatu sebelum memasuki rumah. Langkahnya terhenti saat melihat dua gelas teh di atas meja. Sepertinya ada yang baru berkunjung. "Siapa yang barusan datang? Apa teman ayah?" "Iya nak." Segera Safiya mengambil gelas di meja dan membawanya ke dapur, sekalian ia akan juga mau membersihkan diri. Dari kecil Safiya sudah terbiasa hidup berdua dengan Ayahnya. *** Beberapa saat mereka hanya diam. Entah karena lupa yang ingin dibicarakan. "Barusan sebelum kamu pulang, ada orang berkunjung ke sini, Fiya." Akhirnya ayahnya membuka obrolan setelah beberapa menit hanya diam. Safiya terus mendengarkan. "Dia datang untuk ...." Ayahnya tak meneruskan ucapannya. "Untuk apa? bukankah ayah tak punya lagi hutang?" tanya Safiya mendesak. Laki-laki dengan kaos oblong itu berbalik ke arah Safiya. "Bukan itu, Fiya." "Terus?" tanya Safiya penasaran. "Apa boleh ayah menikah lagi?" Deg! Safiya memastikan tidak salah dengan pendengarnya. Ayah mengangguk. Kali ini, mata sendunya menatap Safiya dalam. "Lalu, Ayah sudah melupakan ibu?" Ayahnya menggeleng. "Keputusan ada di kamu. Apa pun keputusan kamu, ayah akan terima," ucap ayahnya sembari terdiam. "Jika ayah yakin dia adalah penganti Ibu yang baik untuk ayah. Safiya juga akan setuju," ucap Safiya. Sang ayah memeluk Safiya erat seperti biasa. Saat itu juga Safiya merasakan ada yang menetes di pundak. Ayahnya menangis. "Siapa wanita itu, ayah?" Ayahnya menunduk. "Guru kamu." Deg! "Bu Nadia? " "Humm." "Ayah yakin? Pilihan ayah tepat, beliau masih gadis juga wanita terhormat. Apa dia ngak malu menikah sama ayah?" Ayahnya terdiam. "Sudah jika ayah suka, Fi juga suka." Jelas Safiya. Safiya hanya diam, mau berontak pun kalau ayahnya sudah yakin Safiya bisa apa? *** Pagi ini adalah hari kedua acara ospek di kampus tempat Safiya menimba ilmu. Sebagai salah satu panitia, Safiya sudah harus berada di tempat sebelum pukul enam pagi, segala persiapan yang akan dibutuhkan untuk acara nanti sudah Safiya terkemas rapi. Safiya juga menyempatkan waktu mengirim chat di grup kepanitiaan agar pengurus lain tidak telat bangun. Safiya membantu kerja sama saling membantu demi kelancaran acara. "Safiya!" "Ya kak." "Ini salah deh nama ketua kita, mana sudah aku kirim dan sudah ketahuan lagi sama ketua kita." Jelas Nando ketua tim ospek Safiya. Safiya meletakan beberapa barang yang akan di bagikan pada peserta dan memeriksa kembali dan benar salah huruf, astaga Safiya sedikit takut karena bisa-bisa grup nya akan kena hukuman gara-gara dirinya. "Aku saja deh yang minya maaf. Karena aku yang salah kak Nando." Jelas Safiya "Lo yakin galak lo katanya. Adam saja kemarin dihukum." "Ga papa kak memang salah gue kan." "Ya sudah." Safiya berjalan ke arah ketua ospek. Sampai disana Safiya duduk di depan ketua yang sibuk melihat data entahlah. Laki-laki itu tak menghiraukan Safiya terus melihat ke arah laptopnya. "Maaf kak, saya sudah melanggar dan bersiap menerima hukuman." Suara Safiya memutus konsentrasi laki-laki itu di salah satu ruang panitia. "Melanggar apa?" tanyanya sambil membuka data-data tanpa melihat ke arah Safiya. Dan kembali menatap laptop didepannya. Hening. "Mmm ... typo kak. Maaf salah," jawabnya lirih. "Kamu bagaimana bisa salah?!" serunya kali ini kaget, dan dia juga tak kalah kaget melihat reaksi Safiya yang aneh. "Salah tulis nama kak Samuel jadi Shamuel kak." Jelas Safiya seraya menunduk. Dari jarak mereka yang hanya satu meter, tertangkap jelas oleh mata laki-laki itu bagaimana cantik wajahnya. Kulit putih tanpa setitik noda, bulu mata hitam nan lentik, hidung mancung, dan bibir pink yang mungil. Laki-laki itu sungguh terpesona dengan keberadaan Safiya yang ada di depannya. "Ya, dia benar-benar cantik sekali." Bisiknya dalam hati. "Kak ... saya dimaafkan, Kak?" Panggilannya menyadarkan laki-laki itu dari lamunan yang hanya sekejap. "Oh, hukumanmu adalah menjawab pertanyaan gue. Pertama, siapa nama lo?" Laki-laki itu cepat-cepat memberinya pertanyaan. "Safiya kak," jawab Safiya menunduk. "Nama lengkap?" "Safiya Komarya kak." "Usia?" "Delapan belas tahun, kak." "Fakultas?" Ada semburat kebingungan dari cara laki-laki itu menatap Safiya. Safiya seperti tak percaya dengan pertanyaan yang ketua ospek itu berikan. Tapi juga masih aman di jalur perkuliahan sih. Namun, kali ini Safiya diam tak menjawabnya. "Oke. Inget-inget ya. Nama ketua pusat saat ini adalah Samuel. Terus kamu menulisnya?" "Shamuel Kak." Safiya menunduk tak berani menatap laki-laki di depannya. "Lain kali jangan diulangi lagi. Lo boleh kembali." "Makasih, Kak." Safiya langsung balik badan dan hendak meninggalkan ruangan. Safiya berjalan meninggalkan ruangan itu dan kembali berjalan menuju tempat ia mengerjakan ospek bersama teman-temannya. "Fi, lo dari mana?" tanya Rara mengejar langkah Safiya yang kesal. "Dari ruang ketua panitia." "Hah, ngapain coba? Bikin gara-gara saja. Tahu ngak tuh temen gue Rini kena hukum suruh nyapu lapangan." "Hah serius. Ini aku gak diapa-apain!" "Beruntung banget lo." Safiya menatap Rara tak percaya. "Dia cuma kasih gue hukuman tanya nama saja." "Enak sekali jadi lo. Noh lihat anak itu saja masih nyapu ngerjain hukumannya." "Ya mungkin tadi ketua Samuel takut ngelihat gue udah mau pingsan tadi saking ketakutannya." Jelas Safiya. "Mana ada lo begitu. Alesan lo saja kan?" Safiya tertawa membuka sahabatnya erat. Seraya menggelitiki Rara. Karena Tara tahu bagaimana sifat terjang Safiya ini. *** Hari kelima dimana di ospek ada perlombaan bela diri dan Safiya dan Rara ikut dalam pertandingan tersebut. Dan akhirnya pertandingan dimenangkan oleh Safiya. Itu cukup membuat Samuel makin penasaran dengan gadis cantik itu. Namun bisa Samuel rasakan jika Safiya tak pernah menghiraukannya. Bahkan, saat Samuel mendapatkan jadwal mengisi materi, Safiya tetap dengan diamnya dalam sesi tanya jawab. Berbeda dengan gadis lain yang genit dengan bertanya ini itu yang tidak nyambung. Itu yang membuat Safiya special di mata Samuel. "Ndo, gue pinjem buku absensi kelompok kelas lo." "Buat apaan, kak?" "Mau lihat doang. Buruanlah." "Nyari nomernya, Safiya?" tebak Nando dengan tepat. "Kagak ish." "Secara dia keren, siapa tahu sama kayak yang lain nanayain nomor hapenya." "Sembarangan. Emang benar?" "Ya banyak yang nanyain sih." "Oh." Cepat-cepat Samuel memfoto nomor Safiya dan langsung menaruh ponsel dalam sakunya. Samuel menelan ludah tatkala pandangannya terpaku menatap paras cantik yang kini begitu dekat, dan rasa aneh yang kian bergelora di dadanya. Samuel tersenyum puas. Diam-diam membuka mata dan mengintip mimik dan perilaku Safiya yang terlihat salah tingkah saat mentaapnya. "Lihat saja nanti, aku berjanji akan membuatmu jatuh cinta padaku Safiya." Bisik Samuel dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN