Safiya menuggu jemputan hampir sepuluh menit, Rara sudah pulang kini Safiya sendirian menunggu jemputan. Sesaat ada mobil berhenti Safiya ingat jika itu adalah mobil suaminya. Saat Abram membuka kaca mobilnya betapa terkejutnya Safiya ada seorang gadis di dalam mobil itu.
"Safiya ayo naik." Ajak Abram namun Safiya tetap terdiam.
"Ngak mau."
"Ayolah. Apa mau aku gendong!" ancam Abram.
"Aku bilang ngak mau, Om."
Abram langsung menggendong Safiya dan memasukkannya ke jok belakang kemudi. Sedangkan wanita itu ada di samping Abram. Safiya hanya diam tanpa memperdulikan mereka yang sedang membicarakan soal pekerjan atau apalah itu.
Safiya menghempaskan tubuh di atas jok dengan keras. Capek banget rasanya. Sesorean tadi, Safiya keliling di sekitaran kampus. Tugas buat besok adalah yang lebih penting. Eh malah melihat pemandangan yang memuakkan. Safiya memejam dan akhirnya ia tertidur.
"Safiya kamu kenapa? masa gitu aja ngambek." tanyanya setelah Abram menurunkan wanita yang menumpang karena ban motornya tadi bocor.
Safiya terdiam kembali tertidur.
Firasaat Abram benar jika Safiya marah.
"Wanita tadi cuma karyawan aku saja, Safiya." Abram mencoba memberi tahu istrinya.
Safiya mengabaikan Abram. Dia membuka mata dan terus menatap jalanan.
"Fiya." Safiya hanya menggelembungkan pipi.
"Om bohong! Emang dasarnya saja genit. Tetap saja genit, dasar playboy!"
"Fiya!"
Sampai di rumah Safiya terus menaiki tangga dan terus disusul oleh Abram.
"Fiya dengar dulu."
"Ogah."
"Abram, Safiya ada apa ini!"
Serentak mereka menoleh pada mama Wenda yang menegurnya. Mama Wenda terganggu dan tak suka mendengar keributan itu.
"Kalian ini udah nikah, berantem kenapa?"
Mereka refleks saling memandang.
"Ngak usah macem-macem, Abram. Ada apa ini?"
Abram bersedekap dan mengulum senyum, sementara Safiya memalingkan wajah.
"Fiya kenapa?" tanya mama Wenda pada Safiya penasaran.
"Tadi mas Abram satu mobil dengan wanita lain, ma!" ketus Safiya mengadu pada ibu mertuanya.
"Ap-a, Abram!"
"Ngak ma. Orang cuma dia nebeng karena ban motornya bocor."
"Alasan." Bisik Safiya namun masih terdengar jelas oleh Abram juga mama Wenda.
"Kamu ... cemburu?" Abram mengangkat satu alisnya.
"Nggak!" Safiya sungguh kesal.
"Sudah-sudah. Abram kamu juga sih keterlaluan, emanganya ngak ada mobil online atau taksi bikin gara-gara saja."
"Saya ngak mau ngelihat itu titik ... sahabat cewek, maksudnya apaan tuh." Safiya kesal.
"Fiya ...."
Abram mengernyit, sedetik kemudian mengerti. "Ya ya maaf ngak lagi-lagi deh," tukasnya pelan.
Safiya menatap Abram dengan tatapan yang sulit diartikan. Seperti kesepakatan mereka sebelumnya. Saat memutuskan untuk menikah, hubungan itu tidak boleh gagal. Karena jika itu terjadi, mereka mempertaruhkan hubungan yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
"Ma. Lihat itu!"
Safiya memeluk mertuanya.
"Sudah biar mama hukum Abram." Jelas mama Wenda memukul Abram.
Raut wajah Safiya berubah murung. Ada genangan dalam matanya.
Abram mengembuskan napas, lalu bangkit dan menepuk pundak Safiya. "Maaf."
Safiya mendongak, mencari kebenaran dalam sepasang mata suaminya.
"Sebagai hukumananya nanti malam Safiya tidur di kamar mama."
"Ma, terus siapa teman tidur Bram."
"Siapa bikin salah ya itu hukumannya." Kesal mama Wenda.
Abram tertawa entah gadis itu selalu bikin dia happy, kecemburuan Safiya membuat Abram merasa dicintai.
***
Hampir semalam Abram tak bisa tidur, karena bau harum tubuh Safiya sudah menjadi candu untuknya.
"Pagi, Fiya."
Langkah Safiya terhenti saat Abram menyapanya. Mungkin satu kebetulan mereka keluar kamar bersama, lalu berpapasan saat akan membuka pintu.
"Pagi juga, Om," balas Safiya sedikit canggung.
"Pagi banget berangkatnya?" Abram bertanya curiga. Dan mood Safiya sudah kembali ceria lagi benar-benar aneh.
"Penutupan ospek, Om."
"Om siapa, Fiya?" tanya mama Wenda yang tiba-tiba datang.
"Ah busyet mati aku bagaimana ini?" Bisik Safiya nervous.
"Em bukan Om, ma. Tapi omlet masa sarapan mau makan omlet sih Safiya nanti kalau sakit bagaimana coba, Abram juga yang repot, kan?" Jelas Abram cepat.
"Jangan Fiya, ngak bagus itu."
"Yah padahal Fiya pengen, ma. Boleh kan, Ma. mas Abram."
Abram tertawa melihat Safiya memanggilnya mas.
Mama Wenda hanya mengangguk, memahami. Kali ini mama Wenda memberi izin Safiya membuatkan omlet telur sosis. Selanjutnya tak ada percakapan berarti lagi. Meski berada pada satu meja, mereka larut sarapan pagi menikmati masakannya Safiya yang menggoda lidah.
"Safiya, ini enak banget. Sambal sama rebusan daun singkongnya. Baru tahu mama."
"Iya enak lo." Sahut ayah Cahyo.
"Asal jangan disuruh masak terus istriku, ma." Sahut Abram.
Mama Wenda tertawa. "Gimana ya habisnya masakan Safiya bikin candu."
"Besok kalau ngak sibuk, Fiya masakin gudeg plus telur bacem, ma."
Mama Wenda terkejut. "Serius?"
"Serius, Fi. Itu kesukaan Papa jaman dulu lo."
"Iya, asal siapin bahannya, ma."
Mama dan papanya saling tatap, wajahnya terlihat suka.
"Jangan ma kasihan Fiya berangkat pagi masak capek pulang suruh masak sih." Abram menolak jika istrinya di suruh masak
"Cieee gimana, Pa ngak boleh tuh sama Abram." Goda mama Wenda.
"Yah padahal papa pengen banget gudegnya, Fiya."
"Mas, sudahlah ngak papa kok. Fiya sudah biasa masak."
"Yakin?" tanya Abram tak rela jika istrinya disuruh masak.
"Yakin, mas. Cuma tinggal masukin saja kan yang potong buah nagka mudanya Bibi."
Abram akhirnya terpaksa tersenyum, melihat ke arah istrinya. "Ya baiklah."
"Yee." Sorak suka Loly dan Abel.
"Abel memangnya tahu gudeg?" tanya mama Wenda.
Abel menggelengkan kepala. "Tidak sih tapi apapun yang mama masak pasti enak."
Semua tertawa mendengar perkataan Abel.
***
Safiya terlambat beberapa menit. Wajahnya langsung cemberut. Dia langsung menemui Nando yang sibuk menyiapkan acara penutupan ospek.
"Kak maaf telat sedikit."
"Ya cepetan bantuin."
"Ya kak."
Safiya berpindah mengerjakan tugas lainnya, berdekatan dengan Rara. Safiya masih bisa menangkap wajah cemberut sahabatnya.
"Kenapa, lo cemberut kusut kayak baju kagak disetrika dua minggu?" tanya Rara. Bibir Safiya malah semakin mengerucut.
"Nih gara-gara Om Abram minta dibikinin bekal omlet," jawab Safiya.
"Tapi itu sudah tugas lo, kan? kenapa masih kesel?"
"Iya juga sih. Aneh itu orang art dirumah banyak malah minta omlet sama aku."
"Horang kaya doyan juga omlet?"
Safiya berdecak dan menggeleng, merasa senang juga pengen ketawa.
"Fi, lo sadar ngak sih ada yang perhatiin lo dari tadi?"
"Siapa?" tanya Safiya penasaran.
"Diam jangan lihat dulu, tuh yang di ujung yang cakep banget itu."
"Mana?"
"Tuh yang pakai kaos putih."
"Ada naksir lo lagi nih kayaknya." Rara menyenggol bahu Safiya. Jelas saja, terlihat dari pandangan Safiya jika benar ada yang memperhatikan mereka.
"Itu ketua ospek kita kali, Ra."
Rara melotot kaget. "Kakak Samuel!"
"Hu um."
Saat mereka asyik mengobrol Nando datang menemui Safiya yang masih bicara sama Rara.
"Fiya, boleh minta tolong ngak. Tuh anak-anak lagi pada sibuk."
"Boleh kak," jawab Safiya.
"Kertas hvs nya habis, tolong beli didepan nih uangnya."
Safiya mengangguk. "Baik. Kak."
Safiya berjalan ke arah jalan utama, agak jauh sih tapi dia tetap akan memberikannya, juga ini terakhir ospek mungkin setelahnya Safiya tak perlu bekerja tertalu berat. Hampir sepuluh menit Safiya masih ditempatnya mobil begitu ramai juga beberapa pengendara motor berlalu lalang di depan Safiya. Safiya kesulitan untuk menyebrang. Tiba-tiba Samuel langsung menarik paksa tangan Safiya, Safiya yang terkejut berusaha melepaskannya namun tidak sanggup karena Samuel begitu kuat menggenggamnya. Dan Samuel membawa Safiya ke seberang jalan.
Safiya hanya terpaku saat melihat laki-laki itu begitu perhatian dengannya.
"Kakak, maaf harusnya tak bantuin saya." Ucap Safiya saat sampai di sebrang jalan.
"Tapi kami butuh kertas itu cepat, Fiya!"
Samuel menjelaskan dengan jantung berdetak lebih cepat, sedikit cemas.
Sejenak Safiya menghela napas panjang. Berusaha menormalkan emosinya setelah karena Samuel tak kunjung melepaskan tangannya.
"Oke tapi lepasin tanganku! malu dilihat orang!" Safiya mulai kesal ketika mencoba melepaskan tangannya dari genggamannya.
"Maaf." Akhirnya, Samuel pun terpaksa melepaskan tangan Safiya.