Kamar Tidur Sempit

1234 Kata

Abram memarkir mobilnya membeli beberapa bungkus makanan. Juga membeli banyak buah-buahan untuk Ayah Safiya. Dan mereka kini kembali masuk mobil melanjutkan perjalanan. "Mau apa lagi, Sayang?" tanya Abram yang duduk dijok depan. Terlihat wajah Safiya kini tersenyum ke arah suaminya. "Sudah, Om. Itu kebanyakan malah." "Ngak papa," sahut Abram sambil mengemudikan mobilnya. Hening. "Sayang," panggilan Abram membuatnya menoleh. "Ya, Om." "Kamu marah?" Safiya malah tertawa lepas. "Kenapa bilang begitu? Marah soal apa?" "Dari tadi diam saja. Apa ada yang kamu pikirkan?" "Om nggak bisa nyetir sambil ngobrol, Fiya baik-baik saja kok." "Oh oke! " Abram jadi sedikit lega mendengar jawabannya. Kembali terdiam. Abram fokus ke arah jalan. Justru Safiya yang sedikit gelisah soal cerita

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN